Saturday, February 9, 2013

Essai Motivasi


Seharusnya Berterima Kasih (BUKAN kecewa)
Oleh : Raniansyah

s
aat ini, dini hari(10 Februari 2013) saya terbangun sekitar pukul 03.00 WITA tidak tidur lagi sampai pagi, tidur hanya 2 jam..:D ingin menulis pengalaman.*** Seharusnya saya belajar dan bercermin bahwa setiap kata-kata harus dilandasi dengan landasan faktual yang mendalam, tidak sekedar landasan teoritis yang mungkin saja diragukan.  Saya salah!, selama ini saya mungkin terlalu terpacu pada teori tanpa peduli dengan praktik, padahal untuk menjadi seorang penulis yang bisa disenangi pembaca, kemampuan tidak hanya sekedar kemampuan mengotak-atik kata tetapi juga harus mampu membuat sebuah cerita mengalir  karena diangkat dari kisah nyata dari si penulis.  Dini hari ini, saya berfikir bahwa tidak ada cerita yang benar-benar fiktif, karena pasti selalu saja ada sekelumit dari cerita tersebut yang sebenarnya telah terjadi kepada diri sendiri dan orang lain. Pastinya itu merupakan skenario Tuhan dan tentunya itu menarik. Untuk menulis tentang cinta tentu penulis yang pernah jatuh cinta akan lebih mengerti dibanding penulis yang belum pernah merasakan cinta, begitupun dengan benci, sakit hati, kecewa, dan lain sebagainya. Jelas yang pernah mengalami/merasakan lebih pantas dipercaya. Tapi saya tidak!, mungkin, jika saya seorang penulis maka saya akan memutuskan melepaskan gelar saya sebagai penulis daripada saya harus merasakan sakit hati. Mungkin penulis lain akan mencobanya karena tulisan-tulisan semacam perasaan sakit hati itu tidak pernah lapuk dan selalu disenangi sejumlah kalangan, ini tentunya menaikkan pamor mereka di depan publik. Tapi mungkin saya memang bukan bakal penulis karena sakit hati itu rasanya benar-benar  sakit, ketika bagian itu yang sakit. Sepertinya semua indera, sulit lagi bersahabat dengan tubuhnya dan jujur saya tidak ingin merasakan itu.
          Di sisa malam (9 Februari 2013) saya kecewa, saya sakit hati, saya malu dan saya tertawa. Katanya seorang penulis itu harus kuat, dan tahan banting terhadap segala hal. Teringat peristiwa pembredelan pers (Detik, Tempo dan Editor) pada masa orde baru, tapi toh! mereka selalu bangkit dan memperjuangkan tulisan mereka. Saya selalu mengatakan “Jangan menangis, karena itu tanda lemah. Dan itu bukti bahwa kita benar-benar kalah”, teori itu setelah malam ini, mungkin takkan pernah lagi saya katakan. Saya merasakan sendiri bahwa keadaanlah yang memaksa seseorang menangis sehingga saya tidak akan pernah lagi melarang seseorang menangis tapi mungkin saya akan berusaha menghapus air matanya, mungkin begini lebih baik.. “menangislah sepuasmu, hingga kau merasakan rasa sakitmu terobati, sampai kau merasa sakit itu terangkat dari palung hatimu” .
 Alhamdulillah Tuhan masih menguatkan saya, saya masih mampu menahan untuk tidak menangis  hingga jemari ini sanggup bergulat diatas keyboard laptop, merangkai sejumlah kata-kata yang telah kupikirkan, lebih tepatnya menghantuiku di sepanjang perjalanan kembali ke rumah dari lokasi Islamic camp di desa Ale’ Sipitto yang kuperkirakan berjarak tidak kurang dari 15 km. Tiga puluh menit lebih dalam perjalanan itu, hanya kata-kata penyesalan yang tampak dihadapanku. Malam itu, saya ke lokasi Islamic Camp karena dua hal,  karena NASIONALISME dan  karena CINTA,  tapi hampir saja keduanya tidak saya temukan.  Sesampaianya saya disana, seperti tidak ada hal yang menarik. Mungkin itu tanda agar saya segera pulang, tim qasidah sekolahku, undian tampilnya belum kena juga. waktu bergulir begitu cepat menghampiri tengah malam,  kedua sahabat yang bersamaku ke lokasi ingin pulang karena waktu memang telah larut malam. Saya masih menunggu untuk mencapai tujuan kedua, untuk tujuan pertama setidaknya saya telah datang mendukung mereka sebagai wujud nasionalisme, lebih rincinya sih! SEKOLAHISME…hehe. Beranjak mencoba tujuan kedua. Yah!, saya benar-benar ingin menyaksikan dia (3010) tampil, dia yang bla,…bla…yang banyak kuceritakan pada keyboard laptopku tanpa sepengetahuannya.  Tapi nomor undian tim sekolahnya, termasuk dia belum kena juga, saya mencoba berkomunikasi dan mengajaknya ngobrol tapi saat itulah saya kecewa karena sungguh responnya menandakan sesuatu yang sama sekali tidak dibutuhkan menandakan bahwa saya malam itu hanya semak tanpa arti. Sebenarnya  saya memang tidak pernah mau dan malu mencobanya karena terus terang, saya tidak pernah ngobrol dengan cewek dalam lingkup spesial. Tapi ada kedua sahabat yang memotivasi untuk mencoba, dan percobaan pertama gagal segagal-gagalnya. Saya tidak tahu akan mencobanya lagi atau tidak? mengulang sakit hati yang sudah saya rasakan, saya mencoba tersenyum dan tertawa di depan teman-teman sekolahku, walau sakit itu telah menjerat internalku.  Hmm…saya hanya ingin berterima kasih kepadanya, dia telah memberi saya praktik, sehingga sekarang saya lebih paham dengan sakit hati dan sekarang saya bebas menulis tentang sakit hati, setidaknya saya sudah memiliki satu pengalaman dan bisa dipercaya, dibanding mereka yang selalu saja menulis….menulis…menulis tapi tidak pernah merasakan. Terima kasih yah!, walaupun sakit, ini pengalaman yang sangat berharga sekaligus sebagai bukti ekstrimnya dunia kasih-sayang, lebih ekstrim daripada perjalanan ke lokasi Islamic Camp malam itu.
