Thursday, September 3, 2015

Garis Putih

Kau melihat sebuah Gambar di atas?
belajarlah! Garis Putih!

oleh: Raniansyah

Garis putih
siapa yang melihatnya jika diukir di atas putih
itulah makna hakikat, tak perlu terlihat untuk ada!
 Kesinilah, ku ajak kau mengunjungi ruang tak bernama
mendekatlah, mari kita tapaki garis putih

lalu kubuat kau dekat dengan yang tak terlihat tapi ada!

Saat ini kita tak lagi bicara tentang kita
saat ini setiap jemari digenggam tangan
Begitu erat menatap kedua mataku dan matamu
tegakah kau melepasnya? Aku tidak!
kita dalam lingkaran garis putih
garis yang memaksa melihat saat semuanya buta

Setelah jejakmu berbekas dalam merahnya ruang terdalam
kutunjukkan sebuah garis putih
sebagian memandangnya sebagai sebuah ketulusan
sebagian berpendapat itu kesucian
sebagian lagi menganggap itu kesetiaan
Garis putih,..
itulah sejatinya hidup,
belajar melihat yang tak terlihat!

hidup juga akan berakhir disitu
ketika garis putih dalam sebentuk kain
berkibar di tempat kita selalu pulang
kala garis putih dalam sebentuk kafas
menyumbat jalan nafas
setelah itu kita akan melihat,
melihat yang tak terlihat tapi ada!

Makassar, 3 September 2015

Wednesday, September 2, 2015

Gadis Biru


oleh: Raniansyah

Idealisme, kasih sayang..
kelembutan, Inspirasi...
ada pada satu biru...
Gadis biru yang kini duduk sejajar..


Gadis biru...
memaksaku mendalami birunya langit
lalu menyelami makna birunya laut
lalu meresapi hakikat birunya cinta..


Gadis biru..
rangkaian benang biru membalut tubuhnya
tersenyum lalu membuatku jatuh dalam lembah biru di pipinya
semakin dia tersenyum, semakin jauh aku jatuh dalam lembahnya..
tapi apa dayaku..
senandung alam bernyanyi.


Aku masih penasaran
kuselisik ruang-ruang biru
mencoba memotret senyum
lalu menyimpannya tanpa ada yang tahu
tapi gadis biru mulai mengenalku..
dia mulai mengikuti bekas jejak-jejakku
aku tahu dia di belakangku,
bersembunyi!, tapi aku melihatnya.

Makassar, 2 September 2015

Tuesday, April 28, 2015

Sebuah Bintang


Sebuah Bintang
oleh: Raniansyah

[I]nilah yang kumaksud sebuah bintang
[K]abut hitam melambai santai biarkannya bersinar
[A]ngin-angin berhembus merdu nyanyikan lagu cinta

[S]ajak apalagi yang mampu kuungkap
[M]aka saksikan dan bersaksilah atas romantisme malam
[A]ndai kau temukan luka di sudutnya
[D]iam dan mulailah mengobati
[A]lirkan, alirkan setiap yang harusnya mengalir

[P]intaku tak banyak...
[A]ku hanya ingin kita terus bersama
[N]anti ketika kita tua, ingatlah cerita yang pernah kita titip
[G]unung bagiku tak begitu tinggi untuk kita daki
[K]apal-kapal besar diciptakan untuk kita berlayar di laut yang tak begitu luas
[E]ngkau pasti mengerti maksudku, kau selalu memahamiku
[P]ulanglah, lihatlah kembali bintang di balik jendela kamarmu. kita di bawah sinar yang sama


Makassar, 28 April 2015

Ditulis sebagai Persembahan untuk IKA SMAN 2 PANGKAJENE..
HAPPY ANNIVERSARY 3. Jayalah bersama selalu like emoticon

Friday, September 26, 2014

Jangan Buat Malu Nak!

Oleh: Raniansyah

Jangan buat malu nak!
pesan dua insan tercinta
untukmu insan penuntut ilmu
untukmu para pelayan Bangsa

Jangan buat malu ibu-bapak nak!
dihadapan Tuhan, Tuhan kita
maka laksakan kewajibanmu sebagai hamba-Nya
jangan ingkari janjimu

Jangan buat malu ibu-bapak nak
di sana, di tanah tempat kamu berpijak
maka jadilah penuntut tanpa harus dituntut
belajarlah menghargai tanah tempat kakimu berdiri

Jangan buat malu ibu-bapak nak!
Jika kelak kau jadi pelayan bangsa
Pahamilah makna ketulusan
belajarlah tentang arti mengabdi
agar kau jauh dari menjajah bangsamu sendiri

Jangan buat malu ibu-bapak nak
dihadapan teman-temanmu
maka jadilah teman yang baik
perlakukan seperti saudaramu

Jangan buat malu ibu-bapak nak!
pada wanita-wanita yang mengagumimu
Hargai dan belajarlah mencintai
belajarlah untuk menjaga dan setia

Jangan buat malu ibu-bapak nak!
di kampung kami banyak bercerita
tentang anak kebanggaan kami
jangan retakkan kisah kami

Bapak-ibu kian menua
Kelak jika ibu-bapak menghadap Tuhan
jangan buat malu ibu-bapak nak!
kami ingin bercerita pada Tuhan
kami memiliki anak-anak hebat di dunia

Jangan buat malu ibu-bapak nak!
hanya itu harap kami,
agar damai hati kami,
agar tenang kami di penghujung masa

Makassar, 23 September 2014

Kudedikasikan untuk seluruh penuntut ilmu dan perantau yang menapaki karir di seluruh tanah air yang saat ini berpisah dengan orang Tua. Ingatlah "Jangan buat malu orang tua," !. Setiap anak adalah kebanggaan bagi orangtuanya (apalagi jika anak pertama dan laki-laki). Mungkin tidak semua orangtua mengatakan ini, tapi Percayalah...setiap orang tua mengharapkan ini dari anak-anaknya! Hanya ini !!
maka jangan mencipta retak pada kebanggaan mereka, maka jangan buyarkan harap ini ...


