Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Cerpen, Di Perbatasan

Kisah nun jauh dari Perbatasan Indonesia dan Malaysia
Di Perbatasan, Aku Masih Bangga
Karya : Raniansyah

    Tetes-tetes embun masih basah di atas dedaunan, ayam pun berkokok bersahutan dan azan di Masjid berkumandang. Pagi itu semua nampak cerah, tak ada yang berbeda dari biasanya. Rani seorang anak SMP yang selalu nampak sederhana pagi itu kembali bersiap untuk menuju ke sekolahnya yang terletak tak jauh dari rumahnya di perbatasan negeri Jiran Malaysia dan Indonesia. Rumahnya yang terbuat dari bambu nampak tertata dengan tanaman-tanaman hias di halamannya.
    “ Bu...aku berangkat sekolah dulu yah, Assalamu’alaikum,” teriak Rani sambil berlari dengan ransel kecil di punggungnya.
    “ Iya nak...hati-hati “ jawab seorang ibu yang mengenakan daster dari pintu rumah yang sederhana itu. Ibu itu adalah Bu Nita, bunda Rani.
    Rani melangkahkan kaki perlahan memasuki sebuah sekolah yang juga begitu sederhana, dindingnya dari papan dan pagarnya pun masih pagar bambu, sekolah yang berdiri sejak zaman Belanda itu masih bertahan hingga kini, walaupun beberapa bagian bangunan nampak begitu rapuh dan tak layak pakai, halamannya pun begitu sempit. Memasuki ruang kelasnya, Rani di sambut dengan senyuman hangat dari kawan-kawannya. Ruangan kelas yang begitu sederhana namun dihuni oleh anak-anak yang semangat belajarnya luar biasa. Mereka adalah anak-anak yang tak pernah memandang tempat untuk dapat belajar dengan giat.
    “ Ran, gimana PRmu udah kelar nggak?” tanya Alim, teman sebangku Rani
    “ Yah..udah dong, kamu gimana?,“ jawab Rani sambil bertanya balik
    “ Yah udah juga, tapi supaya asik kita diskusiin bersama biar lebih paham dan lebih ngerti !!” 
    “ Yupz...okedeh,” jawab Rani lagi
 Tiba-tiba seorang anak dari luar kelas berlari masuk ke kelas dan berteriak kegirangan. Dia adalah Fajri seorang siswa yang paling cerewet di kelas.
    “Eh...hari ini kita nggak belajar soalnya bu Guru lagi sakit, yes...horeee...” teriak Fajri kegirangan.
    “Eh...jangan begitu, walaupun guru kita nggak datang kita juga harus belajar. Kan kalau kita belajar kita sendiri yang bakal dapat manfaatnya” tegur Sita, seorang siswi yang dikenal rajin dan sabar.
    “Iya...betul yang dikatakan Sita, Fajri..., lebih baik kita bahas bersama nih PR biar nanti kalau ulangan kita ngerti cara kerjanya,“ tambah Rani.
    “ Iya..iya...aku ngalah deh, yuk teman-teman kita belajar bareng,” kata Fajri sambil mengajak teman-temannya.
    Hari itu suasana kelas nampak tenang, walaupun guru mereka tidak sempat hadir karena sakit, mereka tetap belajar dan mengerjakan soal-soal bersama. Itulah yang membedakan mereka dengan siswa dari sekolah lain, walaupun sederhana mereka selalu istimewah di mata orang banyak, sekolah yang sederhana itu telah meraih banyak prestasi walaupun terletak begitu jauh dari pusat negeri dan kurang mendapat perhatian, sekolah mereka sebenarnya telah lama direncanakan untuk renovasi namun entah kenapa renovasi tersebut tidak berjalan. Guru-guru di sekolah itupun terbatas  sehingga kalau tidak ada guru mereka harus belajar sendiri. Anak-anak yang begitu tegar dan semangat belajar walau dengan fasilitas yang begitu sederhana, yang membuat mereka luar biasa adalah keistimewaan mereka yang lahir dari kesederhanaan.
    Hari itu, mereka berhasil mengerjakan beberapa soal dan tak terasa bel pulang pun berbunyi. Nampak siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing mendengar bel waktu pulang telah berbunyi. Rani, Fajri, dan Sita berjalan beriringan untuk pulang ke rumah karena rumah mereka saling berdekatan.
Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka berpapasangan dengan sekelompok anak berpakaian rapi dengan seragam sekolah yang begitu bagus, pada dasi anak-anak itu terdapat gambar bendera negara Malaysia.
    “ Hei..kalian, anak Indonesia....sekolah kalian yang itu?,” kata anak itu dengan logat khasnya, sambil menunjuk sekolah Rani.
    “Iyaa...kenapa?,” jawab Rani.
    “ Sekolah kalian kumuh sekali, dindingnya dari papan, pagarnya dari bambu, pekarangannya sempit....,” kata seorang anak negara tetangga itu
    “memangnya kenapa kalau kumuh, yang penting kan kami masih bisa belajar” kata  Fajri.
    “ Lihat tuh sekolah kami bagus, dindingnya berubin, pekarangannya luas, lapangan olahraganya banyak, kalian itu orang Indonesia memang kuno yah...benar aja kisah jualan otak kalau otak kalian paling mahal karena jarang di pakai, peninggalan Belanda aja masih dipertahankan, nggak punya uang yah tuk renovasi?, “ kata anak itu dengan nada mengejek
    “ tapi kami bangga jadi orang Indonesia, negara kami punya banyak pulau, negara kami luas, budayanya banyak, sukunya banyak dan kami tetap satu “ kata Rani.
