Showing posts with label ESAI. Show all posts
Showing posts with label ESAI. Show all posts

Saturday, January 4, 2014

ASEAN Community 2015 : Siap, Tidak Siap, atau Berharap Siap?

oleh : Raniansyah
Aku tertawa kecil meninggalkan Auditorium baruga A.P pettarani hari ini (3 Januari 2014) setelah mengikuti Seminar Nasional bertema "Daya Saing Bangsa : Perspektif Ekonomi Digital dan Hegemoni Politik dalam Era ASEAN Community 2015" yang menghadirkan Hatta Rajasa (Menteri Perokonomian RI), Letnan TNI (Purn) Sutiyoso (mantan Gubernur DKI Jakarta) dan Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sul-sel) sebagai pemateri. Masih ada pertanyaan yang mengganjal di kepalaku, pertanyaan yang sangat sederhana mengenai ASEAN Community, mungkin juga terlalu polos untuk kategori seorang Mahasiswa, “Kita sudah siap?, belum siap atau berharap untuk siap?. Aku sedikit kecewa sebenarnya, dialog interaktif sekelas ini hanya diberi kesempatan kepada tiga orang penanya. Namun tak apa, toh setidaknya aku sudah bisa memprediksi kesiapan Indonesia menghadapi tantangan besar 2015.
***
       Hari ini (3 Januari 2014) bertempat di Auditorium kebanggaan Kampus Merah (Universitas Hasanuddin), Baruga A.P. Pettarani, orang banyak berbicara harapan, harapan dan harapan. peluang, peluang dan peluang menghadapi ASEAN Community 2015. ".... Kita harus melihat ini sebagai peluang," kutipan kalimat Hatta Rajasa tersebut, coba menghentikan sekelumit pikiran ‘hambatan’ yang mungkin menggema di kebanyakan batok kepala peserta seminar. Bahkan menurutku dari tiga pemateri yang ada, hanya Hatta Rajasa yang sangat optimistis menghadapi ASEAN Community 2015, itupun menurutku hanya ‘harapan siap’ bukan ‘benar-benar siap’.  Gelak tawa mewarnai seminar ketika Sutiyoso berbagi cerita tentang latihan militer di luar negeri, “di sana latihannya seperti perang beneran, di Indonesia kalau latihan, bunyi senjatanya dari mulut, ..dor!,,dor!.. primemori” ungkap beliau sambil memperagakan. Cerita beliau sebenarnya merupakan gambaran ‘hambatan’ yang dialami Indonesia, hal yang sama pun ditunjukkan oleh Syahrul Yasin Limpo ketika mengungkap data tentang SDM Indonesia yang jauh tertinggal di banding negara-negara Asia Tenggara yang lain. Pun aku membenarkan hal itu karena beberapa bulan lalu aku memang sempat membaca sebuah data yang mengungkap bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada di peringkat 9 dalam 10 terendah di Asia Tenggara.
Banyak hal yang mengundang pertanyaan pada seminar kali ini, salah satunya yang berkaitan dengan Pemilu legislatif dan presiden 2014, katanya kalau kita ingin menyukseskan ASEAN Community, pemimpin yang terpilih beberapa bulan mendatang harus yang benar-benar mampu melakukan pembenahan di Indonesia. Olehnya itu, rakyat jangan sampai salah memilih lagi. Pertanyaan yang kemudian timbul, kalau rakyat salah memilih lagi? bagaimana? Kalau ASEAN Community gagal bagi Indonesia, bagaimana? Siapa yang mesti bertanggung jawab menanggung resikonya?.  Apakah kita akan menyalahkan rakyat yang salah memilih? ataukah kita biarkan rakyat kecil yang menanggung semuanya? Membiarkan neoliberalisme kapital semakin meluluhlantahkan jutaan rakyat berperut tipis.
Teringat sebuah analogi pilihan yang mungkin cocok untuk Indonesia  “ketika kau akan mengarungi samudera, tetapi perahumu banyak kerusakan, apakah kau akan tetap berlayar sambil menambal bagian-bagian yang rusak itu? atau kau memilih untuk memperbaiki perahu itu, sampe benar-benar siap untuk dipakai berlayar? Ini samuderaloh bro!,”. Resiko tenggelam sangat besar, dan kalaupun aku yang diberi pilihan, pasti aku memilih untuk memberbaiki perahu dulu ketimbang melanjutkan perjalanan karena peluang tapi karam karena ‘hambatan’. Hmm.. ternyata Pilihanku dan pilihan negara ini (lebih tepatnya pilihan para pemutus kebijakan) berbeda, negara ini lebih memilih berjalan mengarungi samudera dan memperbaiki perahu dalam perjalanan,  menatap sejumlah peluang di seberang tanpa terlihat memperhatikan ‘hambatan’ yang bisa berakibat fatal. Walau terkadang aku egois bahwa pilihanku yang harus benar, tapi untuk kali ini aku berharap langkah yang diambil oleh negara ini sudah tepat, walau masih ada setumpuk ‘ketakutan’ yang menghantui akan karamnya Indonesia dalam ASEAN Community 2015, seperti karamnya kita dalam beberapa persaingan sebelumnya. *Ahh…ini sungguh mimpi buruk.
***
Beberapa hari lalu, Detesemen Khusus 88 Anti Teror berhasil menangkap 6 teroris di Ciputat, ini masih sedikit dibandingkan teroris-teroris lain yang belum tertangkap. Yang artinya, Indonesia masih berada dalam ancaman keamanan. Dari segi Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia masih berada dalam tingkat rendah di Asia Tenggara, ini berarti SDM kita belum siap. Dari sektor pengelolaan sumber daya alam pun kita masih terkendala teknologi dan ilmu pengetahuan. Lalu apa yang siap untuk mengadapi ASEAN Community 2015?.  Para pemateri menjawab : Inovasi, pendidikan, dan Pemimpin Bangsa yang sesungguhnya. Tapi dapatkah kita memenuhi itu hanya dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun?, sementara sejumlah negara-negara Asia seperti Singapura dan Malaysia telah melakukan hal itu jauh sebelum kita memikirkan ide itu.  Timbul pertanyaan kemudian, kita sudah siap, tidak siap atau berharap untuk siap?. Bukan pesimistis, bukan pula takut persaingan atau takut hambatan, tapi bagiku…bangsa ini benar-benar belum siap menghadapi ASEAN Community. Tapi apa daya?, ASEAN Community tidak mungkin dibatalkan Indonesia dan Pasti berjalan 2015 mendatang, kecuali tahun ini kiamat.
***
Setiap individu hanya perlu berbenah diri mempersiapkan segalanya untuk sebuah tantangan ASEAN Community 2015 yang berani diambil Indonesia. Memang selalu hanya ada dua pilihan. Nah, kali ini pilihannya, berbenah atau berkemas?, kita memilih berbenah diri lalu bersaing unggul 2015 mendatang atau berkemas barang karena ditendang orang asing keluar dari rumah kita sendiri, yang lebih menyakitkan lagi, kita bertahan tapi jadi pembantu. *Ahh…ini juga mimpi buruk.

Makassar, 4 Januari 2014

Monday, November 18, 2013

Esai : Masak nasi tak mampu, kenapa berharap makan nasi Goreng?

Oleh : Raniansyah

            Sendiri di kosan hari ini (sabtu, 16 November 2013), memberiku inspirasi untuk menulis hal ini, aku begitu antusias membaca sebuah e-book berjudul “Catatan Bangsa yang Aneh” karangan Khusni Mustaqim yang kudapatkan dari blog ‘berpikirberbeda.blogspot.com’. Emosiku kian memuncak membaca setiap kata yang dirangkai begitu kritis. Aku berguman, negeri ini memang aneh, bangsa ini memang aneh, dan semua yang terjadi di Negara bernama ‘Indonesia’ ini sangat aneh. Inilah negeri kami yang aneh, negeri yang selalu mengagungkan kata-kata namun lupa untuk bertindak, negeri yang selalu bangga dengan aspirasi namun lupa untuk beraksi. Negeri omong kosong yang terlalu banyak membual, yang tidak pernah bisa ‘mengatasi masalah tanpa masalah’ seperti pegadaian dan tidak pernah mampu ‘talk less do more’ seperti slogan salah satu iklan rokok.
***
Jangankan makan nasi goreng, menanak nasi saja tak mampu, itulah ungkapan untuk negeri yang sering disebut kaya ini (katanya), selalu bercita-cita tinggi, sering berangan kelewatan, giat berharap namun tidak pernah berusaha dan bertindak. Sering diagungkan Indonesia punya 17 ribu lebih pulau yang terbentang dari sabang sampai Merauke, terlalu sering diucapkan Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Brazil, selalu didengar berita pelajar Indonesia juara olimpiade internasional, namun apa arti semua itu bagi Indonesia?. Toh pulau-pulau kita lebih banyak dikelola perusahaan asing, bahkan akibat ketidakpedulian kita, pulau kita diklaim dan direbut oleh Negara tetangga, ingatkan kita dengan mirisnya kehilangan Sipadan dan Ligitan?, laut kita yang kaya, toh! lebih banyak dinikmati orang asing, pelajar kita yang pintar dikirim ke luar negeri untuk belajar dan mengabdi di sana, bapak Habibie yang sering kita bangga-banggakan toh! sekarang bukan warga Negara Indonesia lagi, begitu bangga memiliki gelar sarjana atau magister luar negeri karena produk sarjana lokal yah…bisa dibilang tidak mampu bersaing. Akhirnya karena ketidakbanggaan kita pada negeri sendiri, kita sendiri lebih bangga memakai produk asing dibanding produk lokal, kekayaan alam negeri ini kita percayakan pada orang asing untuk mengelola dan kita biarkan mereka menarik keuntungan sebsar-besarnya lalu kita diberi sedikit. Mahasiswa kita terlalu sering nitip absen kepada teman duduk di kelas karena malas masuk belajar, terlalu sering tugas kelompok dkerjakan oleh seorang saja, sangat terbiasa belajar hanya untuk mengejar nilai bukan mengejar ilmu, mengejar IPK 4.00 sebagai berita berharga untuk orangtua walau mereka tidak pernah tahu bagaimana kemampuan kita?
***
Apalagi yang dapat dibanggakan dari bangsa ini? Presiden cengeng, yang sering mengeluhkan gaji?, yang terlalu sering curhat sampai lupa untuk bertindak? Presiden yang bisa buat lagu namun lupa menengok kesejahteraan rakyatnya?. Itukah?. Mahasiswanya?, mahasiswa anarkis yang suka bakar kampus sendiri? Mahasiswa yang sering bentrok dengan rekan sendiri? Mahasiswa yang sering menjudge buruk mahasiswa dari daerah lain, walaupun tidak semua berperilaku demikian? Itukah? Masihkah jiwa-jiwa persatuan mahasiswa 98 ada di tanah ini, mahasiswa yang ditakuti pemerintah…BUKAN mahasiswa yang takut pada pemerintah?. Nampaknya itu hanya harapan semu, karena persatuan kita sudah terpecah dengan egoisme kedaerahan, dan kini ‘Bhinneka tunggal ika’ itu patut dipertanyakan. Apa yang dapat dibanggakan? Rakyatnya? Rakyat yang sering mengeluhkan banjir, namun tidak absen buang sampah sembarangan, rakyat yang sering marah-marah karena macet namun tak jarang melanggar lalu lintas, rakyat yang mengeluhkan kenaikan BBM namun tak lupa menimbun BBM untuk mencari keuntungan sendiri. Aparatur negaranya? Beberapa hari yang lalu, melalui situs berita tribunnews.com, aku membaca berita oknum polisi militer ditilang oleh polisi lalu-lintas karena menerobos jalur busway, di situs berita yang sama beberapa hari sebelumnnya terdapat berita oknum polisi lalu-lintas ditilang oleh polisi lalu lintas karena pelanggaran yang sama. Benar-benar lucu..hahaha. dan tentu tidak akan lupa dengan berita Si Akil, sang ketua Mahkamah Konsitusi yang korup dan pengguna narkoba, benar-benar memiriskan.