Wednesday, September 10, 2014

Puisi: Senja

Senja
Karya: Raniansyah

Kasih..
aku ingin menyayangimu
Sperti senja yang tak pernah bosan berwarna jingga di langit baratku juga langit baratmu

Kasih...
Jika kau rindu padaku..
Tanyakan aku pada senja 
Hingga jingganya berubah hitam..
Aku berharap bisa mencintaimu
Hingga senja hidupku
Bahkan ketika jingga yang terlihat
kini berubah gelap hitam
Bersama nafas yang beranjak pergi

Kasih...
Kita memahami 
Senja pasti berganti jadi malam
Tapi semoga tak ada sedih
Di setiap pergantiannya...saat kita menyadari, esok tak ada lagi senja 
Kasih.. kau tahu bintang terlihat jelas saat malam dtang bukan ketika senja. 
Mungkin aku ada diantara bintang itu
Menatapmu penuh rindu namun kita tak mampu saling menggapai...
Maka kenanglah aku...walau bgitu banyak tangis yang kucipta dari pagi, siang, hingga ujung senjaku...

Kasih...
Kutitipkan salamku pada senja esok
Kutulis malam ini..senja tadi terasa bgitu cepat bagiku...
Walau ku tak mampu memastikan esok senja masih bersamaku 
saat ia mnyampaikan salamku

Pangkep, 13 Agustus 2014

Puisi: Malam

Malam
Karya: Raniansyah

Sepimu nasehatiku banyak hal
Perjuangan, pengorbanan
bahkan tentang kesabaran dan cinta
Gelap bukan berarti mendung
Hitam bukan berarti tak bersahabat
Bahkan bgitu bnyak mulia
Yang datang bersama sepimu
Tuhan terasa bgitu dekat saat tiba masamu, hanya kau msih banyak diam. Mungkin kau percaya diam itu emas, tanpa kau sadar kini diam bnyak ditindas..

Malam,
Banyak yg kehilanganmu
Mreka terlelap menanti pagi
tanpa kau ceritakan sedikit rahasiamu, Rahasia yang kini kau bisikkan lewat nyanyian angin malam yg tusuk ruang terdalamku,
Nasehat-nasehat hening
yang paksaku bertahan lebih lama bersamamu

Malam...
Hanya kau yang ingatkan
Suara setiap detakan jam
Sepertinya suaranya lebih nyaring bersamamu atau karena kau terlalu diam.
Kini kuingat lgi bahwa detakan itu terus berjalan seirama detak di dada kiriku. Kini kurenungkan lgi.. irama itu suatu saat pasti berhenti.
Skali lagi kau nasehatiku bersyukur
Dan ingat Tuhanku..

Malam.....
Berbisik dan nasehati lbih bnyak lagi
Aku ingin bertahan lbih lama..
Tapi aku harus bersabar
Rotasi harus mengantarmu ke sisi lain dari situ kutahu Tuhanku adil...
Kunanti terus wejanganmu
Hingga irama kan berhenti...

Makassar, 19 Agustus 2014

Saturday, May 24, 2014

Puisi: Jauh

oleh: Raniansyah Rahman

aku masih mencari definisi "jauh"
mungkinkah jauh itu sejauh mata memandang
ataukah kala langit dan bumi terlihat berjabat
mungkin aku terlalu jauh untuk bisa mengerti

Mungkinkah jauh bisa berkawan dekat
mampukah jauh toleren dengan rindu?
ahh, kadang aku merasa jauh disaat dekat
kadang akupun merasa dekat saat jauh

syair Jauh
mungkin terlalu jauh untuk dipahami
aku msih sulit membuat bumi dan langit berjabat
mataku rabun untuk baca keadaan
kapankah aku mengerti tentang jauh?
mungkin aku akan benar-benar jauh...

Tamalanrea, 8 Mei 2014

Puisi: Gadis Kecil di Persimpangan Jalan

oleh : Raniansyah

Pakaian usang nan kumal membalut tubuh mungilnya
tak ada yang mendekatinya
sorot matanya tajam melihat sekelilingnya
seolah di rimba ganas yang menghantuinya
dia seperti pasir di tumpukan mutiara
asing di negeri yang terasing
aroma tubuhnya kecut, masam, asin, campur tak menentu
"Tidak Tahu", jawabannya hanya itu setiap kutanya
dia tak tersentuh fasilitas
dia tak menikmati sedikitpun hak
dia juga tak punya suara menuntut janji manis lima sila

Gadis kecil di persimpangan jalan
dia punya jawaban istimewa soal keberadaan orangtuanya
"Mencari uang bersama Tuhan"
tapi aneh, dia tak mengenali orangtuanya
dia hanya bisa menatap langit, lalu tertunduk layu..
sorot matanya yang tajam
kini pudar berkaca-kaca
ahh...aku tahu dia ini manusia
aku paham dia hanyalah gadis kecil
dia bahkan berhak punya perasaan
aku hanya bingung,
mobil mewah plat merah lalu lalang
menyemprotinya gas beracun polusi
adakah yang peduli?
haruskah menjadi asing di negeri yang tlah terasing.

Gadis kecil di Persimpangan jalan
kapan dia proklamasikan kemerdekaannya?? !!