Saya memang cukup kaget ketika sampai di tenda perkemahan sekolahku karena teman-teman di sana langsung menceritakan insiden pada saat lomba (maaf!, saya tidak perlu menyebutkan insidennya). Tiba-tiba ketika teman itu bercerita tentang dia (3010), seorang cowok yang sama sekali tidak kukenal, bukan teman sekolahku, sepertinya merespon nama dia dengan sangat berbeda, seperti sesorang yang begitu kenal dan dekat , “ iyo, dia…dia manai dia?” (kata dia merupakan samaran dari nama asli cewek yang kumaksud (3010)), itu katanya sambil kelihatan panik melihat sekelilingnya. Respon yang sangat aneh, dan membuat saya tersinggung. Bagaimana mungkin, ada seorang teman yang reponnya sampai segitunya seperti tanda begitu peduli dan suka???.  Entah apa yang saya rasakan? Saya tersinggung, cemburu atau apa?. Fajri dan Rangga yang waktu itu terus bersamaku, ternyata merespon sama dengann yang kupikirkan “eh…nulihatji itu tadi cowok yang di depan tenda? Apa nabilang waktu disebutki namanya ………… kayak mencurigakan sekali…tapi bukan kulihat teman ato adek kelasta itu,” kata Fajri kepadaku.. benar! ternyata ada yang merasakan hal yang sama dengan apa yang kupikirkan. Tapi saya mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu karena saya sudah yakin dan percaya pada 3010, mungkin cowok itu aja…yang asal. Mencoba melupakan itu, walaupun respon cowok itu masih terbayang hingga tulisan ini mengalir. Saya mencoba mencapai tujuan saya ke kegiatan Islamic Camp itu.
Tapi malam itu, bisa jadi merupakan malam terburuk sekaligus berharga dalam hidup saya, saya kembali belajar bahwa ini tidak hanya sekedar kata-kata tetapi jauh lebih luas dari itu dan tidak sesederhana yang selalu terpikirkan. Mungkin bisa saja selama ini, saya memberi masukan dan saran kepada seseorang tentang perasaan, tapi sungguh saya tidak pernah paham dengan kejadian sebenarnya karena sungguh baru malam itu saya belajar. “ oh ternyata begini rasanya,” gumamku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sekitar pukul 11.00 WITA, kulihat kecepatan motorku pada speedometer hanya berkisar 20-25 km/jam, sangat lambat untuk perjalanan yang lumayan jauh, ektrimnya perjalanan waktu itu, tidak kurasakan lagi. Gelap, sepi, dan batas-batas perkampungan yang sering dianggap keramat tak lagi kupedulikan. Benar-benar konyol, kok bisa-bisanya saya berfikir “ kalau saya dipanggil Tuhan malam ini, biarkan saja,” saya sampai melupakan cita-cita untuk mengenakan almamater kuning dengan panji merah. Tapi ketika saya menulis tulisan ini, saya berfikir, “Tuhan,…tolong jangan panggil saya, sebelum cita-cita saya terwujud, sebelum orang-orang yang pernah memberi saya cinta dan benci merasakan hasil kerja saya, sebelum masyarakat kampung saya bangga karena saya, sebelum Indonesia beruntung karena ada saya,” terlalu kePedean bukan?, haha…setiap orang berhak berpendapat, berserikat dan bercita-cita dan itu hak asasi.
Seharusnya saya berterima kasih (BUKAN kecewa), malam itu saya belajar sakit hati karena cinta untuk pertama kalinya….dan malam itu saya belajar dan yakin bahwa teori tanpa praktik bagaikan sayur tanpa garam, kelihatan enak tapi kalau tidak ada garamnnya, rasanya kan tidak lucu? Haha. Terima kasih untuk orang yang memberiku pelajaran malam itu. Kini saya tidak perlu lagi takut untuk menulis tentang cinta dan sakit hati karena kan saya sudah merasakannya. Memang rasanya sakit, dicuekin itu sakit, direspon tidak baik itu sakit, atau apapun yang menurut kalian sakit. Tapi yakinlah sakit-sakit itu kelak akan bermanfaat bagi orang banyak.  Tergantung kita sih!, darimana kita mau memandangnnya, kalau kita mau berspektif positif, tentu semuanya akan baik-baik saja apapun yang terjadi. Tidak perlu ada kata ‘sorry’ kata orang bugis, atau ‘maaf’ kata orang Indonesia, atau ‘addampeng’ kata orang Inggris dari orang yang membuat kita sakit itu. Karena seharusnya kita berterima kasih, dia telah mengajarkan kita satu hal lagi. Seperti peyakit cacar, seseorang yang sudah terkena penyakit cacar. Sebagian besar tidak akan pernah terjangkit lagi karena sudah ada proteksi dari dalam tubuh yang mengenali jenis penyakit itu sehingga ketika muncul gejalanya, segera ditanggulangi, sama halnya dengan orang yang belajar naik motor, sulit baginya untuk ahli banting stir kiri-kanan kalau tidak pernah terjatuh, Valentino Rossi kan pernah terjatuh saat balapan di sirkuit, betul kan?. Begitupun dengan perasaan, kalau kita hanya merasakan manisnya, lama-kelamaan juga bosan. Sekali-kali rasakan yang pahit, asin, etc dengan begitu kita tentu belajar  tentang ilmu yang sangat bermanfaat. Pare contohnya, siapa yang menyangka buah/sayur  keriput nan pahit itu banyak bermanfaat bagi kesehatan terutama masalah pencegahan dan penanganan kanker. Tidak selamanya manis itu bermanfaat, toh! manis bisa membuat diabetes….dan tidak selamanya pahit itu tidak baik. Intinya pandang segala sesuatu dengan positif . INSYAALLAH!! Hasilnya positif. Jangan pernah takut untuk sakit, sakit hati…dan sakit-sakit yang lain karena dari situ ada manfaat dan pelajaran. Saya buktinya!, jika saya tidak sakit hati malam itu (9 oktober 2013) maka tulisan ini pasti tidak akan pernah kalian baca. Berterima kasihlah kepada orang yang membuat kita sakit, karena itu tanda kasih sayang…jadi kalau kita sukses jangan pernah melupakan orang/sesuatu yang pernah membuat kita sakit. Tuhan kan kadang membuat kita sakit karena DIA peduli dan sayang kepada kita, tapi pasti DIA juga bakal menyembuhkan kita. PercayalahJ!*(rn1130)
Pangkep, 10 Februari 2013