    “ Iya...kami juga bukan orang bodoh, cerita jualan otak itu cuman omong kosong belaka. Lihat kami, setiap Olimpiade Sains Internasional kami selalu tampil sebagai juara. Nah ! kami tidak bodoh kan,” tambah Fajri
    “ Tapi bagemanapun...negara kalian miskin, maunya selalu fasilitas gratis, email kalian pasti gratis kan?,” sanggah anak itu lagi
    “ Alhamdulillah kami diberi fasilitas email gratis, daripada email berbayar...kan uangnya bisa untuk bantu rakyat,” sanggah Sita yang dari tadi antusias menyaksikan pembicaraan.
    “ Ah...kalian itu,” kata anak itu sambil tersipu malu
    “Daripada kita saling berdebat gini, gimana kalau kita berteman aja...sebagai warga dunia kita juga harus bersatu dong,” kata Rani lagi.
    “Ah..bener tuh, kita juga salah... kenapa menghina mereka padahal kan kita ini tetangga, walaupun beda negara yah..kita harus bersatu dan saling menghargai” sahut seorang anak dari negara tetangga yang dari tadi juga terdiam   
    “ setiap negara memiliki kelebihan masing-masing jadi kita harus saling menghargai sebagai upaya kita mewujudkan perdamaian dunia,” kata Sita menjelaskan.
    Mereka menyadari bahwa setiap negara masing-masing memiliki kekhasan, tidak ada yang boleh menganggap diri lebih baik dari orang atau negara lain, mereka kini mengerti arti sebuah perdamaian dan kebersamaan.
    “Eh aku pernah membaca kalau kalian punya menara petronas yah, yang merupakan salah satu menara tertinggi di dunia, bagus banget tuh !,” kata Rani lagi.
    “Iya, aku pernah jalan-jalan kesana,” kata seorang anak Malaysia menanggapi perkataan Rani.
    “ tapi kalian juga bagus loh..., di Indonesia ada Pantai Kuta, wisatawan Asing sudah tidak asing dengan yang namanya pantai Kuta, kalian juga punya Monas yang di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan para founding father kalian. Aku juga pernah baca artikel tentang presiden pertama kalian yang namanya bapak Bung Karno, katanya beliau merupakan salah satu orang paling pandai berbicara di Dunia, kalian pasti Bangga jadi anak Indonesia,” kata seorang anak Malaysia memuji Indonesia.
    “Ah...bisa aja.., kamu. kami memang selalu bangga menjadi warga negara Indonesia,” kata Fajri sambil tersenyum.
    Mereka pun bersalaman waktu itu, perbatasan antara negara mereka tidak menjadi penghalang mereka untuk berteman, semenjak saat itu, anak-anak dari negara tetangga selalu baik kepada Rani dan teman-temannya, bahkan mereka yang sebelumnya serba mewah semenjak mengenal Rani dan kawan-kawannya yang sederhana, mereka berubah penampilan juga menjadi anak yang sederhana, anak-anak ini akhirnya bersahabat.
    Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di jalan dekat perbatasan
    “ Hi..kawan-kawan....tunggu...” teriak seorang anak Malaysia sambil berlari menghampiri Rani, Fajri dan Sita.
    “Eh...kenapa?, tenang dulu..tenang...” kata Rani
    “ Kemarin malam aku nonton TV terus aku lihat berita Internasional, katanya besok negara kalian merayakan hari Pendidikan Nasional yah?” kata Anak Malaysia itu dengan nafas terengah-engah
    “ Iya bener....,terus?,” jawab Sita
    “ Yang lebih heboh lagi, sekolah kalian masuk sekolah berprestasi skala Nasional, dan katanya tanggal 25 Mei, sekolah kalian akan resmi direnovasi, rancangan bangunannya bagus  banget” kata anak Malaysia itu menjelaskan.
    “Yes....horee..horee,” teriak Rani dan kawan-kawannya sambil melompat kegirangan
    “ Wetss....tunggu dulu, aku punya satu pertanyaan?, kalau kalian bisa jawab berarti sekolah kalian memang pantas direnovasi, apa semboyan pendidikan kalian yang diucapkan oleh bapak Ki Hajar, hayooo...apa hayoo?” tanya anak Malaysia.
    “Aku tahu..aku tahu....pasti ing ngarso sontoloyoh” kata Fajri dengan wajah begitu yakin
    “Salah...,yang bener itu ing ngarso suntulodo, ing madya mangun kerso, tut wuri handayani” kata Sita membenarkan jawaban Fajri.
    “Terus artinya apa?,” tanya anak Malaysia lagi
    “Artinya adalah yang di depan memberi contoh atau teladan, yang di tengah terus berkarya dan yang di belakang mengikuti,” jawab Rani penuh rasa yakin.
    “Wah...kalian hebat...sekolah kalian memang pantas direnovasi,” kata anak Malaysia itu memuji.
    Hari itu Rani dan kawan-kawannya benar-benar merasa senang karena akhirnya sekolah mereka akan direnovasi. Tidak hanya itu, mereka menemukan teman baik dari negara tetangga. Tidak sia-sia usaha mereka selama ini untuk belajar, mereka juga kini semaakin mengerti tentang semangat perdamaiann\ dan kebersamaan serta mereka pun semakin yakin kalau mereka adalah orang yang beruuntung bisa menjadi anak Indonesia karena ternyata Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kelebihan. Indonesia memiliki kelebihan, negara tetangga pun memiliki kelebihan, semua negara memiliki kelebihan jadi harus saling menghargai demi terwujudnya perdamaian dan harmonisasi Dunia.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