Apalagi yang dapat kita banggakan? Budayanya?, disaat kita dirasuki ‘hip-hop dance’  shuffle dance’ atau ‘gangnam style’ kita telah melupakan gamelan yang ternyata dipelajari oleh sebuah komunitas di London, Inggris. kita mengabaikan ‘Reog Ponorogo’ yang sempat diklaim negara asing, kita melupakan ‘Tari zaman’ yang membuat mata dunia melongo. Disaat kita asik membaca novel Harry Potter, kita lupa menengok kalau kita punya ‘La Galigo’ yang merupakan dongeng terpanjang di dunia yang teaternya dipentaskan di kanca International, sutradaranya orang asing, bukan orang Indonesia. Analoginya,..Kita biarkan orang asing mengambil tikar kita yang sebenarnya bagus cuman jarang dicuci dan mereka mencucinya lalu membentangkannya di Negara mereka, lalu kita biarkan mereka membentangkan tikar mereka di tanah kita, tikar mereka yang sekilas terlihat bagus namun sekali dicuci akan luntur dan kusut, namun kita tidak pernah menyadari itu, karena sekolah mereka jauh lebih baik daripada kita, pendidikan mereka jauh lebih baik daripada kita, sehingga kita terlalu mudah untuk dibodoh-bodohi, Masihkah negeri raksasa ini tertidur? Ataukah kita masih mengucek-ucek mata karena baru terbangun?. Banyak yang bisa dibanggakan, namun mungkin kita memang tidak pernah mau bangga.

. ketika kita selalu berharap makan nasi goreng disaat kita belum mampu menanak nasi…apakah pantas?. 2015 tidak lama lagi kawan, ASEAN Community sudah di depan mata, itu tandanya persaingan akan semakin ketat, dan ketika kita masih tertidur, siapkah kita menjadi pembantu di negeri sendiri? Siapkah kita tinggal jadi penonton melihat orang asing menarik keuntungan sebesar-besarnya dari negeri kita?, dan siapkah kita meringis kesakitan karena tak ada lagi yang dapat kita nikmati dari negara kita sendiri? Buka mata kita, dunia melirik kita, kita negeri raksasa yang masih terlelap. Andai kita seperti manusia-manusia Jepang dan China, pasti Indonesia adalah Negara terkaya, sebuah catatan yang kupetik dalam e-book ‘Catatan Bangsa yang Aneh’ yakni siapapun presiden dan pejabat pemerintah yang kita bawa untuk memerintah di Indonesia, tidak akan mampu merubah wajah negeri ini jika seluruh individu tidak berubah dari sifat buruknya, Bill Gates bukanlah pejabat pemerintah, Bill Gates bukan menteri Teknologi, tapi Bill Gates hanya orang biasa yang mau berusaha untuk negaranya.Hmm..! andai kita berpikir seperti itu…

Makassar, 16 November 2013



Sunday, November 10, 2013

Mungkinkah Pahlawan Tak Lagi di Sini??

oleh : Raniansyah
Ada yang berbeda hari ini (10 november 2013), seperti ada sesuatu yang ganjil. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah, yah..hari ini adalah hari pahlawan, dimana pada waktu itu semangat bangsa Indonesia bergelora untuk melawan penjajah, hidup atau mati yang pasti kemerdekaan adalah harga mati dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, waktu itu pemuda dan para pejuang memang tidak memiliki persenjataan yang kuat, tapi para pejuang saat itu memiliki semangat yang sangat disegani oleh penjajah. hasil dari perjuangan itulah yang kita nikmati hari ini, kaum manusia yang mungkin bisa dibilang tidak bersyukur dan/atau mungkin bisa dibilng terlalu manja dan cengeng,  tahukah kita berapa jiwa melayang demi memperjuangkan kemerdekaan ini, lalu inikah balasan yang kita perlihatkan hari ini? Inikah penghargaan yang kita berikan? Inikah wajah pemuda negeri saat ini, yang cengeng, manja dan tidak tahu arti perjuangan? Inikah wajah negeri yang  dicita-citakan dulu oleh para pejuang yang rela mati demi bangsa ini? Inikahh? Inikah? Aaaah….INIKAH !!!?
***
10 November 2012, aku berdiri di tribun lapangan Citra Mas Kabupaten Pangkep,  di antara jajaran pejabat daerah, veteran dan tamu undangan, aku berdiri tegap membacakan pesan Pahlawan Sultan Hasanuddin, pesan Sultan Hasanuddin  yang masih aku ingat waktu itu adalah ‘Aku dan raja Bone bukanlah musuh,”. Ada hal menarik yang kudapatkan kala mencari referensi tentang pesan-pesan ini, sebagian literatur menuliskan jika sultan Hasanuddin mengatakan “Aku dan raja Bone bukanlah musuh,” namun literatur lain menuliskan jika Sultan Hasanuddin mengatakan “Aku dan raja Bone adalah musuh,”. Yang lucu dari hal ini karena yang menuliskan “Aku dan raja Bone adalah musuh,” adalah buku dari Belanda yang katanya dikutip dari Lontara yang dibawa lari ke Belanda waktu itu. Belanda adalah salah satu negara yang pernah menjajah kita dengan sistem adu dombanya, lalu akankah aku akan percaya dengan literatur dari Belanda itu?, yang jelas akan memungkinkan atau mengundang permusuhan antara orang Bugis dan Makassar,  mungkinkah literatur itu ada untuk mengadu domba orang Bugis dan Makassar?.  Diceritakan dalam literatur Belanda tersebut (mohon maaf aku lupa nama bukunya) katanya Arung Palaka dari kerajaan Bone yang berlatar Bugis merupakan pengkhianat dan musuh Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa yang berlatar Makassar, lalu sesaat sebelum meninggal katanya Sultan Hasanuddin mengatakan “aku dan raja Bone adalah Musuh,”.  Ada juga literatur yang mengatakan bahwa Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka adalah sahabat yang selalu berusaha diadu domba oleh penjajah, karena jika mereka bersatu mereka akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa dan sesaat sebelum meninggal, Sultan Hasanuddin mengatakan “aku dan raja Bone bukanlah Musuh,”. Dari kedua tulisan  itu, literatur manakah yang harus atau pantas kita percaya?.  Yang jelasnya waktu itu aku memilih untuk percaya pada literatur non Belanda, keyakinan hati lebih mengarah kesana dan yang menambah keyakinan itu, ketika aku berbalik ke arah jajaran veteran dan mereka mengangguk-angguk mendengarkan pesan yang kubacakan, yah…setidaknya jiwa pejuang dan pengalaman sejarah mereka mampu memberi nilai tambah padaku melalui anggukan itu. Pertanyaan yang lebih mendalam lagi, akankah pahlawan seperti Sultan Hasanuddin di penghujung hidupnya mengatakan  “Aku dan raja Bone adalah musuh,”, sesuatu yang memungkinkan permusuhan?. Coba tanya diri kita, apakah ada…manusia yang di nafas terakhirnya mengucapkan pesan yang mengarahkan ke sesuatu yang negatif seperti permusuhan? Apalagi sosok seorang pahlawan. Rasanya sulit diterima secara rasional. Mungkinkah kita memang selalu berupaya diadu domba? Hmm…entahlah!
***
Hari ini (10 November 2013), di tanggal dan bulan yang sama tahun lalu…aku membacakan pesan Pahlawan Sultan Hasanuddin dalam upacara peringatan hari pahlawan. Sangat jauh berbeda dengan hari ini, hari ini aku juga berdiri namun tidak sebagai pembaca pesan pahlawan namun sebagai pengawas ruangan untuk kegiatan try out yang diadakan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin. Pelajaran berharga hari ini adalah mungkin memang generasi sudah tidak lagi mengingat dan menghargai perjuangan para pahlawan kita dulu, apa buktinya? Di ruangan yang aku awasi, ada beberapa peserta yang selalu berupaya curang, buka handphone dan atau berbalik ke arah kiri-kanannya mencoba mencari contekan, beberapa kali aku menegur, namun beberapa kali juga perbuatan itu diulangi. Hmm…benar-benar memiriskan, bisa-bisanya hari bersejarah dan penuh perjuangan ini dihiasi dengan ketidakjujuran, dicemari oleh generasi tidak tahu malu yang hidup hanya seperti benalu. Dimana lagi jiwa-jiwa nasionalis yang selalu membuat merinding itu? Rasanya cukup pesimis untuk mencari dimana ‘nasionalisme’ itu kini berada. Mungkinkah tak ada lagi pejuang/ nasionalis yang akan melanjutkan perjuangan cita-cita bangsa ini?. Mungkinkah pahlawan memang tak lagi disini? Walau hanya secuil…Mungkinkah?
Hari ini, aku cukup lega, ada yang cukup membangunkan semangatku untuk tetap optimis, motivasi itulah yang menggerakkan jemariku untuk mengetik tulisan ini. Dia adalah Kak Said, salah satu sosok yang cukup kutakuti pada masa-masa masih baru bergabung sebagai keluarga mahasiswa Fakultas Hukum Unhas, namun perlahan ketakutan itu berubah menjadi kekaguman dan harapan bisa seperti beliau, Sederhana tapi punya pemikiran yang luar biasa yang tidak semua mahasiswa atau pemuda hari ini memiliki itu.  Magang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hari ini, memberiku banyak pelajaran berharga, yah!…setidaknya aku dan kawan-kawan yang ikut hari ini secara tidak langsung telah memperingati hari Pahlawan dengan hal yang positif. Jadi anggota BEM atau tidak itu urusan kedua, pastinya ikut kegiatan diskusi hari ini memberikan manfaat yang luar biasa,  bisa dibilang sangat rugi lah yang tidak ikut, materi dimensi kemahasiswaan yang dibumbui oleh kak  Said dengan sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda, serta pandangan terhadap generasi atau pemuda hari ini, memancing untuk mengangguk dan berkata “iya di’,”. Membangkitkan gelora untuk tetap optimis memperjuangkan cita-cita yang diingikan oleh kaum terdahulu yang rela berkorban jiwa raga demi bangsa ini.  Walau hari ini, wajarlah kita pesimis dengan keadaan, tapi setidaknya kita masih pantas optimis dengan masih adanya orang-orang seperti Kak Said, dan pasti masih banyak orang seperti beliau diluar sana, InsyaAllah saya pun akan seperti beliau dan semoga pembaca sekalian pun masih memiliki ‘nasionalisme’ itu di dalam relung hati. Buatlah hari ini menjadi indah, buatlah pejuang terdahulu kita bangga melihat perjuangan kita hari ini dan buatlah bangsa ini bangga memiliki kita.