Tuesday, February 5, 2013

KUMPULAN ESSAI 1


Aturan Tanpa Makna
oleh : Raniansyah
Tak habis pikir, kejujuran seperti telur diujung tanduk. Sangat rentan untuk pecah dan jatuh dalam jurang dusta, yah! tentunya dilakukan oleh pendusta. Dusta setidaknya telah menjadi penopang eksistensi republik ini. Bukankah koruptor adalah pendusta? bukankah pelanggar adalah pandusta? Yah!, bahkan yang lebih bodoh lagi, ada orang yang mendustai dirinya sendiri. Hmm!, bukankah negara ini sekarang telah dipenuhi oleh mereka (para pendusta), akibatnya aturan yang diciptakan untuk dipatuhi, kini diciptakan untuk dilanggar. Negeri kita kini telah dihuni oleh jutaan orang yang pasti telah berdusta dan inti dari sebuah dusta itu adalah pelanggaran aturan.
Akhir-akhir ini penikmat berita tentu tahu berita korupsi Simulator SIM di Korps Lalu-lintas Mabes Polri yang menyeret dua petinggi Polri. Berikutnya siapa yang tak tahu berita “Dahlan Iskan (Kementrian BUMN) Vs DPR” yang juga mnyangkut masalah korupsi, dan yang terbaru adalah rekomendasi Pemecatan Hakim Agung Yamani oleh Komisi Yudisial (KY) karena kelalaian menuliskan vonis untuk gembong narkoba  menunjukkan adanya permainan mafia peradilan. Berita-berita tersebut menjadi berita paling popular terdengar di telinga kita dan singgah di pelupuk mata kita,  karena hampir semua pers memberitakan hal tersebut. Bukankah hal diatas menjadi bukti bobroknya aturan kita? Bukankah hal diatas cukup menjadi bukti betapa krisisnya kita dalam hal kepatuhan. Pertanyaan besar untuk permasalahan tersebut adalah jika lembaga/orang yang seharusnya berada  pada barisan paling depan dalam menegakkan aturan dan membela kebenaran telah melanggar, bagaimana dengan yang bukan lembaga/orang yang tugasnya bukan penegak hukum.
***
 Rabu, 7 November 2012, Saya dan beberapa orang teman ikut untuk menyaksikan kompetisi Sains yang diadakan tingkat kabupaten oleh salah satu lembaga bimbingan belajar (mohon maaf, nama lembaga dirahasiakan) yang di sponsori oleh salah satu perusahaan. Kebetulan dalam kompetisi ini, 13 dari 16 semi finalis berasal dari sekolah saya, SMAN 2 Pangkajene(SMADA). Hmm.. tahun ini kami mengikuti kompetisi sains ini dengan perasaan yang tak tenang, betapa tidak? Sekolah kami telah meraih piala bergilir selama 2 kali berturut-turut, dan apabila tahun ini kembali berhasil maka piala tersebut akan menjadi piala tetap. Perasaan ini semakin tak tenang kala ada salah satu dari panitia lomba tak sengaja melontarkan kalimat “kalau saya ada, dipastikan tahun ini SMADA tak bakal dapat juara,” kepada salah seorang Guru SMAN 2 Pangkajene. Akhirnya hari itu dewan guru memutuskan untuk meminta transparansi dari pihak panitia mengenai hasil pemeriksaan dan meminta agar dewan guru dapat melihat proses pemeriksaan. Namun anehnya, entah mengapa panitia sepertinya menolak dengan alasan yang sungguh tak masuk akal. Kepala sekolah saya sempat berpesan jika memang tak bisa transparan lebih kami kembali ke sekolah dan tak ikut lomba.
            Miris, sangat memiriskan hati, akhirnya kami meninggalkan auditorium perusahaan yang menjadi sponsor, untuk kembali ke sekolah. Namun ternyata pihak guru menemui pihak perusahaan sponsor kegiatan ini dan diadakanlah perbincangan dan kesepakatan antara pihak lembaga bimbingan belajar dengan pihak sekolahku. Senyum yang sebelumnya begitu indah terpancar diantara wajah teman-teman para peserta kini berubah jadi suasana tegang. Satu kalimat yang tak mungkin saya lupakan. Entah apa yang dipikirkannya? entah dia waras atau sudah gila? Salah seorang panitia lomba datang memotong penjelasan guru saya dan berkata “Di Indonesia sekarang pak, sudah tak ada kejujuran!, di sekolah juga begitu!,” katanya dengan wajah emosi sambil menunjuk-nunjuk guruku. Hah?, jika di Indonesia sekarang memang tak ada kejujuran, apakah pada lomba ini juga demikian? Haha!, bukankah itu adalah sebuah pengakuan otomatis bahwa memang ada kecurangan dalam kompetisi ini.
***
            Hari itu akhirnya niat kami untuk pulang dibatalkan karena telah ada kesepakatan yang setidaknya adil untuk kedua belah pihak. Tapi ada satu hal lagi yang mencurigakan bagi saya. Ada persyaratan yang terletak paling bawah yang ditampilkan melalui slide show yang jelas mengundang tanda tanya besar. “Keputusan panitia tak dapat diganggu gugat,“. pertanyaannya, mengapa hanya peraturan ini yang dicetak tebal dan bergaris bawah? sementara bukankah peraturan yang lain seharusnya sama?. Ini seolah terjadi penekanan yang menurut saya kelewat batas. Kalau panitia selalu ingin berlindung pada aturan ini? Maka dimana lagi pelajar Indonesia mampu menemukan kompetisi yang sehat? Dengan aturan ini, berarti panitia bisa menentukan keputusan semaunya walau tanpa kewajaran karena tak dapat diganggu gugat. Bukankah seharusnya keputusan yang mutlak tak dapat diganggu-gugat hanya keputusan Tuhan? Kompetisi yang seharusnya mendidik justru membuat pelajar kita semakin terpuruk. Aturan aturan seperti ini patut dikategorikan aturan tanpa makna.
            Cerita diatas adalah sesuatu yang wajar, bukankah beberapa aturan di Indonesia katanya diciptakan untuk dilanggar? Katanya, apa gunanya aturan kalau tak dilanggar?.  Zebra cross, kini hanya hiasan hitam-putih di jalanan, toh banyak orang menyeberang sembarangan. Hal ini mengingatkan saya dengan sebuah esai Asdar Muis RMS dalam bukunya “Tuhan Masih Pidato”, ada sebuah esai di dalam buku tersebut yang isinya tentang orang Asing yang kesulitan menyeberang dan mondar-mandir di jalan yang sama karena tak menemukan Zebra Cross untuk menyeberanng, ia tak tahu kalau di Indonesia, orang boleh menyeberang sembarangan walau tanpa Zebra Cross. Tanda Larangan Parkir…toh kita sering melihat kendaraan parkir dibawah tanda-tanda larangan tersebut. Yah!, itu aturan yang sungguh tak bermakna, katanya…, lampu kendaraan juga harus dinyalakan di siang hari, tapi ketika saya nyalakan lampu motor siang hari, secara bergantian orang di jalan menegur “eh…lampu motormu menyala,”. Saya semakin bingung, sebenarnya siapa yang salah sih? Saya atau si penegur yang tak mengerti aturan? toh banyak juga aparat kepolisian yang tak menyalakan lampu motornya di siang hari. Mengenai aturan penggunaan Surat Izin Mengendara (SIM), siapa yang bisa menjamin bahwa semua aparat kepolisian mengantongi SIM saat berkendara? Haha, tak ada!, sepertinya aturan kita memang ada untuk dilanggar.