Friday, October 28, 2011

Hikayat Abu Nawas "Botol Ajaib"

Botol Ajaib
Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana.
Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman. "Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
"Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil." tanya Abu Nawas.
"Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya." kata Baginda.
Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. la tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin. Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat. Sedangkan angin tidak. Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. la yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap.
Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
"Bukankah jin itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.
Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas. "Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?"
"Sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu.
Baginda menimang-nimang botol itu. "Mana angin itu, hai Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Di dalam, Tuanku yang mulia." jawab Abu Nawas penuh takzim.
"Aku tak melihat apa-apa." kata Baginda Raja.
"Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu." kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung.
"Bau apa ini, hai Abu Nawas?!" tanya Baginda marah.
"Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol." kata Abu Nawas ketakutan.
Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. Dan untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.

Unsur Intrinsik Hikayat Abu Nawas “Botol Ajaib”
µ   Tema                : Semangat/ Kerja Keras
µ Tokoh               :
     a.Abu Nawas
     Memiliki watak yang cerdik, tidak mudah putus asa dan selalu berusaha untuk mengerjakan sesuatu walaupun terkadang hal itu aneh, tidak mungkin dan sulit dilakukan
    b.Baginda Raja
     Memiliki watak yang licik.selalu berusaha menjatuhkan abu nawas dengan ide-ide dan perintah-perintah anehnya terhadap abu nawas, namun walaupun demikian, abu nawas selalu saja memecahkan masalah yang dihadapinya
µ Latar :
Latar tempat            :Rumah Abu Nawas, Istana Baginda Raja,   Jalan
       Latar suasana            : Tegang.

µ Alur                         : Menggunakan Maju karena dicerikan mulai dari awal hingga akhir permasalahan.