SELAMAT HARI PAHLAWAN
TERIMA KASIH UNTUK PEJUANG YANG MASIH ADA HARI INI.


Tuesday, November 5, 2013

Essai :Pancasila? Doa semu.

Oleh : Raniansyah (ASAS 2013)
Inilah negara kapitalis-liberalis
sering saja disebut Negara demokratis
selalu saja menangis, slalu saja meringis
karena derita yang begitu miris
Andai rasa bisa optimis
hapuskan semua rasa pesimis
walau  jejak langkah teriring tangis
walau tapak kaki diikuti gerimis

ini bukanlah senandung vokalis
yang terdengar harmonis
ini bukan pula karya penulis
yang kadang sangat puitis
tapi ini suara rakyat yang saat ini bernasib ’tragis’
“Pancasila itu ideologi terbaik, karena pancasila lahir dari penggabungan dua ideologi besar, yaitu Liberal (thesa) dan Komunis (antithesa) dan terbentuklah Pancasila (Synthesa),” terang bapak Idris Buyung dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum, pertengahan september lalu. Benarkah pancasila sebagai Ideologi terbaik? Lantas apa penyebab semua keterpurukan dan kebobrokan yang saat ini melanda negeri ini?  Bukankah Ideologi adalah pondasi sebuah bangsa….? Kalau Pancasila kuat, mengapa Indonesia seolah berada di garis batas kehancuran?
***
Orang bijak sering berkata, “perkataan adalah doa,”  teori yang diucapkan pun bisa jadi doa, dan itulah yang mungkin terjadi pada Pancasila. Pancasila hanya doa, doa yang terkadang sangat jauh dari harapan, doa semu yang terlalu sulit bersanding dengan Ikhtiar  atau usaha, malahan  justru terlalu sering bersanding dengan sikap, perilaku, perbuatan atau perkataan nyeleweng yang  jauh dari nilai-nilai yang diharapkan.  “Ketuhanan Yang Maha Esa kenapa belakangan ini jadi keuangan yang maha kuasa?,  kemanusiaan yang Adil dan beradab, kenapa kebengisan ada dimana-mana?, Persatuan Indonesia, kenapa separatisme, bentrok dimana-mana? Kerakyatan jadi elitisme, demokrasi menjadi bagian dari industri, sementara keadilan Sosial masih dipertanyakan,” tanggap Hasyim Muzadi (tokoh agama) dalam acara “Suara Anda : Suara Konstitusi” MetroTV beberapa tahun lalu. Itukah yang diharapkan dari ideologi kita yang terbaik (katanya)?. Benarkah yang dikatakan oleh Hasyim Muzadi?? Entahlah…!hati dan pikiran rasional kita pasti mampu menjawabnya.
***
Rabu, 2 Oktober 2013. Sekelompok mahasiswa terlihat berbincang santai di pelataran sekretariat BEM Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin. Mereka menyebut diskusi santai mereka dengan sebutan ‘diskusi pelataran’, kegiatan diskusi itu merupakan follow up Pembinaan Mahasiswa Hukum 2013 tahap pertama yang telah sukses terlaksana 28-29 september lalu. Hmm…yang penting dari diskusi kali ini, adalah materi bahasan tentang  “Pandangan Dunia : Ideologi”.  Beragam pertanyaan dan komentar bermunculan seiring  jalannya diskusi, yah..!! itulah mahasiswa Fakultas Hukum, rasa ingin tahunya bisa dikatakan ‘extra ordinary’ gitulah ! hehe.  Dari diskusi kali ini, setidaknya lahir lagi setitik kepedulian pada tanah air  tempat kami berpijak saat ini, sebuah keprihatinan dari mahasiswa yang masih semester satu, entah sampai kapan keprihatinan itu akan bertahan. Pastinya dengan harapan, mereka akan tetap memegang erat keprihatinan itu sepanjang hidup mereka, apalagi jika diantara mereka ada yang jadi pemimpin atau orang penting yang dimiliki bangsa ini di masa mendatang.
***
Terlalu bangga, yah!...sangat bangga bersembunyi di balik ideologi terbaik berlabel ‘Pancasila’ namun tak tahu bahwa saat ini Pancasila hanya sekedar landasan teori normatif semata yang  tak mampu menemukan  ‘jati diri’ empirisnya .  karena siapa? Bukan salah pancasila, tapi salah manusia yang menganggapnya sebagai landasan hidup, pandangan hidup…tapi sering melakukan penyelewengan yang sangat kontras dengan nilai-nilainya. Akhir-akhir ini berkembang sebuah virus baru bernama ‘neoliberalisme’, sebuah upaya pennggelapan ideologI liberalis-kapital dengan cara baru di Negara yang katanya demokratis ini. Apa buktinya? Mini market dimana-mana, akhirnya usaha rakyat kecil menjadi hancur….yang punya modal besar  berkuasa sementara yang bermodal kecil dibiarkan mati usaha lalu akhirnya busung lapar dan mati kelaparan. Yang besar menindas yang kecil, yang kuat menindas yang lemah. Sementara Pemimpin negeri sibuk menciptakan lagu disaat rakyat sangat butuh perhatian konkret. memangnya lagunya itu bisa menyembuhkan orang busung lapar?, memangnya lagunya itu bisa membuat kaya, orang miskin? Memangnya lagunya itu bisa mempekerjakan pengangguran? Tidak…!!. Pemimpin kita sudah terjajah paradigma barat yang mereka tidak sadari, apa itu?  “King can do no wrong” , raja atau pemimpin dapat melakukan apapun tanpa bersalah, ataupun sekedar rasa bersalah. Masih butuh bukti? Lihatlah pemimpin kita melemparkan makanan ditengah-tengah orang kelaparan, membiarkan mereka berebutan, saling berdesakan, dan akhirnya terinjak-injak, sementara dia tetap tersenyum diatas kursi tahtanya, yah…itulah analogi pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakarat (BLSM) yang berlangsung ricuh beberapa waktu lalu lantaran kebanyakan tidak tepat sasaran. Prihatin, saya turut hadir dalam proses penerimaan BLSM itu di beberapa kecamatan di Kabupaten Pangkep untuk menyaksikan proses itu sendiri secara langsung. Sangat ironis, karena semua kecamatan yang kukunjungi pasti ada kasus ‘tidak tepat sasaran’ bahkan di salah satu kecamatan, ada seorang wanita paruh baya menangis terisak-isak datang ke kantor camat karena pantas mendapat bantuan itu tapi justru tidak memperoleh. Inikah cara baru pemerintah menyakiti rakyat?. Pemandangan miris yang dapat pula disaksikan adalah nenek-nenek jompo yang berdesakan separuh nyawa, ada orang  cacat yang datang merangkak…karena katanya tidak dapat diwakili semua demi duit 300 ribu, inilah cara baru pemerintah menyakiti rakyat kecil.
Benar!, pancasila sekarang hanyalah doa, doa semu yang jarang diaplikasikan dan diusahakan. Pancasila hanya sekedar teori yang  berusaha berdiri setelah dihantam neoliberalisme-kapitalis dahsyat yang telah menumbuhkan akar-akarnya di negeri tercinta ini . entah kapan akan dicabut, entah kapan akan enyah dari bumi ini,  entah kapan Pancasila itu bukan lagi sebagai doa, tapi sebagai fakta.
Bumi huruhara ini masih tetaplah bumi huruhara selama Pancasila itu hanya teori yang tidak menemukan jati diri empirisnya. Tak ada ideologi terbaik untuk Negara kita selain Pancasila, tapi mengapa kita masih saja terjajah dalam lelap tanpa sadar paradigma asli kita telah dimusnahkan oleh rudal-rudal dan meriam-meriam ideologi yang tidak seharusnya ada di negeri ini.

Makassar, 2 Oktober 2013

Friday, June 7, 2013

Salahkah Profesi Pengacara???