Makassar, 13 Mei 2014

Puisi: Cantik

oleh: Raniansyah

cantik....
syairku masih bingung tentang definisi
aku masih bergutat mengejar definisi
"cantik", atau apapun istilah orang
aku tidak peduli, aku masih mencari
apa maknamu?, dari mana asalmu?

malam ini aku melihat cantik
yang kutemukan dalam segaris senyum
bukan dari mata atau yang lainnya
adakah dari senyum turun ke hati?
aku masih bertanya, terus bertanya,
hingga bulan mengantarku pada matahari

cantik....
selalu saja menjadi alasan untuk pengagum
simbol yang melekat bagi apapun yang indah..
cantik...andai dia juga peka..
aku curiga, dia akan tersinggung lewat syair ini
cantik,... semoga kau tidak sadar
syair ini mengagumimu
Jika kau sadar, kau terancam!
terancam senyummu semakin cantik

Pangkajene, 15 Mei 2014

Puisi: Anu..

oleh: Raniansyah Rahman

anu...
bibirku bergetar
syair-syair tertahan di tenggorokanku
aku tak mampu berucap
aku gugup mengungkap
walau dapat kupastikan aku tak bisu
walau dapat kupastikan aku bicara benar

anu...
aku terpaku dalam diam
akupun bingung ini apa?
seolah aku dalam kaget terdahsyat
walau dapat kupastikan aku tak kaget

anu...
tak ada pendahuluan yang dapat kuucap
bgitupun kata pengantar yg tak sanggup kuungkap
jangan juga kau tanya aku soal daftar isi
mungkin aku hanya bisa memberikan isi, tapi tunggu!
'anu' masih bergetar di bibirku
jangan tunggu aku sampaikan penutup
karena tidak ada simpulan atas kisah ini

anu......anu.....anu...
Aku mencintaimu...
yah itu, aku sangat Mencintaimu kasihku

Pangkajene, 16 Mei 2014

Puisi: Definisi Cinta

oleh: Raniansyah

Cinta adalah keseimbangan
kala das solen dan das sein bergenggaman
di persimpangan tak terhingga arah
cinta adalah nyanyian takdir
nada rancu tak bermelodi yang menurutmu indah
suara rumpang yang kau dengar merdu
karena cinta bicara soal pahammu dan pahamnya
bukan paham orang lain....

Jangan paksa cinta membaca keadaan
karena tanpa kau paksa pun, ia adalah pembaca yang baik
jangan minta dia mendengar
karena tanpa kau pinta pun, ia pendengar yang baik
biarkan takdir menyanyikannya
karena takdir selalu paham
Lebih paham dari orang terdekat di sekelilingmu

"cinta bukan ketika kau berkata,
tapi ketika kau merasakan"
itu definisi cinta yang kudapat dari yang kucintai
hingga kini aku lebih banyak diam untuk mencintai
akupun belajar bisu untuk menyayangi
betul! karena cinta bukan pernyataan tapi perasaan
Jangan mudah percaya orang bicara cinta
sungguh bicara cinta lebih susah daripada bicara benar
Jangan pula percaya syair ini
karena sekali lagi cinta adalah soal pahammu dan pahamnya
bukan soal paham orang lain...

Pangkajene, 17 Mei 2014

Puisi: Kekasih Hati

oleh: Raniansyah

Ini sebingkai cerita tentang kekasih hati
aku masih rajin memperhatikanmu dari jauh
menatapmu begitu dalam di belakangmu
membaca kata demi kata yang kau bagi
lalu mendalami setiap like dan komentarnya
aku masih enggan meninggalkan kebiasaan lama
mengoleksi lukisan digital wajahmu
aku tak mau berhenti menulis
kutahu disetiap tulisku kau inspirasinya
kekasih hati, kau tak harus jadi pacarku
cukup kau setia jadi kekasih hatiku
walau kutahu berada di dalam sana tak begitu indah
tapi yakinlah semua akan romantis pada waktunya
kekasih hati, kutahu hati adalah penetral racun
mungkin kau adalah penawar setiap racun yang menggerogoti
karena aku percaya kau bukanlah racun
kalaupun toh kau bersikukuh menjadi racun
seumur hidupku aku rela kau racuni.
maka tetaplah di dalam sana
ajarkan bagaimana bersikap mesra
dalam rel-rel penghargaan seorang kekasih

Makassar, 20 Mei 2014

Puisi: Serpihan Kenangan

karya: Raniansyah

Dia datang menyambut biru langitmu
lalu datang lagi di langit putihmu
terus datang hingga jingga langit barat
langit menghitam pun ia tak kunjung pergi
terjaga bersama hingga larut dan terlarut
dalam satu makna yang masih dicari
dalam kata tak terdefenisi
dalam rasa yang belum terpahami
lantas tak sanggup berucap
bahkan sekedar menulis status "aku galau"
karam dalam duka dan bisu

kupikir ia akan bergegas pergi
kala rona jingga menghias langit timur
tapi ia masih setia dan terus begitu
hingga garis hitam menghias katup mata
ahh, kupikir benar-benar galau
tak sanggup terbang dengan sayap retak
juga tak mampu berlayar dengan layar sobek
ini bait-bait Galau, solusinya bukan nyanyian
bukan puisi apalagi status
Tuhan yang memahami rasa
Tuhan pula yang mengerti makna
maka,...Kutahu saat ini hanya pada Tuhan
dapat kuberbagi dan bersaksi...