µ Sudut penceritaan    : Orang ketiga (pihak penulis), karena cerita tidak secara langsung terjadi namun ada pihak ketiga yang menceritakan kisah tersebut.

µ Gaya Bahasa :
ü Majas Personifikasi pada kata "Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan. Dan pada "Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya." kata Baginda. Serta pada Abu Nawas “menggondol sepundi penuh uang emas”
Dalam cerita tersebut, majas yang dominan digunakan bahkan terhadap semua kata yang menggunakan majas adalah majas Personifikasi yaitu majas dengan sifat seolah-olah menurunkan sifat benda hidup terhadap benda Mati.
µ Amanat :
ü Jangan berputus asa menghadapi suatu masalah
   ketika kita memiliki suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan, maka jangan terlalu cepat berputus asa dan memvonis diri bahwa kita tak mampu melakukannya namun berusahalah untuk mengerjakannya karena selama kita mau berusaha, kita insya Allah dapat menyelesaiakan masalah itu, sppperti yang dilakukan oleh Abu nawas. 

ü Jangan mencoba menjatuhkan seseorang dengan akal licik dan curang
Kita tidak boleh memiliki sifat seperti raja yang selalu berusaha menjatuhkan Abu nawas dengan akal licik dan curang. Karena sesungguhnya itu akan  merugikan kita sendiri.

ü Jangan sewena-wena dengan jabatan.
Kita tidak boleh memiliki sifat seperti baginda Raja yang seenaknya memerintah seseorang untuk melakukan hal-hal aneh yang sebenarnya jika dipikir secara logis tidak mungkin dilakukan, memerintahkan hal yang aneh dengan maksud curang terhadap seseorang karena merasa dirinya memiliki kewenangan sebagai seorang raja.


Unsur Ekstrinsik Hikayat Abu Nawas “Botol Ajaib”
µ   Nilai Sosial
Nilai sosial yang terkandung yaitu seseorang seperti baginda raja walaupun memiliki jabatan yang tinggi, ia tetap membutukan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Artinya seorang raja itu juga makhluk sosial
µ Nilai Budaya :
Nilai Budaya yang terkandung yaitu samapai sekarang sistem kerajaan masih banyak diterapakan, masih banyak ditemukan sistem politik kekuatan, siapa yang memiliki kekuatan besar dan wewenang pemerintahan berhak untuk memerintah bawahannya.

µ Nilai Pendidikan :
Nilai Pendidikan yang terkandung yaitu didalam mengerjakan sesuatu, kita jangan terlalu cepat berputus asa, misalnya kita diberi tugas yang susah oleh guru, kita harus berusaha mengerjakannya.
µ Nilai Moral :
Nilai Moral yang terkandung yaitu jangan terlalu sewena-wena dengan jabatan, jadikan diri kita bermoral dengan berperilaku yang bermoral bagi sesama tanpa memandang status atau derajat.
µ Nilai Politik :
Nilai Politik yang terkandung yaitu dalam cerita tersebut diceritakan  sebuah cerita kerajaan, kerajaan merupakan sistem politik pada zaman dahulu  dan bahkan sampai sekarang masih diterapkan diberbagai negara dan daerah.