             Hal diatas masih secuil dari kebohongan-kebohongan dan dusta aturan kita. Aturan kita seperti fatamorgana, terlihat dari jauh namun ketika mendekat, sama sekali tak ada. Memiriskan hati bukan?.  Hmm!, yang lebih memprihatinkan adalah saat prinsip kesuksesan digunakan untuk melanggar, misalnya “kalau bukan saya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” prinsip yang seharusnya digunakan untuk motivasi sukses justru digunakan untuk melanggar. Katanya, ”kalau bukan saya yang melanggar, siapa lagi? Dan kalau tak sekarang saya melanggar yah kapan lagi,?”. Apa jadinya negeri ini?
            Di pertengahan bulan November 2012, saya dan beberapa orang teman sempat memperdebatkan beberapa aturan sekolah yang dianggap memiliki pro-kontra.  Saya kebetulan waktu itu membela peraturan agar tak dilanggar, tapi satu kalimat yang masih saya ingat diutarakan seorang teman (maaf!, nama tak disebutkan) yaitu  “aturan itu memiliki dua fungsi, yang pertama untuk dipatuhi dan yang kedua untuk dilanggar,” itu katanya, saya hanya  terdiam namun saya tak mengalah karena menurut saya aturan itu ada agar tak ada yang melanggar dan aturan itu ada berdasar pada latar belakang masalah yang bertentangan dengan ideologi kita yaitu pancasila yang terbagi lagi dalam beberapa aturan pokok dan dasar. Tapi itu hanya menurut pendapat saya, lalu benarkah yang dikatakan oleh rekan saya itu bahwa aturan itu memang ada untuk dilanggar? Tapi kok malah saya merasa kalau justru kebanyakan yang melanggar daripada yang mematuhi?,
***
Ada lagi yang mengundang perhatian dan rasa penasaran saya untuk bertanya, mengapa sampai sekarang perokok semakin banyak bahkan menjamur di kalangan pelajar? padahal dalam kemasan rokok pasti ada tulisan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Hmm, jika diperhatikan secara mendalam, tulisan tersebut kini hanya kiasan dan hiasan belaka, toh tak ada yang peduli. Bahkan mungkin jika seandainya kemasan rokok hanya dipenuhi tulisan itu maka perokok masih akan tetap merokok. Itu karena tulisan itu ada tanpa perhatian dari penikmatnya.
Selasa 10 Juli 2012, saat berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta,  sembari menunggu keberangkatan pesawat ke Batam, saya duduk di koridor-koridor dekat ruang tunggu sambil melihat orang yang lalu-lalang, seketika perhatian saya tertuju pada seorang ibu yang merokok di depan  saya, anaknya yang berumur sekitar 5 tahun terus merengek di depannya tapi ia tetap merokok, sungguh ia contoh ibu yang buruk, ia telah menjadikan seoarang anak berumur 5 tahun menjadi perokok pasif dan itu adalah anaknya sendiri, saya hanya bisa menggeleng sambil menutup hidung dan mulut saya. Yang lebih parah lagi, pada tiang dekat tempat ia duduk, terdapat tulisan larangan merokok di area itu, apalagi telah disediakan ruangan khusus untuk merokok, tapi masih juga melanggar. Memang sih! waktu itu tak ada petugas bandara yang menegur namun bukankah aturan itu diciptakan untuk dipatuhi walau tanpa pengawasan? ataukah memang aturan kita itu secara nyata dan pasti ada untuk dilanggar? Entahlah! Tapi seharusnya semua orang peduli dengan krisis kepatuhan ini. Siapa sebenarnya yang bodoh dan gila?  banyak aturan yang sebenarnya menguntungkan dan hendak menyelamatkan kita, namun entah mengapa banyak yang melanggar. Itu kenyataan pahit negeri ini yang harus kita terima. Bahkan saya sempat berpikir jika kita ingian menulisakan semua masalah pelanggaran aturan manusia negeri ini dalam sebuah buku, maka beribu-ribu halaman tak bakal cukup untuk menuliskan semua masalahnya sejak negeri ini lahir. Sebagai mahluk yang menghargai sejarah sudah sepatutnya kita menengok ke belakang dan bercermin pada sejarah, apa yang perlu kita saksikan? Mengapa orde lama berubah menjadi orde baru? Lalu mengapa akhirnya orde baru mengalami keruntuhan lalu lahirlah reformasi? Lalu masihkah kita ingin melihat perubahan orde hanya karena masalah dan ulah yang kita lakukan, tidakkah pelanggar sama dengan binatang yang sungguh tak mengerti menempatkan aturan?.
***
Cukup hal ini menjadi pelajaran buat kita sekalian, saya sempat berpikir,  kalaupun kita salah satu tersangka pelanggar maka semoga kita cepat sadar untuk setidaknya mengurangi sedikit demi sedikit dari krisis kepatuhan itu, jangan sampai aturan-aturan yang ada di negeri ini hanya hiasan dinding, kiasan, fana, dan tak pernah bermakna!, mari kita kembali merenung, jika setiap orang membuang sampah sekecil kemasan permen, itupun akan menutup bumi ini dengan sampah, lalu analogikan hal tersebut dalam pelanggaran aturan, jika setiap orang melanggar aturan sekecil apapun itu maka berapa besar makna kepatuhan yang lenyap ditelan dusta. Bahkan masih lebih deras dari derasnya Amazon dan bahkan lebih tinggi dari tingginya puncak Himalaya. Hmm…kita adalah ttik perubahan dan setiap manusia harus berusaha menjadi titik. Bukankah kumpulan titik-titik itu akan membentuk garis dan itu berarti dengan menjadi salah satu titik patuh aturan maka secara otomatis kita telah membantu lahir dan berkembangnya era kepatuhan. Yah!..tentunya era para orang jujur dan masa punahnya pendusta. Kita harus mematuhi aturan walau tanpa pengawasan. Jika orang lain tak mampu kita pengaruhi untuk patuh aturan maka sepantasnya diri sendiri menjadi awal untuk berubah. Kita hanya punya dua pilihan, melihat Indonesia musnah karena pendusta yang tak mengerti aturan atau melihat Indonesia maju karena kita menjadi salah satu bagian dari orang jujur yang patuh aturan. Semoga para pelanggar sadar.hmm*
 Pangkep, 17 November 2012