Salahkah Profesi Pengacara???
oleh : Raniansyah
               
Hari ini aku sejenak merenung dan kembali berpikir tentang cita-citaku menjadi seorang pakar hukum, aku sebenarnya tak begitu bercita-cita untuk menjadi pengacara, hakim, atau jaksa karena itu pekerjaan berat , bagaimanapun aku tahu…hanya keputusan Tuhan yang bisa benar-benat adil, bukan keputusan hakim, jaksa ataupun pembelaan sang pengacara terhormat. Entah mengapa pikiran seperti ini kembali menghantui pikiranku….jadi apa aku nanti? Bisakah aku berguna untuk orang lain? Dapatkah aku membuktikan bahwa aku bisa menggapai yang kuinginkan? Atau malahan aku jadi benalu yang tidak tahu malu?? Ahh,…aku takut mengecewakan orang-orang sekitar yang selalu mendukungku, aku takut menjadi orang yang hanya mengejar materi tanpa peduli perasaan dan nasib orang lain….aku khawatir menjadi orang yang membawa petaka bagi orang lain….aku tak ingin jadi orang sombong diatas kursi tahta yang ingin kuemban nanti, aku tak mau kelak merendahkan dan meremehkan orang lain karena apa yang kumiliki. Tak ingin kubayangkan menjadi mereka, deretan kalangan atas yang selalu kukritik dan kucela saat ini. Aku….aku….tak dapat berucap lagi..seribu pertanyaan memenuhi kepalaku.
***
                Akhir-akhir ini banyak yang menanyaiku tentang pendidikan yang ingin kutempuh setelah lulus SMA, yah..! jawabku simple aja ‘fakultas hukum’.  Mendengar jawabanku, sepertinya kebanyakan orang bahkan mungkin semua berpikir kalau aku ingin jadi pengacara, “apakah hanya bisa jadi pengacara kalau di jurusan hukum?,” tanyaku dalam hati, kan banyak juga profesi lain, misalnya dosen hukum, notaris, legislatif, dan PNS. Lantas kenapa jurusan hukum mesti dikaitkan dengan pengacara? Ada apa sebenarnya dengan pengacara? Sebegitu dekatkah pengacara dengan hukum? Atau malahan pengacara yang sering ‘mengkhianati’ hukum?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku, di jaman edan sekarang ini, pengacara memang eksis karena selalu muncul di layar televisi menjadi juru bicara klien mereka yang terjerat kasus hukum, mantan aparat hukum besar sekelas Susno Duadji pun memiliki pengacara, tapi yang patut diherankan adalah adakah pengacara untuk si pencuri singkong? Adakah pengacara untuk si pencuri sandal jepit? Tak ada!, karena mereka tak berduit karena mereka tak mampu membayar pengacara.
***
                Aku sama sekali tak berniat jadi pengacara, karena sebenarnya aku sempat menaruh rasa benci terhadap profesi ini. Mereka itu orang intelek, seorang akademisi….namun mengapa prinsip yang dulunya “maju terus, pantang mundur..membela yang benar” mereka ubah jadi “maju terus, pantang mundur membela yang bayar,”. Hmm..fenomena inilah mungkin yang membuat orang banyak tidak suka dengan profesi pengacara. Saya terperanjak kala mendengar ucapan seorang teman beberapa waktu lalu “kudukungko di jurusan hukum, asalkan jangan jadi pengacara….biar orang salah nabela tong,” itu katanya. Sepertinya banyak orang telah berpemikiran demikian, pengacara telah dijudge sebagai profesi yang salah. Kebanyakan yang terlihat di layar mungkin menjadi sampel yang buruk bagi publik sehingga mengjudge ‘pengacara’ sebagai profesi yang salah, padahal tidak semua pengacara demikian, tidak semua pengacara materialistis. Seharusnya pengacara memang tidak dijadikan sebuah profesi tetap, tetapi pengacara seharusnya dijadikan pekerjaan mulia sukarela dengan memberikan bantuan pembelaan hukum kepada orang benar dan pantas dibela, bukan justru dijadikan Profesi yang walaupun salah tetap dibela, tapi publik juga harus sadar bahwa tidak semua pengacara demikian, prinsip sebenarnya adalah pengacara mencoba melakukan pembelaan kepada seseorang yang terjerat kasus hukum dengan melihat sejumlah peraturan semacam PP, UU, Tap MPR, atau aturan lain yang bisa meringankan hukuman si terdakwa/tersangka, namun jika sudah tidak ada aturan yang bisa membantu si terdakwa/tersangka …maka yang salah tetap salah dan tidak bisa dibenarkan. Itulah sebenarnya mekanisme kerja seorang pengacara, bukan yang sering dituduhkan publik selama ini. Mengenai uang itu nomor dua, karena pengacara saat ini adalah sebuah profesi, sehingga pastilah kalau mau pakai pengacara..Yah! harus punya uang, tetapi harus diyakini bahwa pennegakan supremasi hukum itu nomor satu. Tak ada pengacara yang bisa membenarkan sesuatu yang salah, kalaupun pengacara materialistis memang ada, publik seharusnya membuka pikiran bahwa semua tidak demikian, dan sampel tidak dapat dijadikan acuan untuk mengjudge buruk/salah sebuah profesi.
***
                Hukum di Indonesia sekarang memang sangat rentan kolusi dan nepotisme, sangat akrab dengan segala bentuk ketidakadilan, namun bukan berarti sebuah profesi harus disalahkan. Due process of law (Penegakan Hukum sesuai prosesnya dengan Adil) dan Equality before the law (persamaan di mata hukum), dua prinsip yang seharusnya ditegakkan di Negara hukum, justru keduanya yang paling sering dikhianati. “menegakkan hukum tanpa pandang bulu,”  itu sebuah kalimat bermajas tak berarti, terlalu banyak penafsirannya. Segala sesuatu sekarang harus dispesifikkan agar tidak multitafsir, langsung saja  bilang “menegakkan hukum tanpa pandang duit,” karena sekarang orang lebih melihat duit dan dompetnya yang tebal, dibanding capek-capek memperhatikan bulunya…haha. Lagipula yang tersangka kan manusia, manusia itu berambut…BUKAN berbulu..hahaha :D.  Pun aku masuk jurusan hukum bukan berniat jadi pengacara walau aku tahu profesi itu tidak salah, tapi aku ingin bermanfaat saja untuk orang banyak, jadi anggota DPR misalnya…sehingga aku bisa memperjuangkan hak dan aspirasi rakyat, sehingga aku bisa membuat kebijakan yang pro rakyat. Itu saja,.. bukankah membela orang banyak lebih mulia daripada membela satu orang saja, iya kan? J
Pangkajene, 16 Mei 2013
               

Sunday, May 12, 2013

Unggulan atau Andalan??


oleh : Raniansyah
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, Unggul  berarti lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet, dsb); utama (terbaik, terutama) sedangkan Andal berarti dapat dipercaya, tumpuan. Kedua kata ini mengundang pertanyaan besar yang terus membayangi batok kepalaku, betapa tidak? Di kabupaten tiga dimensi ini (Pangkep) akan hadir sekolah baru berlabel ‘Andalan’, sebagai salah satu  pencanangan sekolah berprestasi di Pangkep, padahal baru pada tahun 2009 lalu berdiri sebuah sekolah berlabel ‘Unggulan’ yang juga merupakan pencanangan sekolah berprestasi.
Tahun 2009 lalu, atas inisiatif bupati Pangkep waktu itu, (Alm) Ir.Syafruddin Nur,  berdirilah sekolah bernama SMAN 2 Pangkajene Unggulan Kab.Pangkep, sekolah ini berdiri untuk mengikuti  daerah-daerah lain yang lebih dulu memiliki sekolah unggulan, melihat potensi putra-putri daerah yang tidak kalah dengan daerah lain. Selama beberapa tahun sejak berdirinya, sekolah ini membuktikan prestasi yang cukup membanggakan mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Atas prestasi inilah, masyarakat dan kebanyakan orang lebih mengenal sekolah ini dengan nama SMA Unggulan. Setelah pemerintahan kab.Pangkep berpindah ke tangan Bapak Syamsuddin Hamid pada Tahun 2010 lalu, akhirnya beliau juga berinisiatif membuat sebuah sekolah bernama SMA 2 Andalan Labakkang, awalnya banyak yang mengira bahwa siswa SMA 2 Pangkajene yang akan ditransfer ke SMA 2 Labakkang namun ternyata tidak, SMA 2 Andalan Labakkang juga akan menerima siswa baru dan sekolah ini akan bersaing menjadi yang terbaik di kab.Pangkep.
***
 Jika ditanya mana yang akan lebih unggul, jelas jawabnya ‘SMA Negeri 2 Unggulan Pangkajene’, karena labelnya ‘unggulan’, tapi jika ditanya mana yang lebih diandalkan, maka jelas jawabannya SMA Negeri 2 Andalan Labakkang karena labelnya ‘andalan’, hehe. Pertanyaan yang lebih spesifik, adakah yang bisa menjawab jika ditanya manakah diantara kedua sekolah ini yang akan jadi terbaik di Kab.Pangkep?, manakah yang akan lebih dominan dalam prestasi?. Entahlah…!
Hari ini (Sabtu, 11 Mei 2013), saat sedang online di Facebook, saya membaca komentar bapak Mansyur Eppe (Guru SMPN 1 Pangkajene) dalam sebuah statusnya, “….prestasi dari sebuah sekolah kayaknya mengikuti aturan Fisika, ‘hukum kekekalan Prestasi’ dimana salah satu itemnya berbunyi “jumlah prestasi total adalah tetap, yang berarti jika banyak prestasi dipegang sebuah sekolah maka berarti sekolah lain tidak atau kurang kebagian atau cenderung menurun”…,” itu katanya dalam komentarnya, sejenak saya berpikir lalu membenarkan hal itu dan sangat sepakat dengan komentar itu, hehe. Pertanyaan yang mungkin juga terlintas di benak kita, lalu bagaimana dengan kabupaten yang tidak memiliki sekolah unggulan atau sekolah andalan?. Dalam status yang sama bapak Mansyur juga menuliskan “…..itu bunyi hukum ke (3) yang berbunyi jika dalam sebuah daerah, tidak ada sekolah yang menonjol atau unggul dari sekolah lainnya, maka prestasi cenderung disebarkan dengan sama rata ke semua sekolah…,”. Yah…! Pendapat itu juga sangat tepat.  Hal inilah yang melahirkan inisiatif saya untuk menulis ini dan bertanya-tanya siapakah yang akan lebih baik di kabupaten Pangkep, apakah SMA Unggulan atau Andalan?. 
Kehadiran dua sekolah pencanangan sekolah berprestasi sebenarnya bukanlah masalah, malahan semakin banyak semakin bagus…karena itu berarti putra-putri Pangkep banyak yang cerdas dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bisa ditingkatkan, namun yang ditakutkan adalah munculnya pikiran-pikiran labil seiring persaingan ketat kedua sekolah ini, jangan sampai saling menjatuhkan untuk jadi yang terbaik yang tentu akan menghancurkan putra daerah, padahal keduanya ada untuk meningkatkan eksistensi daerah di dunia pendidikan. Apalagi saya tahu betul pikiran kebanyakan orang Indonesia itu ‘siap menang, tidak pernah siap kalah’, saya juga yang pernah menjalani masa-masa SMA tahu betul, bahwa perasaan anak putih-abu abu itu selalu ingin jadi yang terbaik, semua orangpun ingin jadi yang terbaik dan dalam jiwa tidak mau kalah, sehingga pantas saja kalau melihat seorang anak SMA begitu galau dan kecewa jika kalah dalam kompetisi.
***
Jika menelaah kedua hukum prestasi yang dipaparkan pak Mansyur, maka saya menyimpulkan, jika ada 2 sekolah yang ditonjolkan dalam sebuah daerah, itu berarti prestasi dibagi dan jelas itu merupakan persaingan yang sangat alot dan ketat dan jika salah satu diantara keduanya lebih dominan prestasi maka pasti yang satunya sedikit kurang., dan disinilah SMAN 2 Pangkajene dan SMAN 2 Labakkang akan bersaing jadi yang lebih dominan. ‘Unggulan’ atau ‘Andalan’, itu hanya permasalahan label, esensinya adalah pembuktian siapa yang lebih baik. Siapa yang lengah maka dia yang akan kalah dan tentu! yang tekun dan teliti jadi pemenang.  Sebuah harapan melihat SMA Unggulan dan SMA Andalan bertemu dalam final kompetisi, jelas diantara keduanya, akan ada yang menjadi juara 1 dan itu masih sebuah pertanyaan. Pastinya kompetisi sehat harus tetap dijunjung, apalagi SMA Unggulan dan Andalan ibarat saudara yang sama-sama ingin membanggakan orangtua (daerah).  Keduanya harus mengingat, kehadiran mereka di Pangkep…bukan untuk ‘bertengkar’ tapi untuk berjuang bersama ‘memahkotai’ daerah. Jadi walaupun bersaing, yah…seharusnya tak lupa untuk tetap berangkulan sesama orang Pangkep. Menang-kalah itu persoalan kedua. Rasa Persaudaraan dan persatuan adalah yang utama, menang-kalah yah…! tergantung usaha masing-masing sih!. Kalau nanya saya, maka saya pasti mendukung dan menjagokan SMAN 2 Pangkajene karena itu sekolah saya dan saya baru saja jadi alumni disana, tapi itu jelas subjektif kan??, obyektifnya yah…siapa yang lebih banyak usaha dan doanya lah…. J
Pangkajene, 11 Mei 2013