Tuesday, October 25, 2011

Kado Ulang Tahun Terindah

                                                                                                  Cipt:Ranianansyah
Musim hujan kini telah tiba,Imam dan kedua adiknya yaitu Fajri dan khairunnas  yang masih duduk dibangku SD kesekolah harus menggunakan payung untuk bertiga .suatu ketika karena seringnya sepatu Imam basah,akibatnya sepatunya rusak dan tidak lagi layak pakai,Imam sangat bingung apa yang harus dilakukannya,kini sepatu yang tiga tahun telah dipakainya kini telah rusak, sepatu yang merupakan hadiah suatu lomba yang dimenangkannya 3 tahun lalu.kini Imam kebingungan harus memakai apa kesekolah.ia juga tidak berani meminta sepatu baru kepada orang tuanya karena saat ini ia mengerti bahwa orang tuanya berada dalam masalah kekurangan ekonomi.akhirnya Imam harus kesekolah memakai sandal jepit.
            Suatu hari Imam kesekolah memakai sendal,baru ingin masuk ke kelasnya tiba-tiba  seorang laki-laki gemuk berbadan tinggi berpakaian dinas warna hijau mempercepat langkah menghampirinya,ia adalah pak Ilyas wakil kepala sekolah di SD itu,setibanya dihadapan Imam guru tersebut menatap Imam,Imam hanya diam dan tertunduk .”nak..! kenapa kamu memakai sendal ?,”kata pak ilyas dengan nada lembut,namun Imam hanya diam dan tertunduk,melihat Imam hanya diam dan tertunduk,pak Ilyas lalu melanjutkan “Imam…sebentar jam istirahat kamu menghadap di ruangan bapak yah..!!,”kata pak ilyas.namun Imam hanya mengangguk dan masuk kedalam kelas.
            Kriiiiiiiiiiiing….kriiing,bel istirahat pun berbunyi semua siswa nampak berhamburan keluar kelas,umumnya mereka nenuju kekantin untuk belanja,lain halnya dengan Imam nampak perlahan melangkah menuju sebuah ruangan di bagian selatan sekolah itu,yaitu ruangan kepala sekolah dan wakilnya.sesampainya didepan ruangan itu,Imam melangkah perlahan memasuki ruangan itu dan mengucapakan salam.seorang guru Nampak sedang duduk di ruangan itu,beliau adalah pak Ilyas,setibanya di hadapan pak Ilyas,imam hanya tunduk dan diam,”silahkan duduk nak..!,”kata pak Ilyas mempersilahkan Imam untuk duduk.Imam pun duduk dikursi didepan meja pak Ilyas,”nak..,kenapa kamu memakai sendal padahal kamu tahu kan bahwa ada peraturan sekolah tentang tata tertib berpakaian,yaitu setiap siswa diwajibkan memakai sepatu kesekolah,”kata pak Ilyas dengan nada tegas.”maafkan saya pak…!sepatu saya rusak,sedangkan orang tua saya tidak mampu untuk membeli sepatu baru untuk saya,”.pak Ilyas Nampak mengangguk ia mengerti dengan keadaan keluarga Imam yang memang kurang mampu.”iya nak..!!bapak mengerti,kalau begitu bapak memberi kebijakan lain kepadamu,kamu boleh memakai sendal kesekolah sampai orang tuamu mampu untuk membeli sepatu baru untukmu,”kata pak ilyas dengan nada lembut,”iya pak !! terima kasih,”kata Imam dan beranjak dari tempat duduknya hendak melangkah keluar ruangan tersebut.
            Keluar dari ruangan itu,saat  berjalan menuju kelasnya,Imam bertemu dengan Rangga sahabatnya.”Mam,kamu dari mana ? kamu kok murung begitu ?,”kata rangga kepada Imam,”aku datang menghadap pak Ilyas di ruangan kepala sekolah,karena aku memakai sendal kesekolah,sepatuku rusak,”jawab Imam sambil nenunduk.rangga menatap Imam dengan wajah prihatin ,rangga merasa simpati dengan Imam .
            Kriiiiing……kriiiiiiiiing….bel masuk telah berbunyi,semua siswa nampak berlarian masuk kelas,Imam dan Rangga berjalan bersama masuk ke kelas mereka.siswa dikelas itu nampak eserius memperhatikan penjelasan guru yang mengajar dikelas mereka.beberapa jam kemudian jarum jam telas menunjukkan pukul 12.30,tiba-tiba kriiiiiiiiiriiiiiiiiiirng……kriiiring,bel panjang berbunyi tanda pulang semua siswa memasukkan peralatan belajar mereka ke dalam tas masing-masing.dan bersiap pulang.