Makassar, 25 Mei 2014

Puisi: Bait-Bait Galau

karya: Raniansyah

Dia datang menyambut biru langitmu
lalu datang lagi di langit putihmu
terus datang hingga jingga langit barat
langit menghitam pun ia tak kunjung pergi
terjaga bersama hingga larut dan terlarut
dalam satu makna yang masih dicari
dalam kata tak terdefenisi
dalam rasa yang belum terpahami
lantas tak sanggup berucap
bahkan sekedar menulis status "aku galau"
karam dalam duka dan bisu

kupikir ia akan bergegas pergi
kala rona jingga menghias langit timur
tapi ia masih setia dan terus begitu
hingga garis hitam menghias katup mata
ahh, kupikir benar-benar galau
tak sanggup terbang dengan sayap retak
juga tak mampu berlayar dengan layar sobek
ini bait-bait Galau, solusinya bukan nyanyian
bukan puisi apalagi status
Tuhan yang memahami rasa
Tuhan pula yang mengerti makna
maka,...Kutahu saat ini hanya pada Tuhan
dapat kuberbagi dan bersaksi...


Makassar, 25 Mei 2014

Sunday, April 6, 2014

Puisi: Ingin Lupalupalupalupa

Ingin Lupalupalupalupa
karya : Raniansyah


Ingin Lupalupalupalupa
bukan palupalupalupalu
yang hanya gores darah disetiap jejakku

Aku benci mengingat
ingatan hanya membawaku dalam luka
aku takut mengingat
ingatan hanya hanyutkanku dalam duka

Ingatan datang bersama hamparan  janji
seolah berucap “setiap kenangan itu Indah”
menghasutku agar aku tak lupa
hanyut dalam melodi yang ternyata nyanyian duka

Aku coba melawan ingat
agar aku dapat rasakan lupa
aku ingin lupalupalupalupa
bukan palupalupalupalu
 yang kini serang  bahagiaku

Ingin lupalupalupalupa
tapi ingat kelewat ego
menghantamku palupalupalupalu
hancurkan kisah barisan bahagia
yang datang beriringan  barisan duka
kini tinggal barisan duka
bersama inginku: lupalupalupalupa!!


Thursday, March 27, 2014

Andai perasaan mampu berbohong

Andai perasaan mampu berbohong
karya : Raniansyah 


Andai Perasaan mampu berbohong
'mungkin' aku akan trus berbohong
Menghindari pahit yang terasa 
menghampiri manis yang terpikir

Kadang pahit itu harus datang dari perasaan
tapi ku tidak mampu menghindarinya
layaknya anak kecil yang tak mampu menghindar,
ketika disuapi obat yang pahit
tapi 'mungkin' juga benar, pahit itu obat
tpi haruskah kita trus merasakan obat pahit?
tidak adakah yang manis?

Andai perasaan mampu berbohong
yang penting hanya jawaban 'ya'
setiap cinta yang datang, katakan 'ya'
setiap cinta meminta pergi pun katakan 'ya'
tak ada lagi kata 'tidak'

'Tidak', mungkin pahit
tapi 'tidak', bisa berarti baik
'ya' mungkin manis
tapi 'ya', mungkin tiada arti

Andai perasaan mampu berbohong
maka tak ada lagi orang setia
maka tak ada lagi yang berkata 'pahit'
maka tak ada lagi kasih-sayang.

Andai perasaan mampu berbohong
aku akan terus berkata 'ya'
hingga tiada hati yang tersakiti
Maaf, kadang aku harus bilang 'tidak'
itu lebih baik bagimu dan bagiku.

Makassar, 27 Maret 2014


Tuesday, March 25, 2014

Wakil? Demokrasi? Itu Apaan?

Wakil? Demokrasi? Itu Apaan?
Karya :Raniansyah
Jelangkung.....jelangkung
datang tak dijemput pulang tak diantar.
jelangkung...jelangkung
datang tak diundang, pulang tak diantar
Wakil? yah...mungkin mirip jelangkung jelang pemilu
hanya datang disaat kampanye
hilang ditelan bumi usai pemilu
jangankan batang hidung, jejak kaki pun tak terlihat
mereka begitu rajin memberi
memberi sarung berlabel 'Pilih Nomor'
memberi gula bermerek 'Pilih Nomor'
memberi duit dalam amplop berkop 'pilih nomor'
sepertinya sudah ada Industri 'Pilih Nomor'
mungkin juga demokrasi itu adalah Industri.
Wakil? wakil rakyat?
MUNGKIN' benar mereka mewakili
mewakili rakyat menikmati makanan enak
mewakili rakyat naik mobil mewah
mewakili rakyat hidup di rumah mewah
Jalan-jalan keluar negeri pun telah diwakili.
MUNGKIN... tugas rakyat hanyalah diam
karena semuanya sudah diwakili..
Ahh!! Silentium est Aureum, diam adalah emas. benarkah???
TIDAK!, ini bukan eranya diam
karena diam 'mungkin' berarti tertindas
harusnya kita menampar,
menampar mereka yang memberi
memberi karena butuh, memberi label 'pilih nomor'
demokrasi bukanlaah Industri
Suara kami bukan komoditas perdagangan.
Jangan membelinya, jangan membarternya
Jangan lecehkan kami...
atau saya menanyai saudara
"wakil? Demokrasi? itu apaan?!!!
Makassar, 26/03/2014

Saturday, January 4, 2014

ASEAN Community 2015 : Siap, Tidak Siap, atau Berharap Siap?