Wednesday, December 26, 2012

Semangat Untukmu, Pemuda Muslim

Pemuda Muslim adalah penggerak perubahan, berkata halus, bertindak bijak, berlaku santun. Teladan umat sepanjang masa. Pemuda Muslim harus ‘keras’ menuntut ilmu dan berdakwah karena muslim selalu di dadanya bersama sang Garuda, mengepakkan sayap-sayap iman bertabur cinta antar sesama.
Pemuda Muslim, pemuda yang tak kenal kata menyerah dalam kebenaran karena mereka percaya bahwa kebenaran memang susah tapi pasti terwujud tanpa kata ‘putus Asa’. Umat Muhammad adalah barisan depan manusia Indonesia, ‘pelurus’ sejati yang kan membangun bangsa ini. Jadi, kalau kamu pemuda Muslim maka kamu akan mencintai dirimu dengan tidak membiarkannya melakukan keburukan. Hidup pemuda Muslim!, kita bukanlah pemuda yang lemah.  Aku, kamu, kita satu dalam pilar-pilar Taqwa.

Saturday, December 8, 2012

Contoh Hasil Analisis Unsur Interinsik Novel, Meutia Lon Sayang


UNSUR INTRINSIK NOVEL ‘MEUTIA LON SAYANG’
Sinopsis
            Novel karangan Arafat Nur ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Gadis bernama Meutia dari Aceh yang harus menerima kenyataan pahit hidupnya. Di usianya yang masih dini, dia menemukan kedua orang tuanya tewas akibat dibantai sekelompok orang yang menamai dirinya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mereka membunuh kedua orang tua Meutia karena dianggap sebagai pengkhianat karena ayah Meutia menjadi mata-mata TNI. Bahkan Meutia juga menjadi incaran pembantaian namun diselamatkan oleh teman ayahnya bernama Cek Leman. Setelah itu Meutia masuk ke pesantren, namun karena persoalan biaya akhirnya Meutia keluar dari pesantren dan tinggal di rumah bibinya yang bernama Cek Munah, kehidupan bibinya juga sangat sederhana bahkan kekurangan karena pemannya diduga tenggelam di tengah laut bersama perahu boatnya.
            Semenjak tinggal di rumah cek munah, Meutia sering membantu cek Munah, namun di balik semua itu, Meutia masih menyimpan kesedihan mendalam atas pembantaian kedua orang-tuanya. Ia merasa belum ikhlas atas kejadian itu, ia pun sangat sering menulis curahan hatinya dalam secarik kertas yang katanya untuk Tuhan. Kebiasannya menulis surat itu terus berlangsung seiring luka mendalam yang masih dipendamnya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang pemuda yang sangat mirip dengan kakeknya, namanya Teungku Muaz. Teungku Muazlah yang banyak menginspirasi Meutia secara bertahap untuk mampu melupakan kenangan buruk itu, karena ia juga memiliki kenangan buruk yang hampir sama dengan Meutia. hingga akhirnya teungku Muaz menyatakan cintanya kepada Meutia, sehingga Meutia sedikit demi sedikit telah mampu ikhlas atas apa yang terjadi pada hidupnya. Sekian
ü    Tema  : Perjunganan Hidup
ü  Alur     : Maju-mundur
ü  Penokohan :
· Meutia    
Meutia memiliki karakter pendiam, pemalu dan Meutia merupakan tipe orang yang tidak mudah melupakan kejadian buruk yang menimpa hidupnya walaupun telah bertahun-tahun lamanya (larut dalam kesedihan)
· Teungku Muaz (Guru mengaji Meutia)
Baik, bijaksana dan berkharizma, sebagai seorang Ustad, Teungku Muaz memiliki jiwa yang besar dan penyabar.

· Cek Leman (teman ayah Meutia)
Baik dan berani, karena selalu berusaha untuk menjaga Meutia agar tidak menjadi korban pembantaian seperti yang dialami keluarganya.

· Cek Munah (Bibi Meutia)
Baik, karena telah mau  merawat Meutia walaupun dia juga dalam kekurangan, selain itu juga memiliki karakter yang sabar.

· Alan (sepupu Meutia)
Rajin membantu orang tua.

· Nurul (sepupu Meutia)
Cerewet dan ceplas-ceplos.

· Nursyah (murid kakek Meutia)
Baik dan peduli sesama

· Abu Chik (Kakek Meutia)
Patuh kepada agama, berkharizma, dan berjiwa besar.

· Intan (teman Meutia dan Nurul)
Cerewet dan sering mencari tahu urusan orang.

· Cupo Baren
Suka mencela orang lain dan malas

· Cupo Ranteng
Suka mencela orang lain dan malas

· Cupo Maneh
Peduli dengan orang lain dan baik.


ü  Latar   :
·        Tempat           : Di Rumah, Sigli (daerah di Provinsi Aceh), Lhokseumawe (daerah pesisir pantai), balai pengajian (baleh), pesantren tradisional (dayah), pasar ikan (pajak engkoet), laut, surau atau langgar (meunasahII), penampungan korban bencana alam.
·        Suasana          : khawatir, tegang, bahagia, sedih, senang.
·        Waktu : malam hari, sorehari, pagi hari.
ü  Sudut pandang : Orang ke III (serba tahu) karena penulis menceritakan secara rinci novel tersebut baik itu tentang suasana hati Meutia maupun karakter setiap tokoh.
ü  Amanat :
·        Jangan pernah berputus asa dalam menjalani kehidupan di dunia.
·        Selalu bertawakkal ketika mendapat musibah.
·        Saling tolong-menolong sesama manusia.
·        Berpegang teguhlah kepada agama yang dianut.
·        Jangan mencela sesama manusia, seharusnya kita saling menghormati dan menyayangi.