            Sepulang sekolah rangga dan Imam berjalan bersama,tak satu katapun yang terucap dari mulut mereka,namun sebenarnya dalam Hati rangga tertanam sebuah niat suci,Rangga menatap Imam dengan perasaan penuh simpati dalam hatinya berkata bagaimana perasaanku seandainya aku berada di posisi Imam sekarang apa yang akan aku lakukan,perasaan itu hampir membuat setetes air jatuh dari mata rangga,matanya Nampak berkaca-kaca menatap Imam.tanpa terasa mereka telah berada di depan rumah Imam,”Angga ,singgah dulu..!!,”kata Imam mengajak rangga sambil melangkah memasuki pagar rumahnya,”iya..makasih,aku langsung pulang saja,”.
            Siang itu sepulang sekolah Imam langsung mengambil air wudhu dan mengajak adik-adiknya untuk sholat.”dek,sholat yuk..!,”kata Imam mengajak adiknya.”iya kak…!,”sahut kedua adiknya.mereka pun sholat dhuhur berjamaah,sehabis sholat mereka berdoa,dalam hati imam berdoa “ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku,dosa adik-adikku,dosa teman-temanku,dosa guru-guruku dan dosa pemimpinku,berilah aku ketabahan menjalani hidup ini,jadikanlah  aku anak yang berguna dan berbakti kepada orang tua,lindungilah aku dan keluargaku dari segala malapetaka dan marabahaya,serta bukakanlah pintu rezeki-Mu kepada keluargaku,amien ya rabbal alamin,”.sedangkan kedua adiknya juga ikut berdoa seperti Imam,doa mereka sangat mulia,sungguh anak-anak yang polos.sehabis sholat,mereka lalu makan siang bersama,didapur ibu mereka telah menyiapkan telur dadar kesukaan mereka.
            Di rumah Rangga,Rangga sedang baring di kamarnya.ia terpikirkan Imam di sekolah tadi,ia berusaha untuk membantu Imam namun ia belum terfikir apa yang harus di lakukannya,ia Nampak kebingungan,namun beberapa saat kemudian tiba-tiba ia mendapat ide,ide yang sangat cemerlang.”aha..aku punya ide..!,”katanya dengan perasaan gembira.
            Nampak matahari di ufuk barat telah tenggelam azan berkumandang di masjid,seperti biasa Rangga menuju ke masjid dan menunggu Imam di gerbang masjid,tak lama menunggu,Imam dan kedua adiknya telah datang untuk sholat berjamaah,mereka  bersama-sama masuk ke masjid untuk sholat maghrib,sehabis sholat seperti biasa mereka tadarrusan bersama dibawah bimbingan guru agama di desa itu yaitu pak Zaenal.kali ini bacaan mereka adalah surah An-Nisaa….tiba giliran Imam membacakan beberapa ayat,ia membacanya dengan penuh semangat dan cara yang benar,walaupun sebenarnya ia berada dalam beberapa masalah ekonomi yang menimpa keluarganya namun ia tetap tegar dan semangat dalam menjalankan ajaran agama.Rangga sangat bahagia melihat sahabatnya yaitu Imam tetap tegar dalam menjalani masalah hidupnya,ia semakin merasa simpati kepada Imam.
            Setelah semua siswa mendapat giliran membacakan beberapa ayat, waktu Isya telah tiba mereka kemudian kembali sholat berjamaah,sehabis sholat mereka pun pulang kerumah,di perjalanan Rangga menatap Imam sambil tersenyum ia terpikirkan idenya tadi siang untuk membantu Imam,”kamu kenapa Angga ? kok senyum-senyum sendiri !,”kata Imam melihat Rangga sering senyum-senyum sendiri,”aku nggak apa-apa kok !,”jawab rangga,namun sebenarnya dari tadi ia senyum karena ia merasa ia akan berhasil dengan idenya untuk membantu Imam.
            Asik ngobrol di jalanan nggak terasa mereka telah sampai di depan rumah Rangga,”mampir dulu yuk..!,”kata rangga mengajak Imam dan adik-adiknya untuk mampir di rumahnya,”iya Angga,aku langsung pulang saja…! Makasih..aku mau belajar.,”jawab Imam.sesampainya dirumah Imam dan adik-adiknya lalu makan malam bersama dengan ayah dan ibunya,suasana makan malam itu sangat harmonis walaupun sehari hari lauk mereka hanya telur dadar namun keluarga mereka Nampak bahagia dan lahap dalam menyantap makanan itu seolah tiada beban diantara mereka.Sehabis makan Imam dan adik-adiknya langsung belajar,kadang kalau adik-adiknya kurang mengerti dalam pelajaran di sekolah mereka selalu meminta bantuan kakaknya yaitu Imam,pantas saja mereka selalu berprestasi di sekolah itu semua karena ketekunan mereka dalam belajar,mereka nampak akur satu sama lain.