oleh : Raniansyah
Aku tertawa kecil meninggalkan Auditorium baruga A.P pettarani hari ini (3 Januari 2014) setelah mengikuti Seminar Nasional bertema "Daya Saing Bangsa : Perspektif Ekonomi Digital dan Hegemoni Politik dalam Era ASEAN Community 2015" yang menghadirkan Hatta Rajasa (Menteri Perokonomian RI), Letnan TNI (Purn) Sutiyoso (mantan Gubernur DKI Jakarta) dan Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sul-sel) sebagai pemateri. Masih ada pertanyaan yang mengganjal di kepalaku, pertanyaan yang sangat sederhana mengenai ASEAN Community, mungkin juga terlalu polos untuk kategori seorang Mahasiswa, “Kita sudah siap?, belum siap atau berharap untuk siap?. Aku sedikit kecewa sebenarnya, dialog interaktif sekelas ini hanya diberi kesempatan kepada tiga orang penanya. Namun tak apa, toh setidaknya aku sudah bisa memprediksi kesiapan Indonesia menghadapi tantangan besar 2015.
***
       Hari ini (3 Januari 2014) bertempat di Auditorium kebanggaan Kampus Merah (Universitas Hasanuddin), Baruga A.P. Pettarani, orang banyak berbicara harapan, harapan dan harapan. peluang, peluang dan peluang menghadapi ASEAN Community 2015. ".... Kita harus melihat ini sebagai peluang," kutipan kalimat Hatta Rajasa tersebut, coba menghentikan sekelumit pikiran ‘hambatan’ yang mungkin menggema di kebanyakan batok kepala peserta seminar. Bahkan menurutku dari tiga pemateri yang ada, hanya Hatta Rajasa yang sangat optimistis menghadapi ASEAN Community 2015, itupun menurutku hanya ‘harapan siap’ bukan ‘benar-benar siap’.  Gelak tawa mewarnai seminar ketika Sutiyoso berbagi cerita tentang latihan militer di luar negeri, “di sana latihannya seperti perang beneran, di Indonesia kalau latihan, bunyi senjatanya dari mulut, ..dor!,,dor!.. primemori” ungkap beliau sambil memperagakan. Cerita beliau sebenarnya merupakan gambaran ‘hambatan’ yang dialami Indonesia, hal yang sama pun ditunjukkan oleh Syahrul Yasin Limpo ketika mengungkap data tentang SDM Indonesia yang jauh tertinggal di banding negara-negara Asia Tenggara yang lain. Pun aku membenarkan hal itu karena beberapa bulan lalu aku memang sempat membaca sebuah data yang mengungkap bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada di peringkat 9 dalam 10 terendah di Asia Tenggara.
Banyak hal yang mengundang pertanyaan pada seminar kali ini, salah satunya yang berkaitan dengan Pemilu legislatif dan presiden 2014, katanya kalau kita ingin menyukseskan ASEAN Community, pemimpin yang terpilih beberapa bulan mendatang harus yang benar-benar mampu melakukan pembenahan di Indonesia. Olehnya itu, rakyat jangan sampai salah memilih lagi. Pertanyaan yang kemudian timbul, kalau rakyat salah memilih lagi? bagaimana? Kalau ASEAN Community gagal bagi Indonesia, bagaimana? Siapa yang mesti bertanggung jawab menanggung resikonya?.  Apakah kita akan menyalahkan rakyat yang salah memilih? ataukah kita biarkan rakyat kecil yang menanggung semuanya? Membiarkan neoliberalisme kapital semakin meluluhlantahkan jutaan rakyat berperut tipis.
Teringat sebuah analogi pilihan yang mungkin cocok untuk Indonesia  “ketika kau akan mengarungi samudera, tetapi perahumu banyak kerusakan, apakah kau akan tetap berlayar sambil menambal bagian-bagian yang rusak itu? atau kau memilih untuk memperbaiki perahu itu, sampe benar-benar siap untuk dipakai berlayar? Ini samuderaloh bro!,”. Resiko tenggelam sangat besar, dan kalaupun aku yang diberi pilihan, pasti aku memilih untuk memberbaiki perahu dulu ketimbang melanjutkan perjalanan karena peluang tapi karam karena ‘hambatan’. Hmm.. ternyata Pilihanku dan pilihan negara ini (lebih tepatnya pilihan para pemutus kebijakan) berbeda, negara ini lebih memilih berjalan mengarungi samudera dan memperbaiki perahu dalam perjalanan,  menatap sejumlah peluang di seberang tanpa terlihat memperhatikan ‘hambatan’ yang bisa berakibat fatal. Walau terkadang aku egois bahwa pilihanku yang harus benar, tapi untuk kali ini aku berharap langkah yang diambil oleh negara ini sudah tepat, walau masih ada setumpuk ‘ketakutan’ yang menghantui akan karamnya Indonesia dalam ASEAN Community 2015, seperti karamnya kita dalam beberapa persaingan sebelumnya. *Ahh…ini sungguh mimpi buruk.
***
Beberapa hari lalu, Detesemen Khusus 88 Anti Teror berhasil menangkap 6 teroris di Ciputat, ini masih sedikit dibandingkan teroris-teroris lain yang belum tertangkap. Yang artinya, Indonesia masih berada dalam ancaman keamanan. Dari segi Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia masih berada dalam tingkat rendah di Asia Tenggara, ini berarti SDM kita belum siap. Dari sektor pengelolaan sumber daya alam pun kita masih terkendala teknologi dan ilmu pengetahuan. Lalu apa yang siap untuk mengadapi ASEAN Community 2015?.  Para pemateri menjawab : Inovasi, pendidikan, dan Pemimpin Bangsa yang sesungguhnya. Tapi dapatkah kita memenuhi itu hanya dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun?, sementara sejumlah negara-negara Asia seperti Singapura dan Malaysia telah melakukan hal itu jauh sebelum kita memikirkan ide itu.  Timbul pertanyaan kemudian, kita sudah siap, tidak siap atau berharap untuk siap?. Bukan pesimistis, bukan pula takut persaingan atau takut hambatan, tapi bagiku…bangsa ini benar-benar belum siap menghadapi ASEAN Community. Tapi apa daya?, ASEAN Community tidak mungkin dibatalkan Indonesia dan Pasti berjalan 2015 mendatang, kecuali tahun ini kiamat.
***
Setiap individu hanya perlu berbenah diri mempersiapkan segalanya untuk sebuah tantangan ASEAN Community 2015 yang berani diambil Indonesia. Memang selalu hanya ada dua pilihan. Nah, kali ini pilihannya, berbenah atau berkemas?, kita memilih berbenah diri lalu bersaing unggul 2015 mendatang atau berkemas barang karena ditendang orang asing keluar dari rumah kita sendiri, yang lebih menyakitkan lagi, kita bertahan tapi jadi pembantu. *Ahh…ini juga mimpi buruk.