Sunday, April 7, 2013

Harimau Telah Memakan Anaknya



Oleh : Raniansyah
    T
eringat sebuah kalimat, “seganas-ganasnya seekor harimau, ia tidak akan pernah memakan anaknya,”. Nampaknya kalimat itu patut dikaji ulang, karena banyak sekarang ‘harimau’ yang memakan anaknya sendiri. Aku begitu prihatin melihat nasib bangsa dan Negara saat ini, karena sudah begitu banyak anggota bangsa yang memakan bangsanya sendiri, menjajah bangsa sendiri untuk kepentingan sendiri karena aliran egoisme.
-***-
                Aku rasanya ingin protes, hatiku terus bergejolak…waktu itu pertengahan maret 2013, saat sedang menikmati bakso di salah satu warung di jalan Kemakmuran Poros Makassar-Pare. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang bapak yang juga ikut makan bakso bersama anaknya yang kira-kira berumur 4 tahun, bapaknya makan dengan lahap menikmati semangkok bakso dengan porsi yang lumayan mengenyangkan sementara anaknya dipesankannya 2 ribu rupiah bakso, yah…4 buah bakso, ketika bakso anaknya habis, anak itu merengek minta nambah, sementara bapaknya terus makan dengan lahap tanpa mempedulikan anaknya, ketika anaknya mulai merengek lebih nyaring, tiba-tiba bapak itu membentak anak itu dan mengancam akan memukul anak itu, “diamko…!! sudahmi…! kucambo’ko itu saya,” kata bapak itu dengan wajah geram sambil terus menikmati baksonya, Anak itu terdiam lalu menatap bapaknya menikmati baksonya dengan begitu lahapnya. Ahh…aku terharu…mata anak itu berbinar, hampir saja kuteteskan air mata di tempat itu. Aku berpikir, ternyata di dunia ini masih ada dan mungkin masih banyak orang tua yang mementingkan dirinya sendiri dibandingkan anaknya sekalipun. Tiba-tiba bapak itu menatapku, mungkin menyadari kalau sedari tadi aku memperhatikannya, aku membuang pandanganku mencoba memperhatikan yang lain lalu kembali menyantap baksoku. Yah! peristiwa itu mungkin masih secuil bukti bahwa sekarang banyak orang yang telah hanyut dalam aliran sesat bernama ‘egois’. Aku tahu, akhir-akhir ini berita di TV banyak yang memberitakan tentang kekerasan terhadap anak, ada orang tua yang tega memperkosa anaknya, ada orangtua yang tega menjual anaknya, bahkan ada orangtua yang tega membunuh anaknya. Aku tahu…aku yakin, sekarang harimau sudah terlalu ganas sehingga tega memakan anaknya.  Bahkan kalimat “seganas-ganasnya harimau, ia takkan memakan anaknya,” tak pantas lagi diucapkan dari bibir insan manusia.
-***-
                 Bangsa ini telah dipenuhi oleh harimau-harimau ganas yang tega memakan anaknya sendiri, banyak yang telah jauh melenceng dari nilai-nilai pancasila. Entah apa yang membuat semuanya tergelincir begitu jauh dari rel-rel konstitusi. Bukankah ketuhanan Yang Maha Esa telah tergantikan oleh Keuangan Yang Maha Kuasa??, bukankah kemanusiaan yang adil dan beradab telah teriliminasi dengan keberingasan, premanisme dan hukum rimba??, bukankah persatuan  Indonesia telah digantikan oleh separatisme dan individualism? Permusyawaratan telah jauh dari harapan dan banyak diselesaikan dengan kekerasan dan konflik horizontal? Bukankah keadilan sosial telah ‘terdeportasi’ oleh transaksi suap-menyuap? Bukankah demokrasi kini telah hancur dan amburadul tercampuradukkan dengan Industri. Ahh….akankah bangsa ini siap menghadapi kehancuran?, akankah negeri ini mampu menghadapi ‘gempuran-gempuran meriam’ penjajah bangsa sendiri. Aku mengakui bahwa aksi demonstrasi serta memerdekakan perasaan dan pikiran adalah sesuatu yang wajar dalam Negara demokrasi, namun aku tidak pernah membenarkan tindakan-tindakan yang melenceng dari amanat konsituti alias inconstitutional
Aku sungguh tak habis pikir, di bulan Maret 2013…begitu banyak berita yang membuat mata tercengang dan tak ayal mengundang tanda tanya besar, mulai dari penyerangan kantor polisi oleh TNI, penyerangan Lapas oleh ‘pasukan siluman’ dan kericuhan pemilukada di Palopo, menjadi bukti bobroknya bangsa ini, sekaligus jadi bukti berlakunya hukum rimba di negeri yang katanya demokratis ini, kalau berlaku hukum rimba berarti masyarakatnya primitif dong?, kalau primitif, kok banyak yang ngaku intelek??, kok banyak yang ngaku modern? Tapi kenyataan membuktikan bahwa rakyat saat ini memang masih primitif, bukankah tindakan koruptif termasuk primitif?? Hahaha berarti koruptor yang rata-rata dikenal pintar. Kok bisa yah, primitif?. Mata dan telinga hampir tak menemukan lagi berita-berita yang enak didengar dan membuat hati tenteram, headline-headline media massa didominasi oleh berita buruk, semuanya merisaukan dan tentunya menggalaukan bagi yang punya nasionalisme.
Aku kini semakin kuat dengan pendapatku dalam sebuah essaiku sebelumnya, Jika Indonesia saat ini belum benar-benar merdeka, Merdeka menurutku yaitu ketika seseorang mampu melangkahkan kaki dengan rasa aman dan tenteram, tapi apakah itu yang dirasakan bangsa ini sekarang??, tidak…!! Bang Napi dalam sebuah acara berita sering berpesan “Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan…waspadalaah…! Waspadalah..!,”. Bukankah kata ‘waspada’ mengindikasikan rasa tidak aman atau tidak tenteram, dan itu berarti kita belum merdeka, semua itu terbukti dengan serentetan peristiwa memalukan dan amoral sepanjang Maret 2013. Hanya pantas bertanya, berita buruk apa berikutnya?. Jangan sampai ada yang mengatakan “oh..pantas banyak masalah, karena tahun 2013, sedangkan 13 adalah angka sial,”, enak aja…mau nyalahin angka, jelas-jelas ini kesalahan si dalang berita buruk yang bego, tolol, bodo’…tidak mengerti aturan, memalukan…Ahh…
-***-
                Kita hanya menunggu penerus untuk menjadi pelurus bangsa ini, tapi kalau penerus juga sudah bobrok, apalagi yang ingin ditunggu? Kalau anak harimau telah dimakan oleh induknya, apalagi yang kita tunggu? Bukankah harapan kita sudah pupus?. Ahh…keberhasilan menghadapi tantangan zaman akan menjadi jawaban akan masa depan bangsa ini, tapi sederet peristiwa membuktikan bahwa kita tak mampu melawan tantangan zaman yang cukup kuat.  Kalau sumber hukum tertinggi seperti Pancasila, nilai-nilainya telah jauh melenceng, maka letak Negara hukum Indonesia dimana?? Posisi demokratis dimana?. Sampai botak pun, kita tak mungkin menemukan jawabannya, toh! hukum sekarang hanya tulisan sementara pengaplikasian, sungguh…jauh dari harapan, lebih didominasi oleh dendam dan aksi premanisme atau hukum rimba. Pastinya di era sekarang ini, tak pantas lagi ada yang mengatakan kalau seganas-ganasnya harimau, tak mungkin memakan anaknya, harimau sekarang telah memakan anaknya, bangsa sendiri pun telah menjajah negaranya, tentu karena ego masing-masing. Ahh*
Pangkajene, 1 Maret 2013