            Sementara dirumah rangga,sehabis makan malam,rangga sedang duduk bersama dengan ayah dan ibunya diruang keluarga,hari ini Rangga Nampak aneh biasanya sehabis makan ia langsung belajar namun kali ini ia duduk didekat ayahnya dan menonton TV,tiba-tiba “pak boleh nggak aku bantu orang.?,”kata rangga,”boleh nak..,emangnya kamu mau bantu siapa,?”jawab pak Rahmat ,”aku mau bantu Imam pak,sepatunya rusak sedangkan orang tuanya tidak mampu membelikannya sepatu baru,”kata Rangga lagi,”oh iya besok ayah mau ketoko,sekalian ayah akan membelikan sepatu baru untuk Imam,”kata pak Rahmat,ayah rangga.rangga bersorak ria “horeee…horeee,”katanya dengan perasaan sangat senang,ia merasa idenya untuk membantu Imam akan berhasil.kemudian Ayah Rangga melanjutkan,”oh …iya kapan kamu mau memberikannya untuk Imam ?,”lanjut pak Rahmat,Rangga Nampak berfikir sejenak .tiba-tiba “aha…lusa,tanggal 11 april Imam ulang tahun yang ke 12 ,aku akan memberikan sepatu itu sebagai kado ulang tahun,”jawab Imam.
            Keesokan harinya,setelah Rangga berangkat sekolah pak Rahmat lalu ke toko untuk membeli beberapa keperluan sekaligus membeli sepatu untuk Imam,pak Rahmat memang terkenal dengan kedermawanannya,beliau tidak tanggung-tanggung membantu orang lain,pantas saja,ia memperoleh banyak rezeki,perkebunan tehnya berkembang pesat dengan keuntungan yang besar.banyak pekerja Pemetik teh yang bekerja dikebun teh pak Rahmat merasa senang bekerja dikebun pak Rahmat,bahkan ada yang telah bekerja hingga 10 tahun lamanya.pak Rahmat dikenal ramah dan baik hati terhadap setiap orang.
            Sementara di sekolah saat belajar,Rangga sangat sering menatap Imam dan tersenyum,Imam semakin bingung melihat sikap Rangga,namun ia tetap serius belajar.dari tadi Rangga sudah tidak sabar untuk pulang,ia sangat ingin melihat kado berisi sepatu yang akan diberikannya besok kepada Imam sebagai hadiah ulang tahun.beberapa jam kemudian bel jam pulang berbunyi,semua siswa berhamburan keluar kelas,seperti biasa Imam dan Rangga pulang bersama,Rangga benar-benar menunjukkan sikap yang aneh,ia selalu menatap Imam dan tersenyum sendiri,tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir mereka,Imam hanya diam melihat keanehan Rangga selama dua hari ini.
            Sesampainya di rumah Rangga langsung menagih ayahnya,”yah….! Mana kado untuk Imam ?,”kata Imam Nampak terburu-buru,”tenang-tenang ayah sudah menyiapakannya,bahkan sudah di bungkus,!”jawab pak Rahmat dengan tenang.Rangga semakin senang dan bersorak ria.kado itu ia bawa ke kamarnya.
            Keesokan harinya saat matahari terbit dari ufuk timur,tanggal 11 april 2011,pagi-pagi sekali Rangga mandi dan mempersiapkan kado yang akan di berikannya  untuk Imam.hari ini adalah hari ulang tahun Imam tapi mungkin Imam lupa dengan hari ulang tahunnya jadi hadiah yang akan diberikan oleh Rangga akan menjadi kejutan besar untuk Imam.pagi-pagi sekali ia berangkat kesekolah dan membawa kadonya dengan bungkusan besar,ia menyembunyikan kado itu di suatu tempat disekolahnya.
            Beberapa saat kemudian,Imam telah tiba di sekolah,dia disambut oleh Rangga dengan sedikit senyuman.Imam kini benar-benar bingung dengan sikap Rangga yang semakin aneh,selama tiga hari ini Rangga sering senyum-senyum sendiri jika melihat Imam,semenjak sepatu Imam rusak,sejak saat itu rangga menunjukkan sikap yang sangat aneh.Namun Imam tidak terlalu memikirkan hal itu,dia hanya menganggap itu hal yang biasa.