Makassar, 4 Januari 2014

Monday, November 18, 2013

Esai : Masak nasi tak mampu, kenapa berharap makan nasi Goreng?

Oleh : Raniansyah

            Sendiri di kosan hari ini (sabtu, 16 November 2013), memberiku inspirasi untuk menulis hal ini, aku begitu antusias membaca sebuah e-book berjudul “Catatan Bangsa yang Aneh” karangan Khusni Mustaqim yang kudapatkan dari blog ‘berpikirberbeda.blogspot.com’. Emosiku kian memuncak membaca setiap kata yang dirangkai begitu kritis. Aku berguman, negeri ini memang aneh, bangsa ini memang aneh, dan semua yang terjadi di Negara bernama ‘Indonesia’ ini sangat aneh. Inilah negeri kami yang aneh, negeri yang selalu mengagungkan kata-kata namun lupa untuk bertindak, negeri yang selalu bangga dengan aspirasi namun lupa untuk beraksi. Negeri omong kosong yang terlalu banyak membual, yang tidak pernah bisa ‘mengatasi masalah tanpa masalah’ seperti pegadaian dan tidak pernah mampu ‘talk less do more’ seperti slogan salah satu iklan rokok.
***
Jangankan makan nasi goreng, menanak nasi saja tak mampu, itulah ungkapan untuk negeri yang sering disebut kaya ini (katanya), selalu bercita-cita tinggi, sering berangan kelewatan, giat berharap namun tidak pernah berusaha dan bertindak. Sering diagungkan Indonesia punya 17 ribu lebih pulau yang terbentang dari sabang sampai Merauke, terlalu sering diucapkan Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Brazil, selalu didengar berita pelajar Indonesia juara olimpiade internasional, namun apa arti semua itu bagi Indonesia?. Toh pulau-pulau kita lebih banyak dikelola perusahaan asing, bahkan akibat ketidakpedulian kita, pulau kita diklaim dan direbut oleh Negara tetangga, ingatkan kita dengan mirisnya kehilangan Sipadan dan Ligitan?, laut kita yang kaya, toh! lebih banyak dinikmati orang asing, pelajar kita yang pintar dikirim ke luar negeri untuk belajar dan mengabdi di sana, bapak Habibie yang sering kita bangga-banggakan toh! sekarang bukan warga Negara Indonesia lagi, begitu bangga memiliki gelar sarjana atau magister luar negeri karena produk sarjana lokal yah…bisa dibilang tidak mampu bersaing. Akhirnya karena ketidakbanggaan kita pada negeri sendiri, kita sendiri lebih bangga memakai produk asing dibanding produk lokal, kekayaan alam negeri ini kita percayakan pada orang asing untuk mengelola dan kita biarkan mereka menarik keuntungan sebsar-besarnya lalu kita diberi sedikit. Mahasiswa kita terlalu sering nitip absen kepada teman duduk di kelas karena malas masuk belajar, terlalu sering tugas kelompok dkerjakan oleh seorang saja, sangat terbiasa belajar hanya untuk mengejar nilai bukan mengejar ilmu, mengejar IPK 4.00 sebagai berita berharga untuk orangtua walau mereka tidak pernah tahu bagaimana kemampuan kita?
***
Apalagi yang dapat dibanggakan dari bangsa ini? Presiden cengeng, yang sering mengeluhkan gaji?, yang terlalu sering curhat sampai lupa untuk bertindak? Presiden yang bisa buat lagu namun lupa menengok kesejahteraan rakyatnya?. Itukah?. Mahasiswanya?, mahasiswa anarkis yang suka bakar kampus sendiri? Mahasiswa yang sering bentrok dengan rekan sendiri? Mahasiswa yang sering menjudge buruk mahasiswa dari daerah lain, walaupun tidak semua berperilaku demikian? Itukah? Masihkah jiwa-jiwa persatuan mahasiswa 98 ada di tanah ini, mahasiswa yang ditakuti pemerintah…BUKAN mahasiswa yang takut pada pemerintah?. Nampaknya itu hanya harapan semu, karena persatuan kita sudah terpecah dengan egoisme kedaerahan, dan kini ‘Bhinneka tunggal ika’ itu patut dipertanyakan. Apa yang dapat dibanggakan? Rakyatnya? Rakyat yang sering mengeluhkan banjir, namun tidak absen buang sampah sembarangan, rakyat yang sering marah-marah karena macet namun tak jarang melanggar lalu lintas, rakyat yang mengeluhkan kenaikan BBM namun tak lupa menimbun BBM untuk mencari keuntungan sendiri. Aparatur negaranya? Beberapa hari yang lalu, melalui situs berita tribunnews.com, aku membaca berita oknum polisi militer ditilang oleh polisi lalu-lintas karena menerobos jalur busway, di situs berita yang sama beberapa hari sebelumnnya terdapat berita oknum polisi lalu-lintas ditilang oleh polisi lalu lintas karena pelanggaran yang sama. Benar-benar lucu..hahaha. dan tentu tidak akan lupa dengan berita Si Akil, sang ketua Mahkamah Konsitusi yang korup dan pengguna narkoba, benar-benar memiriskan.