Saturday, February 9, 2013

Essai Motivasi


Seharusnya Berterima Kasih (BUKAN kecewa)
Oleh : Raniansyah

s
aat ini, dini hari(10 Februari 2013) saya terbangun sekitar pukul 03.00 WITA tidak tidur lagi sampai pagi, tidur hanya 2 jam..:D ingin menulis pengalaman.*** Seharusnya saya belajar dan bercermin bahwa setiap kata-kata harus dilandasi dengan landasan faktual yang mendalam, tidak sekedar landasan teoritis yang mungkin saja diragukan.  Saya salah!, selama ini saya mungkin terlalu terpacu pada teori tanpa peduli dengan praktik, padahal untuk menjadi seorang penulis yang bisa disenangi pembaca, kemampuan tidak hanya sekedar kemampuan mengotak-atik kata tetapi juga harus mampu membuat sebuah cerita mengalir  karena diangkat dari kisah nyata dari si penulis.  Dini hari ini, saya berfikir bahwa tidak ada cerita yang benar-benar fiktif, karena pasti selalu saja ada sekelumit dari cerita tersebut yang sebenarnya telah terjadi kepada diri sendiri dan orang lain. Pastinya itu merupakan skenario Tuhan dan tentunya itu menarik. Untuk menulis tentang cinta tentu penulis yang pernah jatuh cinta akan lebih mengerti dibanding penulis yang belum pernah merasakan cinta, begitupun dengan benci, sakit hati, kecewa, dan lain sebagainya. Jelas yang pernah mengalami/merasakan lebih pantas dipercaya. Tapi saya tidak!, mungkin, jika saya seorang penulis maka saya akan memutuskan melepaskan gelar saya sebagai penulis daripada saya harus merasakan sakit hati. Mungkin penulis lain akan mencobanya karena tulisan-tulisan semacam perasaan sakit hati itu tidak pernah lapuk dan selalu disenangi sejumlah kalangan, ini tentunya menaikkan pamor mereka di depan publik. Tapi mungkin saya memang bukan bakal penulis karena sakit hati itu rasanya benar-benar  sakit, ketika bagian itu yang sakit. Sepertinya semua indera, sulit lagi bersahabat dengan tubuhnya dan jujur saya tidak ingin merasakan itu.
          Di sisa malam (9 Februari 2013) saya kecewa, saya sakit hati, saya malu dan saya tertawa. Katanya seorang penulis itu harus kuat, dan tahan banting terhadap segala hal. Teringat peristiwa pembredelan pers (Detik, Tempo dan Editor) pada masa orde baru, tapi toh! mereka selalu bangkit dan memperjuangkan tulisan mereka. Saya selalu mengatakan “Jangan menangis, karena itu tanda lemah. Dan itu bukti bahwa kita benar-benar kalah”, teori itu setelah malam ini, mungkin takkan pernah lagi saya katakan. Saya merasakan sendiri bahwa keadaanlah yang memaksa seseorang menangis sehingga saya tidak akan pernah lagi melarang seseorang menangis tapi mungkin saya akan berusaha menghapus air matanya, mungkin begini lebih baik.. “menangislah sepuasmu, hingga kau merasakan rasa sakitmu terobati, sampai kau merasa sakit itu terangkat dari palung hatimu” .
 Alhamdulillah Tuhan masih menguatkan saya, saya masih mampu menahan untuk tidak menangis  hingga jemari ini sanggup bergulat diatas keyboard laptop, merangkai sejumlah kata-kata yang telah kupikirkan, lebih tepatnya menghantuiku di sepanjang perjalanan kembali ke rumah dari lokasi Islamic camp di desa Ale’ Sipitto yang kuperkirakan berjarak tidak kurang dari 15 km. Tiga puluh menit lebih dalam perjalanan itu, hanya kata-kata penyesalan yang tampak dihadapanku. Malam itu, saya ke lokasi Islamic Camp karena dua hal,  karena NASIONALISME dan  karena CINTA,  tapi hampir saja keduanya tidak saya temukan.  Sesampaianya saya disana, seperti tidak ada hal yang menarik. Mungkin itu tanda agar saya segera pulang, tim qasidah sekolahku, undian tampilnya belum kena juga. waktu bergulir begitu cepat menghampiri tengah malam,  kedua sahabat yang bersamaku ke lokasi ingin pulang karena waktu memang telah larut malam. Saya masih menunggu untuk mencapai tujuan kedua, untuk tujuan pertama setidaknya saya telah datang mendukung mereka sebagai wujud nasionalisme, lebih rincinya sih! SEKOLAHISME…hehe. Beranjak mencoba tujuan kedua. Yah!, saya benar-benar ingin menyaksikan dia (3010) tampil, dia yang bla,…bla…yang banyak kuceritakan pada keyboard laptopku tanpa sepengetahuannya.  Tapi nomor undian tim sekolahnya, termasuk dia belum kena juga, saya mencoba berkomunikasi dan mengajaknya ngobrol tapi saat itulah saya kecewa karena sungguh responnya menandakan sesuatu yang sama sekali tidak dibutuhkan menandakan bahwa saya malam itu hanya semak tanpa arti. Sebenarnya  saya memang tidak pernah mau dan malu mencobanya karena terus terang, saya tidak pernah ngobrol dengan cewek dalam lingkup spesial. Tapi ada kedua sahabat yang memotivasi untuk mencoba, dan percobaan pertama gagal segagal-gagalnya. Saya tidak tahu akan mencobanya lagi atau tidak? mengulang sakit hati yang sudah saya rasakan, saya mencoba tersenyum dan tertawa di depan teman-teman sekolahku, walau sakit itu telah menjerat internalku.  Hmm…saya hanya ingin berterima kasih kepadanya, dia telah memberi saya praktik, sehingga sekarang saya lebih paham dengan sakit hati dan sekarang saya bebas menulis tentang sakit hati, setidaknya saya sudah memiliki satu pengalaman dan bisa dipercaya, dibanding mereka yang selalu saja menulis….menulis…menulis tapi tidak pernah merasakan. Terima kasih yah!, walaupun sakit, ini pengalaman yang sangat berharga sekaligus sebagai bukti ekstrimnya dunia kasih-sayang, lebih ekstrim daripada perjalanan ke lokasi Islamic Camp malam itu.
Saya memang cukup kaget ketika sampai di tenda perkemahan sekolahku karena teman-teman di sana langsung menceritakan insiden pada saat lomba (maaf!, saya tidak perlu menyebutkan insidennya). Tiba-tiba ketika teman itu bercerita tentang dia (3010), seorang cowok yang sama sekali tidak kukenal, bukan teman sekolahku, sepertinya merespon nama dia dengan sangat berbeda, seperti sesorang yang begitu kenal dan dekat , “ iyo, dia…dia manai dia?” (kata dia merupakan samaran dari nama asli cewek yang kumaksud (3010)), itu katanya sambil kelihatan panik melihat sekelilingnya. Respon yang sangat aneh, dan membuat saya tersinggung. Bagaimana mungkin, ada seorang teman yang reponnya sampai segitunya seperti tanda begitu peduli dan suka???.  Entah apa yang saya rasakan? Saya tersinggung, cemburu atau apa?. Fajri dan Rangga yang waktu itu terus bersamaku, ternyata merespon sama dengann yang kupikirkan “eh…nulihatji itu tadi cowok yang di depan tenda? Apa nabilang waktu disebutki namanya ………… kayak mencurigakan sekali…tapi bukan kulihat teman ato adek kelasta itu,” kata Fajri kepadaku.. benar! ternyata ada yang merasakan hal yang sama dengan apa yang kupikirkan. Tapi saya mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu karena saya sudah yakin dan percaya pada 3010, mungkin cowok itu aja…yang asal. Mencoba melupakan itu, walaupun respon cowok itu masih terbayang hingga tulisan ini mengalir. Saya mencoba mencapai tujuan saya ke kegiatan Islamic Camp itu.
Tapi malam itu, bisa jadi merupakan malam terburuk sekaligus berharga dalam hidup saya, saya kembali belajar bahwa ini tidak hanya sekedar kata-kata tetapi jauh lebih luas dari itu dan tidak sesederhana yang selalu terpikirkan. Mungkin bisa saja selama ini, saya memberi masukan dan saran kepada seseorang tentang perasaan, tapi sungguh saya tidak pernah paham dengan kejadian sebenarnya karena sungguh baru malam itu saya belajar. “ oh ternyata begini rasanya,” gumamku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sekitar pukul 11.00 WITA, kulihat kecepatan motorku pada speedometer hanya berkisar 20-25 km/jam, sangat lambat untuk perjalanan yang lumayan jauh, ektrimnya perjalanan waktu itu, tidak kurasakan lagi. Gelap, sepi, dan batas-batas perkampungan yang sering dianggap keramat tak lagi kupedulikan. Benar-benar konyol, kok bisa-bisanya saya berfikir “ kalau saya dipanggil Tuhan malam ini, biarkan saja,” saya sampai melupakan cita-cita untuk mengenakan almamater kuning dengan panji merah. Tapi ketika saya menulis tulisan ini, saya berfikir, “Tuhan,…tolong jangan panggil saya, sebelum cita-cita saya terwujud, sebelum orang-orang yang pernah memberi saya cinta dan benci merasakan hasil kerja saya, sebelum masyarakat kampung saya bangga karena saya, sebelum Indonesia beruntung karena ada saya,” terlalu kePedean bukan?, haha…setiap orang berhak berpendapat, berserikat dan bercita-cita dan itu hak asasi.
Seharusnya saya berterima kasih (BUKAN kecewa), malam itu saya belajar sakit hati karena cinta untuk pertama kalinya….dan malam itu saya belajar dan yakin bahwa teori tanpa praktik bagaikan sayur tanpa garam, kelihatan enak tapi kalau tidak ada garamnnya, rasanya kan tidak lucu? Haha. Terima kasih untuk orang yang memberiku pelajaran malam itu. Kini saya tidak perlu lagi takut untuk menulis tentang cinta dan sakit hati karena kan saya sudah merasakannya. Memang rasanya sakit, dicuekin itu sakit, direspon tidak baik itu sakit, atau apapun yang menurut kalian sakit. Tapi yakinlah sakit-sakit itu kelak akan bermanfaat bagi orang banyak.  Tergantung kita sih!, darimana kita mau memandangnnya, kalau kita mau berspektif positif, tentu semuanya akan baik-baik saja apapun yang terjadi. Tidak perlu ada kata ‘sorry’ kata orang bugis, atau ‘maaf’ kata orang Indonesia, atau ‘addampeng’ kata orang Inggris dari orang yang membuat kita sakit itu. Karena seharusnya kita berterima kasih, dia telah mengajarkan kita satu hal lagi. Seperti peyakit cacar, seseorang yang sudah terkena penyakit cacar. Sebagian besar tidak akan pernah terjangkit lagi karena sudah ada proteksi dari dalam tubuh yang mengenali jenis penyakit itu sehingga ketika muncul gejalanya, segera ditanggulangi, sama halnya dengan orang yang belajar naik motor, sulit baginya untuk ahli banting stir kiri-kanan kalau tidak pernah terjatuh, Valentino Rossi kan pernah terjatuh saat balapan di sirkuit, betul kan?. Begitupun dengan perasaan, kalau kita hanya merasakan manisnya, lama-kelamaan juga bosan. Sekali-kali rasakan yang pahit, asin, etc dengan begitu kita tentu belajar  tentang ilmu yang sangat bermanfaat. Pare contohnya, siapa yang menyangka buah/sayur  keriput nan pahit itu banyak bermanfaat bagi kesehatan terutama masalah pencegahan dan penanganan kanker. Tidak selamanya manis itu bermanfaat, toh! manis bisa membuat diabetes….dan tidak selamanya pahit itu tidak baik. Intinya pandang segala sesuatu dengan positif . INSYAALLAH!! Hasilnya positif. Jangan pernah takut untuk sakit, sakit hati…dan sakit-sakit yang lain karena dari situ ada manfaat dan pelajaran. Saya buktinya!, jika saya tidak sakit hati malam itu (9 oktober 2013) maka tulisan ini pasti tidak akan pernah kalian baca. Berterima kasihlah kepada orang yang membuat kita sakit, karena itu tanda kasih sayang…jadi kalau kita sukses jangan pernah melupakan orang/sesuatu yang pernah membuat kita sakit. Tuhan kan kadang membuat kita sakit karena DIA peduli dan sayang kepada kita, tapi pasti DIA juga bakal menyembuhkan kita. PercayalahJ!*(rn1130)
Pangkep, 10 Februari 2013