            Beberapa jam telah berlalu,hari itu benar-benar hari yang melelahkan,betapa tidak semua mata pelajaran pada hari itu mengadakan ulangan harian,tanpa terasa waktu belajar di sekolah hari ini kini usai,bel pulang telah berbunyi dan seluruh siswa Nampak berhamburan keluar kelas.namun ketika hendak keluar kelas,Rangga menarik tangan Imam,kini tinggal mereka berdua di kelas itu,”tunggu di situ sebentar,”kata Rangga kepada Imam,Imam hanya diam dan menuruti perkataan Rangga,Rangga segera berlari menuju sebuah tempat dibelakang sekolah,ternyata ia hendak mengambil kado yang disimpannya tadi pagi,ia bergegas mengambil bingkisan kado itu dan berlari kembali kekelas.sesampainya di kelas ia melihat Imam sedang duduk di bangku,ia kemudian menyerahkan bingkisan kado itu kepada Imam,”Mam selamat ulang tahun,ini hadiahku untukmu,”kata Rangga kepada Imam,”makasih Angga,aku lupa hari ini aku ulang tahun,ini apa?,”,rangga menjawab”sama-sama,kamu boleh buka kado ini kalau kamu sampai dirumah.
            Setelah memberikan kado itu, mereka pulang kerumah sepanjang perjalanan pulang kerumah Imam Nampak penasaran dengan isi bingkisan kado itu,ia kini tau jawaban akan keanehan Rangga selama ini,ternyata ia sedang berencana memberikan kado untuknya,di hari  ulang tahunnya yang ke dua belas.
            Sesampainya dirumah ia dikejutkan oleh suara adik-adiknya,”selamat ulang tahun kami ucapkan….,”kata adik-adik Imam.ternyata keluarganya dirumah juga telah menyiapkan acara kecil-kecilan untuk merayakan hari ulang tahun Imam.Bu St.Humairah telah memasak sop ubi untuk merayakan ulang tahun Imam.”itu apa kak ?,”Tanya adik-adik Imam sambil menunjuk bingkisan besar yang dibawa oleh Imam,”oh..ini kado ulang tahun dari Rangga !,”jawab Imam sambil membawa bingkisan itu masuk kedalam kamarnya.ia Nampak tidak begitu peduli dengan isi bingkisan tersebut.sehabis melepas seragam sekolahnya ia mengajak adik-adiknya untuk sholat dhuhur berjamaah,setelah sholat mereka dengan lahap menyantap sop ubi buatan biu mereka yang sangat lezat,Imam dan adik-adiknya hari ini merasa sangat bahagia sungguh makanan yang sangat enak dihari ulang tahun Imam yang ke 12,sehabis makan adik-adiknya merasa penasaran dengan isi kado pemberiaan rangga,”kak..kak..buka dong kado dari rangga..!,”kata adik-adiknya membujuk Imam,”iya..iya tunggu sebentar,kakak ambil kadonya,” Imam menuju kekamarnya dan mengambil kado pemberiaan Rangga,ia membawa kado itu keruang keluarga,diruangan itu ada adik-adik Imam dan ibu Imam sedangkan ayahnya ada disawah untuk melihat tanaman padi mereka.Imam membawa kado itu dengan langkah perlahan,adik-adiknya nampak penasaran dan serius akan isi kado itu.
            Saat yang mendebar-debarkan telah tiba,Imam akan membuka kadonya dan ternyata…..ternyata isi kado itu adalah sebuah sepatu baru,Imam tak menyangka kalau isi kado itu adalah hadiah yang sangat di harapkannya,kini lengkaplah kebahagiaan itu,Imam tak berucap kata apapun adik-adiknya juga mereka semua melongo melihat sepatu itu,sepatu yang sangat bagus bahkan kelihatan dari bentuknya sepatu itu pasti sangat mahal,”Alhamdulillah yaa Allah,”kata Imam dengan penuh syukur,Imam merasa sangat senang,kini ia telah punya sepatu baru dan ia tidak lagi memakai sendal kesekolah.
            Hari itu adalah hari yang terukir indah dalam masa hidup Imam,ini adalah hari ulang tahun terindah dalam hidupnya yang mungkin akan ia kenang sebagai sejarah hidup abadi.Imam tak menyangka kalau hari itu akan seindah seperti yang dirasakannya,baru kali ini ia merasakan kebahagiaan yang sangat besar seperti yang dialaminya hari ini.ia tidak akan pernah melupakan kari yang bersejarah itu.