Apalagi yang dapat kita banggakan? Budayanya?, disaat kita dirasuki ‘hip-hop dance’  ‘shuffle dance’ atau ‘gangnam style’ kita telah melupakan gamelan yang ternyata dipelajari oleh sebuah komunitas di London, Inggris. kita mengabaikan ‘Reog Ponorogo’ yang sempat diklaim negara asing, kita melupakan ‘Tari zaman’ yang membuat mata dunia melongo. Disaat kita asik membaca novel Harry Potter, kita lupa menengok kalau kita punya ‘La Galigo’ yang merupakan dongeng terpanjang di dunia yang teaternya dipentaskan di kanca International, sutradaranya orang asing, bukan orang Indonesia. Analoginya,..Kita biarkan orang asing mengambil tikar kita yang sebenarnya bagus cuman jarang dicuci dan mereka mencucinya lalu membentangkannya di Negara mereka, lalu kita biarkan mereka membentangkan tikar mereka di tanah kita, tikar mereka yang sekilas terlihat bagus namun sekali dicuci akan luntur dan kusut, namun kita tidak pernah menyadari itu, karena sekolah mereka jauh lebih baik daripada kita, pendidikan mereka jauh lebih baik daripada kita, sehingga kita terlalu mudah untuk dibodoh-bodohi, Masihkah negeri raksasa ini tertidur? Ataukah kita masih mengucek-ucek mata karena baru terbangun?. Banyak yang bisa dibanggakan, namun mungkin kita memang tidak pernah mau bangga.

. ketika kita selalu berharap makan nasi goreng disaat kita belum mampu menanak nasi…apakah pantas?. 2015 tidak lama lagi kawan, ASEAN Community sudah di depan mata, itu tandanya persaingan akan semakin ketat, dan ketika kita masih tertidur, siapkah kita menjadi pembantu di negeri sendiri? Siapkah kita tinggal jadi penonton melihat orang asing menarik keuntungan sebesar-besarnya dari negeri kita?, dan siapkah kita meringis kesakitan karena tak ada lagi yang dapat kita nikmati dari negara kita sendiri? Buka mata kita, dunia melirik kita, kita negeri raksasa yang masih terlelap. Andai kita seperti manusia-manusia Jepang dan China, pasti Indonesia adalah Negara terkaya, sebuah catatan yang kupetik dalam e-book ‘Catatan Bangsa yang Aneh’ yakni siapapun presiden dan pejabat pemerintah yang kita bawa untuk memerintah di Indonesia, tidak akan mampu merubah wajah negeri ini jika seluruh individu tidak berubah dari sifat buruknya, Bill Gates bukanlah pejabat pemerintah, Bill Gates bukan menteri Teknologi, tapi Bill Gates hanya orang biasa yang mau berusaha untuk negaranya.Hmm..! andai kita berpikir seperti itu…

Makassar, 16 November 2013



Sunday, November 10, 2013

Mungkinkah Pahlawan Tak Lagi di Sini??