Tuesday, February 5, 2013

KUMPULAN ESSAI 1


Aturan Tanpa Makna
oleh : Raniansyah
Tak habis pikir, kejujuran seperti telur diujung tanduk. Sangat rentan untuk pecah dan jatuh dalam jurang dusta, yah! tentunya dilakukan oleh pendusta. Dusta setidaknya telah menjadi penopang eksistensi republik ini. Bukankah koruptor adalah pendusta? bukankah pelanggar adalah pandusta? Yah!, bahkan yang lebih bodoh lagi, ada orang yang mendustai dirinya sendiri. Hmm!, bukankah negara ini sekarang telah dipenuhi oleh mereka (para pendusta), akibatnya aturan yang diciptakan untuk dipatuhi, kini diciptakan untuk dilanggar. Negeri kita kini telah dihuni oleh jutaan orang yang pasti telah berdusta dan inti dari sebuah dusta itu adalah pelanggaran aturan.
Akhir-akhir ini penikmat berita tentu tahu berita korupsi Simulator SIM di Korps Lalu-lintas Mabes Polri yang menyeret dua petinggi Polri. Berikutnya siapa yang tak tahu berita “Dahlan Iskan (Kementrian BUMN) Vs DPR” yang juga mnyangkut masalah korupsi, dan yang terbaru adalah rekomendasi Pemecatan Hakim Agung Yamani oleh Komisi Yudisial (KY) karena kelalaian menuliskan vonis untuk gembong narkoba  menunjukkan adanya permainan mafia peradilan. Berita-berita tersebut menjadi berita paling popular terdengar di telinga kita dan singgah di pelupuk mata kita,  karena hampir semua pers memberitakan hal tersebut. Bukankah hal diatas menjadi bukti bobroknya aturan kita? Bukankah hal diatas cukup menjadi bukti betapa krisisnya kita dalam hal kepatuhan. Pertanyaan besar untuk permasalahan tersebut adalah jika lembaga/orang yang seharusnya berada  pada barisan paling depan dalam menegakkan aturan dan membela kebenaran telah melanggar, bagaimana dengan yang bukan lembaga/orang yang tugasnya bukan penegak hukum.
***
 Rabu, 7 November 2012, Saya dan beberapa orang teman ikut untuk menyaksikan kompetisi Sains yang diadakan tingkat kabupaten oleh salah satu lembaga bimbingan belajar (mohon maaf, nama lembaga dirahasiakan) yang di sponsori oleh salah satu perusahaan. Kebetulan dalam kompetisi ini, 13 dari 16 semi finalis berasal dari sekolah saya, SMAN 2 Pangkajene(SMADA). Hmm.. tahun ini kami mengikuti kompetisi sains ini dengan perasaan yang tak tenang, betapa tidak? Sekolah kami telah meraih piala bergilir selama 2 kali berturut-turut, dan apabila tahun ini kembali berhasil maka piala tersebut akan menjadi piala tetap. Perasaan ini semakin tak tenang kala ada salah satu dari panitia lomba tak sengaja melontarkan kalimat “kalau saya ada, dipastikan tahun ini SMADA tak bakal dapat juara,” kepada salah seorang Guru SMAN 2 Pangkajene. Akhirnya hari itu dewan guru memutuskan untuk meminta transparansi dari pihak panitia mengenai hasil pemeriksaan dan meminta agar dewan guru dapat melihat proses pemeriksaan. Namun anehnya, entah mengapa panitia sepertinya menolak dengan alasan yang sungguh tak masuk akal. Kepala sekolah saya sempat berpesan jika memang tak bisa transparan lebih kami kembali ke sekolah dan tak ikut lomba.
            Miris, sangat memiriskan hati, akhirnya kami meninggalkan auditorium perusahaan yang menjadi sponsor, untuk kembali ke sekolah. Namun ternyata pihak guru menemui pihak perusahaan sponsor kegiatan ini dan diadakanlah perbincangan dan kesepakatan antara pihak lembaga bimbingan belajar dengan pihak sekolahku. Senyum yang sebelumnya begitu indah terpancar diantara wajah teman-teman para peserta kini berubah jadi suasana tegang. Satu kalimat yang tak mungkin saya lupakan. Entah apa yang dipikirkannya? entah dia waras atau sudah gila? Salah seorang panitia lomba datang memotong penjelasan guru saya dan berkata “Di Indonesia sekarang pak, sudah tak ada kejujuran!, di sekolah juga begitu!,” katanya dengan wajah emosi sambil menunjuk-nunjuk guruku. Hah?, jika di Indonesia sekarang memang tak ada kejujuran, apakah pada lomba ini juga demikian? Haha!, bukankah itu adalah sebuah pengakuan otomatis bahwa memang ada kecurangan dalam kompetisi ini.
***
            Hari itu akhirnya niat kami untuk pulang dibatalkan karena telah ada kesepakatan yang setidaknya adil untuk kedua belah pihak. Tapi ada satu hal lagi yang mencurigakan bagi saya. Ada persyaratan yang terletak paling bawah yang ditampilkan melalui slide show yang jelas mengundang tanda tanya besar. “Keputusan panitia tak dapat diganggu gugat,“. pertanyaannya, mengapa hanya peraturan ini yang dicetak tebal dan bergaris bawah? sementara bukankah peraturan yang lain seharusnya sama?. Ini seolah terjadi penekanan yang menurut saya kelewat batas. Kalau panitia selalu ingin berlindung pada aturan ini? Maka dimana lagi pelajar Indonesia mampu menemukan kompetisi yang sehat? Dengan aturan ini, berarti panitia bisa menentukan keputusan semaunya walau tanpa kewajaran karena tak dapat diganggu gugat. Bukankah seharusnya keputusan yang mutlak tak dapat diganggu-gugat hanya keputusan Tuhan? Kompetisi yang seharusnya mendidik justru membuat pelajar kita semakin terpuruk. Aturan aturan seperti ini patut dikategorikan aturan tanpa makna.
            Cerita diatas adalah sesuatu yang wajar, bukankah beberapa aturan di Indonesia katanya diciptakan untuk dilanggar? Katanya, apa gunanya aturan kalau tak dilanggar?.  Zebra cross, kini hanya hiasan hitam-putih di jalanan, toh banyak orang menyeberang sembarangan. Hal ini mengingatkan saya dengan sebuah esai Asdar Muis RMS dalam bukunya “Tuhan Masih Pidato”, ada sebuah esai di dalam buku tersebut yang isinya tentang orang Asing yang kesulitan menyeberang dan mondar-mandir di jalan yang sama karena tak menemukan Zebra Cross untuk menyeberanng, ia tak tahu kalau di Indonesia, orang boleh menyeberang sembarangan walau tanpa Zebra Cross. Tanda Larangan Parkir…toh kita sering melihat kendaraan parkir dibawah tanda-tanda larangan tersebut. Yah!, itu aturan yang sungguh tak bermakna, katanya…, lampu kendaraan juga harus dinyalakan di siang hari, tapi ketika saya nyalakan lampu motor siang hari, secara bergantian orang di jalan menegur “eh…lampu motormu menyala,”. Saya semakin bingung, sebenarnya siapa yang salah sih? Saya atau si penegur yang tak mengerti aturan? toh banyak juga aparat kepolisian yang tak menyalakan lampu motornya di siang hari. Mengenai aturan penggunaan Surat Izin Mengendara (SIM), siapa yang bisa menjamin bahwa semua aparat kepolisian mengantongi SIM saat berkendara? Haha, tak ada!, sepertinya aturan kita memang ada untuk dilanggar.