Contoh Teks Pidato, hari Pahlawan


Tema : Nasionalisme dan Patriotisme
Membangun Indonesia Melalui Pesan Pahlawan

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Selamat Siang,
Yang  saya hormati bapak Guru
yang saya hormati hadirin dan hadirat
teman-teman yang saya cintai.
Pada hari ini, 10 November 2012, kita telah memperingati Hari Pahlawan Nasional yang ke 67, sejarah yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 yaitu pertempuran dasyat melawan penjajah yang terjadi di Surabaya hingga ribuan nyawa melayang. Mereka, para pahlawan Indonesia telah berjuang mempersembahkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia yang telah kita rasakan saat ini, tapi keadaan Negara kita sekarang ini seolah kembali dalam jeritan penjajah yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Beberapa waktu lalu kita menyaksikan konflik antara masyarakat di Lampung selatan yang tentunya merongrong persatuan rakyat Indonesia. di Ambon juga terjadi aksi serupa beserta berbagai kericuhan di tanah air. Korupsi pun kini telah menjadi penyangga eksistensi republik ini.
Hadirin yang saya hormati,
Rasanya kita perlu kembali menengok sejarah dan bercermin betapa sulit para leluhur kita, para founding father kita untuk meraih kemerdekaan. Lalu, apakah kita ingin merusak dan menodai segalanya dengan perlakuan yang tidak mencerminkan kecintaan terhadap tanah air yang sesungguhnya?. Tentu tidak, oleh karena itu saya mengajak saudara sekalian untuk mengingat pesan-pesan pahlawan yang mereka ucapkan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Hadirin yang berbahagia.
sultan Hasanuddin pernah berpesan
“Sesungguhnya karena kesabaran rakyatku bersedia memberikan apa yang mereka inginkan dalam perjanjian Bongaya melalui  aku, tapi mereka menghendaki jantungku, dan hati ini adalah martabat setiap manusia,“ kata sultan Hasanuddin saat akan menyetujui perjanjian Bongaya
“Bugis-Makassar adalah Saudara, aku dan Raja Bone bukanlah Musuh” kalimat terakhir yang diucapkan Sultan Hasanuddin kala hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam keadaan sujud disaksikan seluruh penghuni benteng Somba Opu waktu itu.
Kita semua saudara, sipakatauki…saling memanusiakanlah sipaikainge’ki, saling mengingatkanlah, sipakalebbi’ki…saling menghargailah. siri’ na pacce, lebih baik mati dengan kehormatan daripada hidup menanggung malu. Terus tegakkan kebenaran untuk kemaslahatan umum tanpa pandang bulu, apapun yang terjadi sebagai sosok “Towarani”, ksatria pemberani yang sesungguhnya.
Tidak hanya itu, Andi Mappe, seorang  pahlawan Pangkep pernah berkata “Ulebirreng buru e…ala na najajae Balanda e…, teasinna mitai Balandae”, yang artinya “Lebih baik saya mati berkalang tanah/hancur daripada dijajah Belanda , saya sudah tidak mau lihat Belanda”. Kita tentu tahu maksud pahlawan kita, mereka tentu akan sangat kecewa jika melihat penerusnya justru menghancurkan bangsa sendiri. Oleh karena itu mari kita jadikan momen peringatan Hari Pahlawan ke-67 ini sebagai titik tolak untuk memulai perubahan dan memperbaiki Indonesia agar tercipta bangsa dan negara yang benar-benar merdeka.
Terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum wr.wb.


Contoh Resensi Buku Non-Fiksi Lengkap


Resensi Buku, Remaja Membangun Kepribadian
IDENTITAS EKTRINSIK BUKU
Judul buku                          : Remaja Membangun Kepribadian
Penulis                                 : Anna Windyartini S
Tahun terbit                       : 2008
Penerbit                              : Penerbit Nobel Edumedia,
                                                  Jl. Rawagelam III No. 4
   Kawasan Industri Pulogading, Jakarta Timur.
Tebal buku                          : ix + 79 halaman
Harga                                    :  -
ISI POKOK BUKU
Ø  Pada bab  pertama (Berbagai Jenis Keceradasan dalam Diri Manusia),
Menjelaskan tentang berbagai jenis kecerdasan dalam diri manusia, dan cara-cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan intelegesi tersebut. Dalam pembahasan ini diambil dari beberapa sumber yang cukup terpercaya, yaitu ahli-ahli Internasional yang professional di bidang intelegensi,  diantaranya Howard Gardner yang merupakan psikolog dari Amerika Serikat yang mengemukakan sepuluh macam intelgensi berdasarkan penelitiannya yaitu Linguistic Intelligence/ Kecerdasan Linguistik, Logical-Mathematical Intelligence/ kecerdasan logis-Matematis, Musical Intelligence/ Kecerdasan Musikal, Bodily-Kinesthetic Intelligence/ Kecerdasan tubuh-kinestetik, spatial Intelligence/kecerdasan spasial, Interpersonal Intelligence/kecerdasan Interpersonal, Intrapersonal Intelligence/kecerdasan  Intrapersonal, Naturalist Intelligence/ Kecerdasan Naturalis, Spiritual Intelligence/ Kecerdasan spiritual, dan Existencial Intelligence/Intelegensi eksistensial. Tidak hanya itu, pada bab pertama juga dijelaskan cara-cara ampuh untuk mengembangkan potensi/tingkat intelegensi seorang manusia yang didukung dari hasil pengamatan dan penelitan ahli.
Ø  Pada bab kedua (Memanfaatkan Berbagai intelegensi)
Dijelaskan bahwa setiap orang memiliki potensi masing-masing dan tidak ada orang yang tidak memiliki potensi sehingga perlu mengembangkan potensi itu. Tidak hanya itu, dalam buku ini dalam bab ini dibahas tentang visi dan misi yang harus ada dalam setiap diri manusia agar dapat mengembangkan potensinya. Selain itu, juga membahas tentang managemen dan cara  untuk belajar dan mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan/potensi masing-masing sehingga semuanya dilalui dengan cemerlang.
Ø  Pada bab ketiga (Study is Beautiful)
tidak begitu banyak yang dibahas dalam bab ini namun cukup meyakinkan kita bahwa belajar itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan sehingga timbu motivasi serta semangat untuk belajar.
Ø  Pada bab terakhir/keempat (Berbagai Kisah Tentang Belajar)
Pada bab ini, pembahasannya mengenai pengalaman belajar dari kebanyakan orang dan juga kisah-kisah unik, menarik, dan menggugah seputar perjalanan belajar seseorang yang diceritakan secara terbuka oleh orang-orang yang telah mengalaminya. Cerita-cerita yang diangkat benar-benar menggugah dan memotivasi untuk terus belajar.
Karakter Isi Buku
buku ini menarik dan memiliki ciri khas dibandingkan buku psikologi remaja lainnya karena gaya bahasa yang digunakan mampu dicerna dengan baik, tidak hanya itu pembahasan buku ini singkat tapi dapat membuat pembaca memahami maksudnya, tidak seperti kebanyakan buku yang terlalu berbelit-belit dalam menyampaikan gagasan. Selain itu penulisan buku ini didasarkan kepada sumber yang universal karena sumbernya dimulai dari ahli internasional hingga dari pengalaman masyarakat biasa.
Kelebihan Buku
1.       Buku ini memiliki pembahasan yang singkat namun mudah dipahami
2.       Buku ini ditulis berdasar pada gagasan yang dapat dipercaya seperti ahli psikolog dunia, nasional dan bahkan pengalaman langsung dari masyarakat Indonesia sehingga tetap menggambarkan karakter belajar orang Indonesia.
3.       Contoh-contoh yang digunakan menarik dan menggugah untuk memotivasi remaja agar lebih semangat untuk belajar dan meningkatkan potensi diri
Kekurangan buku
1.       Masih ada sejumlah kata-kata yang kemungkinan sulit dicerna oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama(SMP) padahal seharusnya buku semacam ini sudah dapat dibaca oleh siswa SMP yang pada saat itu mulai menginjak masa remaja
2.       Gambar ilustrasi yang digunakan masih kurang sehingga memungkinkan terjadi kepenatan saat membaca.
3.       Motivasi dalam buku ini harus dianalisis karena minimnya pemaparan langsung penulis atau sejumlah ahli, seharusnya buku psikologi remaja semacam ini mengangkat kata-kata bijak ahli tentang materi yang berkaitan dengan bahasan setiap sub bab.