oleh : Raniansyah
Ada yang berbeda hari ini (10 november 2013), seperti ada sesuatu yang ganjil. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah, yah..hari ini adalah hari pahlawan, dimana pada waktu itu semangat bangsa Indonesia bergelora untuk melawan penjajah, hidup atau mati yang pasti kemerdekaan adalah harga mati dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, waktu itu pemuda dan para pejuang memang tidak memiliki persenjataan yang kuat, tapi para pejuang saat itu memiliki semangat yang sangat disegani oleh penjajah. hasil dari perjuangan itulah yang kita nikmati hari ini, kaum manusia yang mungkin bisa dibilang tidak bersyukur dan/atau mungkin bisa dibilng terlalu manja dan cengeng,  tahukah kita berapa jiwa melayang demi memperjuangkan kemerdekaan ini, lalu inikah balasan yang kita perlihatkan hari ini? Inikah penghargaan yang kita berikan? Inikah wajah pemuda negeri saat ini, yang cengeng, manja dan tidak tahu arti perjuangan? Inikah wajah negeri yang  dicita-citakan dulu oleh para pejuang yang rela mati demi bangsa ini? Inikahh? Inikah? Aaaah….INIKAH !!!?
***
10 November 2012, aku berdiri di tribun lapangan Citra Mas Kabupaten Pangkep,  di antara jajaran pejabat daerah, veteran dan tamu undangan, aku berdiri tegap membacakan pesan Pahlawan Sultan Hasanuddin, pesan Sultan Hasanuddin  yang masih aku ingat waktu itu adalah ‘Aku dan raja Bone bukanlah musuh,”. Ada hal menarik yang kudapatkan kala mencari referensi tentang pesan-pesan ini, sebagian literatur menuliskan jika sultan Hasanuddin mengatakan “Aku dan raja Bone bukanlah musuh,” namun literatur lain menuliskan jika Sultan Hasanuddin mengatakan “Aku dan raja Bone adalah musuh,”. Yang lucu dari hal ini karena yang menuliskan “Aku dan raja Bone adalah musuh,” adalah buku dari Belanda yang katanya dikutip dari Lontara yang dibawa lari ke Belanda waktu itu. Belanda adalah salah satu negara yang pernah menjajah kita dengan sistem adu dombanya, lalu akankah aku akan percaya dengan literatur dari Belanda itu?, yang jelas akan memungkinkan atau mengundang permusuhan antara orang Bugis dan Makassar,  mungkinkah literatur itu ada untuk mengadu domba orang Bugis dan Makassar?.  Diceritakan dalam literatur Belanda tersebut (mohon maaf aku lupa nama bukunya) katanya Arung Palaka dari kerajaan Bone yang berlatar Bugis merupakan pengkhianat dan musuh Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa yang berlatar Makassar, lalu sesaat sebelum meninggal katanya Sultan Hasanuddin mengatakan “aku dan raja Bone adalah Musuh,”.  Ada juga literatur yang mengatakan bahwa Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka adalah sahabat yang selalu berusaha diadu domba oleh penjajah, karena jika mereka bersatu mereka akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa dan sesaat sebelum meninggal, Sultan Hasanuddin mengatakan “aku dan raja Bone bukanlah Musuh,”. Dari kedua tulisan  itu, literatur manakah yang harus atau pantas kita percaya?.  Yang jelasnya waktu itu aku memilih untuk percaya pada literatur non Belanda, keyakinan hati lebih mengarah kesana dan yang menambah keyakinan itu, ketika aku berbalik ke arah jajaran veteran dan mereka mengangguk-angguk mendengarkan pesan yang kubacakan, yah…setidaknya jiwa pejuang dan pengalaman sejarah mereka mampu memberi nilai tambah padaku melalui anggukan itu. Pertanyaan yang lebih mendalam lagi, akankah pahlawan seperti Sultan Hasanuddin di penghujung hidupnya mengatakan  “Aku dan raja Bone adalah musuh,”, sesuatu yang memungkinkan permusuhan?. Coba tanya diri kita, apakah ada…manusia yang di nafas terakhirnya mengucapkan pesan yang mengarahkan ke sesuatu yang negatif seperti permusuhan? Apalagi sosok seorang pahlawan. Rasanya sulit diterima secara rasional. Mungkinkah kita memang selalu berupaya diadu domba? Hmm…entahlah!
***
Hari ini (10 November 2013), di tanggal dan bulan yang sama tahun lalu…aku membacakan pesan Pahlawan Sultan Hasanuddin dalam upacara peringatan hari pahlawan. Sangat jauh berbeda dengan hari ini, hari ini aku juga berdiri namun tidak sebagai pembaca pesan pahlawan namun sebagai pengawas ruangan untuk kegiatan try out yang diadakan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin. Pelajaran berharga hari ini adalah mungkin memang generasi sudah tidak lagi mengingat dan menghargai perjuangan para pahlawan kita dulu, apa buktinya? Di ruangan yang aku awasi, ada beberapa peserta yang selalu berupaya curang, buka handphone dan atau berbalik ke arah kiri-kanannya mencoba mencari contekan, beberapa kali aku menegur, namun beberapa kali juga perbuatan itu diulangi. Hmm…benar-benar memiriskan, bisa-bisanya hari bersejarah dan penuh perjuangan ini dihiasi dengan ketidakjujuran, dicemari oleh generasi tidak tahu malu yang hidup hanya seperti benalu. Dimana lagi jiwa-jiwa nasionalis yang selalu membuat merinding itu? Rasanya cukup pesimis untuk mencari dimana ‘nasionalisme’ itu kini berada. Mungkinkah tak ada lagi pejuang/ nasionalis yang akan melanjutkan perjuangan cita-cita bangsa ini?. Mungkinkah pahlawan memang tak lagi disini? Walau hanya secuil…Mungkinkah?
Hari ini, aku cukup lega, ada yang cukup membangunkan semangatku untuk tetap optimis, motivasi itulah yang menggerakkan jemariku untuk mengetik tulisan ini. Dia adalah Kak Said, salah satu sosok yang cukup kutakuti pada masa-masa masih baru bergabung sebagai keluarga mahasiswa Fakultas Hukum Unhas, namun perlahan ketakutan itu berubah menjadi kekaguman dan harapan bisa seperti beliau, Sederhana tapi punya pemikiran yang luar biasa yang tidak semua mahasiswa atau pemuda hari ini memiliki itu.  Magang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hari ini, memberiku banyak pelajaran berharga, yah!…setidaknya aku dan kawan-kawan yang ikut hari ini secara tidak langsung telah memperingati hari Pahlawan dengan hal yang positif. Jadi anggota BEM atau tidak itu urusan kedua, pastinya ikut kegiatan diskusi hari ini memberikan manfaat yang luar biasa,  bisa dibilang sangat rugi lah yang tidak ikut, materi dimensi kemahasiswaan yang dibumbui oleh kak  Said dengan sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda, serta pandangan terhadap generasi atau pemuda hari ini, memancing untuk mengangguk dan berkata “iya di’,”. Membangkitkan gelora untuk tetap optimis memperjuangkan cita-cita yang diingikan oleh kaum terdahulu yang rela berkorban jiwa raga demi bangsa ini.  Walau hari ini, wajarlah kita pesimis dengan keadaan, tapi setidaknya kita masih pantas optimis dengan masih adanya orang-orang seperti Kak Said, dan pasti masih banyak orang seperti beliau diluar sana, InsyaAllah saya pun akan seperti beliau dan semoga pembaca sekalian pun masih memiliki ‘nasionalisme’ itu di dalam relung hati. Buatlah hari ini menjadi indah, buatlah pejuang terdahulu kita bangga melihat perjuangan kita hari ini dan buatlah bangsa ini bangga memiliki kita.

SELAMAT HARI PAHLAWAN
TERIMA KASIH UNTUK PEJUANG YANG MASIH ADA HARI INI.