             Hal diatas masih secuil dari kebohongan-kebohongan dan dusta aturan kita. Aturan kita seperti fatamorgana, terlihat dari jauh namun ketika mendekat, sama sekali tak ada. Memiriskan hati bukan?.  Hmm!, yang lebih memprihatinkan adalah saat prinsip kesuksesan digunakan untuk melanggar, misalnya “kalau bukan saya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” prinsip yang seharusnya digunakan untuk motivasi sukses justru digunakan untuk melanggar. Katanya, ”kalau bukan saya yang melanggar, siapa lagi? Dan kalau tak sekarang saya melanggar yah kapan lagi,?”. Apa jadinya negeri ini?
            Di pertengahan bulan November 2012, saya dan beberapa orang teman sempat memperdebatkan beberapa aturan sekolah yang dianggap memiliki pro-kontra.  Saya kebetulan waktu itu membela peraturan agar tak dilanggar, tapi satu kalimat yang masih saya ingat diutarakan seorang teman (maaf!, nama tak disebutkan) yaitu  “aturan itu memiliki dua fungsi, yang pertama untuk dipatuhi dan yang kedua untuk dilanggar,” itu katanya, saya hanya  terdiam namun saya tak mengalah karena menurut saya aturan itu ada agar tak ada yang melanggar dan aturan itu ada berdasar pada latar belakang masalah yang bertentangan dengan ideologi kita yaitu pancasila yang terbagi lagi dalam beberapa aturan pokok dan dasar. Tapi itu hanya menurut pendapat saya, lalu benarkah yang dikatakan oleh rekan saya itu bahwa aturan itu memang ada untuk dilanggar? Tapi kok malah saya merasa kalau justru kebanyakan yang melanggar daripada yang mematuhi?,
***
Ada lagi yang mengundang perhatian dan rasa penasaran saya untuk bertanya, mengapa sampai sekarang perokok semakin banyak bahkan menjamur di kalangan pelajar? padahal dalam kemasan rokok pasti ada tulisan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Hmm, jika diperhatikan secara mendalam, tulisan tersebut kini hanya kiasan dan hiasan belaka, toh tak ada yang peduli. Bahkan mungkin jika seandainya kemasan rokok hanya dipenuhi tulisan itu maka perokok masih akan tetap merokok. Itu karena tulisan itu ada tanpa perhatian dari penikmatnya.
Selasa 10 Juli 2012, saat berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta,  sembari menunggu keberangkatan pesawat ke Batam, saya duduk di koridor-koridor dekat ruang tunggu sambil melihat orang yang lalu-lalang, seketika perhatian saya tertuju pada seorang ibu yang merokok di depan  saya, anaknya yang berumur sekitar 5 tahun terus merengek di depannya tapi ia tetap merokok, sungguh ia contoh ibu yang buruk, ia telah menjadikan seoarang anak berumur 5 tahun menjadi perokok pasif dan itu adalah anaknya sendiri, saya hanya bisa menggeleng sambil menutup hidung dan mulut saya. Yang lebih parah lagi, pada tiang dekat tempat ia duduk, terdapat tulisan larangan merokok di area itu, apalagi telah disediakan ruangan khusus untuk merokok, tapi masih juga melanggar. Memang sih! waktu itu tak ada petugas bandara yang menegur namun bukankah aturan itu diciptakan untuk dipatuhi walau tanpa pengawasan? ataukah memang aturan kita itu secara nyata dan pasti ada untuk dilanggar? Entahlah! Tapi seharusnya semua orang peduli dengan krisis kepatuhan ini. Siapa sebenarnya yang bodoh dan gila?  banyak aturan yang sebenarnya menguntungkan dan hendak menyelamatkan kita, namun entah mengapa banyak yang melanggar. Itu kenyataan pahit negeri ini yang harus kita terima. Bahkan saya sempat berpikir jika kita ingian menulisakan semua masalah pelanggaran aturan manusia negeri ini dalam sebuah buku, maka beribu-ribu halaman tak bakal cukup untuk menuliskan semua masalahnya sejak negeri ini lahir. Sebagai mahluk yang menghargai sejarah sudah sepatutnya kita menengok ke belakang dan bercermin pada sejarah, apa yang perlu kita saksikan? Mengapa orde lama berubah menjadi orde baru? Lalu mengapa akhirnya orde baru mengalami keruntuhan lalu lahirlah reformasi? Lalu masihkah kita ingin melihat perubahan orde hanya karena masalah dan ulah yang kita lakukan, tidakkah pelanggar sama dengan binatang yang sungguh tak mengerti menempatkan aturan?.
***
Cukup hal ini menjadi pelajaran buat kita sekalian, saya sempat berpikir,  kalaupun kita salah satu tersangka pelanggar maka semoga kita cepat sadar untuk setidaknya mengurangi sedikit demi sedikit dari krisis kepatuhan itu, jangan sampai aturan-aturan yang ada di negeri ini hanya hiasan dinding, kiasan, fana, dan tak pernah bermakna!, mari kita kembali merenung, jika setiap orang membuang sampah sekecil kemasan permen, itupun akan menutup bumi ini dengan sampah, lalu analogikan hal tersebut dalam pelanggaran aturan, jika setiap orang melanggar aturan sekecil apapun itu maka berapa besar makna kepatuhan yang lenyap ditelan dusta. Bahkan masih lebih deras dari derasnya Amazon dan bahkan lebih tinggi dari tingginya puncak Himalaya. Hmm…kita adalah ttik perubahan dan setiap manusia harus berusaha menjadi titik. Bukankah kumpulan titik-titik itu akan membentuk garis dan itu berarti dengan menjadi salah satu titik patuh aturan maka secara otomatis kita telah membantu lahir dan berkembangnya era kepatuhan. Yah!..tentunya era para orang jujur dan masa punahnya pendusta. Kita harus mematuhi aturan walau tanpa pengawasan. Jika orang lain tak mampu kita pengaruhi untuk patuh aturan maka sepantasnya diri sendiri menjadi awal untuk berubah. Kita hanya punya dua pilihan, melihat Indonesia musnah karena pendusta yang tak mengerti aturan atau melihat Indonesia maju karena kita menjadi salah satu bagian dari orang jujur yang patuh aturan. Semoga para pelanggar sadar.hmm*
 Pangkep, 17 November 2012


Thursday, August 30, 2012

Essai. Awas…! Ada Tikus Raksasa di POLRI


Awas…! Ada Tikus Raksasa di POLRI
By : Raniansyah


M
emang kehidupan ini aneh…bahkan menjadi orang Indonesia saja rasanya sangat aneh. Bagaimana tidak?? Negara ini katanya demokratis, yah..benar demokratis, berpihak pada rakyat…tapi eitzz…pada rakyat yang berduit, sedangkan yang lemah menjadi bulan-bulanan pahitnya ketidak-adilan negeri ini. Nampaknya pantun yang berbunyi “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” itu patut ditinjau ulang, bagaimana tidak? Rakyat Indonesia yang lemah selama ini bersakit-sakit dan senang itu hanya jadi impian, lihat saja anak-anak di pinggir jalan dengan pakaian kumalnya dengan kaleng atau karung atau Koran di tangannya, mereka selama ini bersakit-sakit lalu apa mereka pernah bahagia atau senang?? Tidak….
                                                           ***
            Negeri ini kini terjebak dalam jeratan kapitalis dengan mendewakan uang dan status sosial, siapa yang berduit dan berstatus terpandang maka akan menang dalam segala hal, sedangkan  yang  tidak berduit dan lemah harus tertindas seolah tak pernah merdeka. memang di negeri ini banyak orang yang terpandang. tapi sayang,  sudah jarang yang terhormat, kadang banyak orang memilih terhormat dengan melakukan pekerjaan rendah daripada harus buang harga diri dengan memcuri hak orang lain. Berbicara masalah mencuri maka koruptorlah yang pasti terlintas, dia adalah penjahat  extra ordinary crime  yang menyengsarakan jutaan jiwa, lebih sadis daripada teroris. Bahkan koruptor lebih rendah dari PSK, teringat kala seorang guruku di SMA bernama bapak Yamin pada tahun 2010 berkata  “ PSK itu masih memiliki harga diri lebih besar daripada koruptor, lihat saja…kalau PSK tertangkap maka ia akan berusaha menutupi wajahnya karena malu, sedangkan koruptor, sudah jelas-jelas salah, ia masih melambaikan tangan” . yah….itu benar dan sangat sering terjadi. Bahkan sudah jelas salah, dia masih berusaha mencari pembenaran untuk dirinya. Membayar kuasa hukum mahal-mahal demi pembenaran kesalahan fatal, bahkan hukum negeri ini juga dibeli dengan uang apalagi koruptor banyak uangnya, utss…jangan ribut…ini rahasia umum. Tak ada orang miskin yang punya pengacara, tak ada orang miskin yang bisa membeli hukum, karena sekali lagi, demokratis itu berubah pengertian di Indonesia menjadi kedaulatan rakyat berduit. Hmm…miris rasanya melihat keadaan negeri ini, tapi mau diapa lagi?? Sudah terlanjur begini…..peraturan pun mungkin memanjakan koruptor dengan remisi dan pembebasan bersyarat yang mengatasnamakan hak asasi tanpa memikirkan hak asasi jutaan rakyat yang direbut koruptor. Dasar…koruptor manusia jalang.
                                                               ***
            Pekan pertama Agustus 2012, mataku tertuju pada sejumlah berita di stasiun TV swasta yang dimeriahkan..dihebohkan dengan terjeratnya 2 jenderal polisi  dalam kasus korupsi simulator sim dari Korps Lalu-Lintas Mabes POLRI, terjadi rebutan kasus antara Polisi dan KPK, seolah tragedi Cicak VS Buaya kembali terulang tahun ini…sementara  Presiden SBY melalui juru bicaranya mengatakan kalau KPK dan POLRI harus bersinergi, tapi apa? Keduanya sama-sama berebut menyelidiki kasus itu, semuanya merasa lebih dulu melakukan penyidikan. Padahal sudah ada aturannya, kalau KPK sudah menyelidiki, tidak ada yang berhak campur tangan, biarkan KPK yang menyelidiki. Sedangkan pada kejadian ini, POLRI seolah tak mau mengalah dan telah menahan 5 tersangka, yang 3 diantaranya sama dengan yang ditetapkan KPK.  Jelas ini adalah kesimpang-siuran yang patut diselidiki, jangan sampai ada kasus lebih besar atau ada tikus lebih besar disembunyikan…entahlah??  Karena rata-rata kasus korupsi itu tidak dikerjakan sendiri tapi gotong-royong. Hmm…pastinya siapapun yang tertangkap dan terbukti korupsi wajib ditahan dan dicopot jabatannya walaupun jenderal Polisi sekalipun.
            Polisi juga manusia, Polisi yang selama ini dipercaya sebagai salah satu insan penegak hukum justru bisa juga melakukan korupsi dan menjatuhkan martabat insan hukum negeri ini. mungkin memang benar, selama kantong masih menghadap ke atas, maka pasti akan tetap ada pencuri, tikus yang biasanya hanya memakan isi gabah rakyat dan menyisakan kulitnya kini semakin rakus dengan memakan habis sampai karung-karungnya dan tikus rakus itu adalah koruptor, profesi yang tidak bosannya menyengsarakan jutaan Rakyat. Mereka tidak pernah bahagia, koruptor itu orang-orang besar yang banyak uangnya tapi masih saja mau menambah kekayaan walau dengan mencuri uang Negara. Karena pendidikan mereka besar tapi jiwa dan perasaan mereka nihil…selalu mencari kebahagiaan dengan uang padahal mereka tidak tahu kalau kebahagiaan itu diciptakan bukan dicari. Yah…karena otak mereka kapitalis, dan daging termulia bernama hati dalam dirinya sudah rusak. Perilakunya murahan….memalukan…tidak terhormat dan patut dihujat. Hmmm,,,,benar-benar layaknya tikus kelaparan, tikus rakus yang telah berubah jadi lebih rakus.
                                                            ***
            Aku berharap, semoga yang membaca ini bukan bakal koruptor. Tapi jika ada koruptor atau bakal koruptor yang membacanya (Koruptor, sadar diri ), maka semoga terhina dengan ini dan sadar….kalau dia manusia paling murahan di dunia ini.*hehe
Pangkep, 10 Agustus 2012