Tuesday, December 4, 2012

Pidato Bahaya Narkoba

Walau sulit kupercaya.....namun inilah kenyataan yang membuatku harus mengatakan terima kasih Tuhan atas nikmat-Mu yang begitu besar kepadaku...hingga kau hanya memberiku kesempatan  mengucapkan dua kata yaitu "Alhamdulillah" dan "hah? saya? "

Hari ini (Selasa, 4 Desember 2012) KAU kembali memberiku amanah untuk menjadi Juara I dalam lomba Pidato Anti Narkoba/Bahaya Narkoba tk SLTA se-Kabupaten Pangkep. ini adalah kemenangan sekaligus tanggung jawab bagiku untuk berbuat lebih baik untuk negeriku....

InsyaAllah....aku ada dibarisan paling depan untuk memperjuangkan nasib bangsaku....:)
nah...teman-teman kali ini aku sharing naskah pidato yang aku bawakan pada kompetisi tersebut....
Aku ingin berterima kasih kepada detiknews.com yang telah menjadi salah satu sumber naskah pidato saya...jg kepada Badan Narkotika Nasional Prop.Sulawesi-Selatan . Nah ini dia naskah pidatonya....:)


Teks Pidato “Bahaya Narkoba”
Assalamu’alaikum wr.wb
Yang terhormat ketua Gabungan Organisasi Wanita kab.Pangkep
yang saya hormati bapak/ibu dewan juri
yang saya hormati panitia pelaksana
hadirin yang sama berbahagia
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt, sebab atas berkat rahmat dan hidayahnyalah sehingga kita dapat hadir bersama di tempat ini. Salam serta shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan tercinta nabiyullah Muhammad SAW, sebagai uswatun hasanah sekaligus rahmatan lil alamin.
Hadirin yang saya hormati!
Pada kesempatan kali ini,  izinkanlah saya membawakan sebuah pidato dengan judul “Kerjasama Menyelamatkan Indonesia dari Narkoba”. Saya mengangkat judul ini atas rasa prihatin dan cita-cita untuk melihat Indonesia dan generasinya beberapa tahun ke depan bebas dari narkoba dan menjadi percontohan International sebagai Negara bebas narkoba.
Saya tidak perlu membahas terlalu banyak mengenai pengertian Narkoba karena saya tahu hampir semua orang telah mengetahui pengertian dari Narkoba yaitu narkotika dan obat-obatan berbahaya yang dapat merusak fungsi sistem saraf. Ektasi, kokain, kafein, Sabu-sabu ganja dan beberapa obat terlarang lainnya tentu kita tahu. Namun yang perlu menjadi titik utama dalam pidato saya kali ini yaitu mengenai upaya prepentif dan komprehensif untuk menanggulangi penyalahgunaan dan peredaan gelap narkoba. Karena di era sekarang ini banyak orang pintar mengerti narkoba, tahu jenis-jenisnya tapi tidak menjauhi narkoba. Jangan sampai hal ini disamakan dengan label peringatan dalam kemasan rokok yang menjadi hiasan belaka. Karena sekali kita mencoba narkoba maka sekali itu akan membuat kita ketagihan dan akhinya hancur.
Hadirin yang saya hormati!
Dalam hukum Internasional, lembaga United Nations Office on Drugs and Crime(UNODC) yang menangani masalah Narkoba dan Kriminal,  berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara jelas menyatakan bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba merupakan salah satu kejahatan yang menghambat pembangunan secara Global. Tindak pidana ini juga tentu menghambat program pembangunan Millenium (MDGs) yang hendak dicapai 2015 mendatang. Bahkan untuk kejahatan ini, PBB selama 29 tahun telah mengadakan konferensi anti narkotika terbesar. Pada tanggal 12 Juni lalu mengadakan konferensi internasional anti narkotika  di Bali International Convention Center (BICC) dengan nama International Drugs Enforcement Conference (IDEC)  yang menghadirkan 305 orang penegak hukum anti narkoba dari 79 negara. Konferensi ini telah berlangsung selama 29 tahun (Humas BNN, Drugs Education and Drugs Information). Narkoba merupakan transnational crime atau tindak kejahatan transnasional yang melibatkan dunia Internasional sehingga Negara-negara di dunia melakukan kerjasama untuk memberantasnya melalui pertukaran data dan informasi, peningkatan Sumber Daya Manusia dan pelatihan.


Hadirin yang saya hormati!
Tidak hanya dalam hukum International, secara nasional kita diatur oleh Undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika dan beberapa aturan sebelumnya yaitu  UU No. 9 tahun 1997,  lalu UU No. 22 Tahun 1997 dan UU No. 5 tahun 1997 tentang Narkotika dan psikotropika.
Saya juga akan mengungkap data tindak penyalahgunaan  narkoba yaitu diantaranya, menurut Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Yury Fedotov “Heroin, kokain dan narkoba lainnya terus membunuh sekitar 200.000 orang setiap tahunnya, memecah-belah keluarga dan membawa penderitaan, rasa tidak aman dan penyebaran HIV kepada orang lain,” dan  Sekretaris-Jenderal  UNODC PBB, Ban Ki-moon, mengatakan bahwa narkoba dan kriminalitas mengancam beberapa tujuan paling penting bagi dunia: memastikan pembangunan berkelanjutan di tingkat global. Sedangkan di Indonesia Sendiri, Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) mencatat sebanyak lima juta jiwa menjadi pengguna dan pencandu Narkoba di Indonesia pada tahun 2012, ini menujukkan peningkatan dibanding tahun 2011 lalu yang hanya sekitar 3,3 juta jiwa. 
Tidak hanya itu, di tingkat regional, Berdasarkan pengungkapan kasus penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Selatan oleh POLDA Sulselbar, sudah hampir semua kabupaten/kota dapat ditemukan. Berkaitan dengan data pengungkapan kasus tersebut, dapat ditentukan kerawanan daerah penyebaran dan penyalahgunaan narkoba. Kabupaten/kota yang paling rawan yaitu Kota Makassar, kemudian Kota Pare-pare, Kab. Maros, Kab. Sidrap, Kab. Bone dan Kab. Pinrang (Dinas Kesehatan Prop.Sulawesi-Selatan).
Dari data tersebut, sudah sepatutnya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia menjadi salah satu penggerak untuk memberantas tindak penyalahgunaan dan penyebaran gelap narkoba. Dunia internasional telah bekerjasama dan kerjasama itu akan sulit terwujud jika masyarakat kita tidak memahami tentang bahaya narkoba.
Hadirin yang saya hormati,
Kita hanya memiliki dua pilihan, yaitu bertahan hidup dan menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya  narkoba atau ikut menjadi korban keganasan narkoba. Dan hanya dua pilihan untuk orang yang berani mencoba narkoba yaitu sekarat di rumah sakit atau langsung ke liang lahat. Anekdotnya adalah kebanyakan korban meninggal di rumah sakit bukan pengguna narkoba karena pengguna narkoba belum sempat dirawat di rumah sakit mereka sudah meninggal. Lalu apa upaya yang dapat kita lakukan? Hmm!. yang perlu kita lakukan adalah upayakan sesuatu yang dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan lakukan mulai sekarang. Lingkungan keluarga yang menjadi pondasi utama dalam hal ini, karena disitulah anak-anak mulai membangun karakternya. Lalu yang kedua adalah lingkungan sekolah sebagai tempat generasi Indonesia belajar, berikutnya adalah lingkungan masyarakat yaitu dengan melaksanakan kegiatan seperti ini, lalu secara nasional melalui beberapa lembaga seperti Bea Cukai yang mengawasi di bandara/pelabuhan , Badan Narkotika Nasional dan Kepolisian Republik Indonesia dan yang terakhir yaitu Dunia Internasional melalui lembaga UNODC yang dinaungi PBB dan konferensi semacam IDEC.


Hadirin yang saya hormati.
Saya ingatkan sekali lagi bahwa jangan sekali-kali untuk mencoba narkoba karena selain merusak diri sendiri, ini akan merusak orang lain serta merusak eksistensi republik ini. Tidak hanya itu, dengan mencoba narkoba berarti kita telah melanggar peraturan Negara kita yaitu UU yang berdasar pada ideologi pancasila dan juga melanggar peraturan Internasional yang diatur oleh UNODC PBB. Berapa lagi generasi kita yang harus hancur karena narkoba? Sampai kapan kita mau berubah…? Apakah kita tega melihat 200.000 orang pertahun meregang nyawa karena narkoba? Lalu apakah kita hanya tinggal diam?. Intinya adalah penyalahgunaan narkoba tidak memiliki nilai positif sama sekali melainkan hanya menciptakan kerusakan atau dampak negatif, kerugian bagi diri sendiri, merugikan Negara milayaran hingga triliunan rupiah dan menghambat pembangunan secara global. Sehingga hal tersebut dapat dikategorikan sebagai Extra ordinary crime atau kejahatan luas biasa.
Mari kita bekerjasama memberantas narkoba karena titik utama dan senjata utama untuk melawan narkoba adalah kerjasama kita semua. Bahkan perlu diketahui, di Teheran-Iran, bulan Oktober lalu menghukum gantung 10 narapidana narkoba, Amnesty International yang berbasis di London-Inggris melaporkan bahwa Iran telah melakukan eksekusi mati terhadap 344 orang sepanjang tahun 2012 ini, yang sebagian besar merupakan narapidana Narkoba (DetikNews.com). Namun, negara  kita tidak perlu melakukan hal tersebut karena melanggar HAM dan dikecam oleh PBB, Amnesty International,. Untuk teman-teman calon generasi pelurus Indonesia, jangan pernah mencoba narkoba karena narkoba akan merusak masa depan kita , akan membuyarkan mimpi-mimpi kita dan tentu mengecewakan orang tua kita, mari kita jadikan kebebasan Anak Indonesia dari narkoba sebagai kado ulang tahun terindah untuk Malaikat dari Tuhan yaitu Ibu kita semua…ibu Indonesia, selamat hari Ibu  tahun 2012. Dan untuk ibu dan bapak,…terus berikan perhatian dan nasehat untuk anak-anak kita di rumah agar menghindari hal-hal yang dapat merusak karakter anak bangsa.
Hidup Indonesia anti narkoba….!
Hadirin yang hormati,
Demikian pidato saya kali ini, atas perhatian bapak/ibu dan teman-teman, saya haturkan terima kasih, saya berharap acara seperti ini tidak sekedar kompetisi belaka tetapi juga sebagai media kita bersama untuk saling mengingatkan. Saya juga berharap yang hadir pada hari ini dapat menjadi penyambung lidah untuk saudara-saudara kita di luar sana agar  kita bersama-sama melawan narkoba.
Apabila ada kebenaran dalam pidato saya itu semata-mata adalah kebenaran dari Tuhan dan apabila ada kekurangan, itu semata-mata adalah kekurangan saya sebagai manusia biasa jadi sekiranya mohon dimaafkan.
 Hadanallahu waaiyyakum ajmain,  Wassalamu’alaikum wr.wb